
Langkah Naiyra terus terhambat sepanjang perjalanannya memasuki area kampus. Hari ini adalah hari pertama Naiyra memasuki kampusnya pasca tiga bulan cuti tak di rencana tempo lalu. Lagi, ia menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya 90°. Ia menolehkan kepalanya menatap heran wajah-wajah yang melihatnya dengan pandangan jijik.
Suasana ini membuat Naiyra merasa tidak nyaman.sangat. Namun ia harus tetap melangkahkan kakinya kedalam kampus. Naiyra melihat banyak sekali pasang mata yang memandangnya jijik. Kebanyakan dari kaum perempuan. Namun tidak dengan kaum lelaki, banyak sekali yang menatap Naiyra lapar.
Samar-samar Naiyra mendengar pembicaraan beberapa orang, pria dan wanita tengah berbincang berbisik sambil mengarahkan pandangannya pada Naiyra.
"Pstt..pstt" suara dari sepasang mata yang memberi kode pada temannya yang lain. Dan itu sukses membuat orang di sekitarnya menolehkan pandangannya pada Naiyra.
"Masih punya muka yah dia ke kampus"
"Gak punya malu tuh jalang"
Kata itulah yang telinga Naiyra tangkap. Namun Naiyra tak ingin mempermasalahkan apa yang dia dengar tadi dengan bertanya pada mereka. Naiyra masih terus melangkahkan kakinya menuju ruangan dosen. Hingga ia berpapasan dengan seorang pria yang dulu pernah di tolak mentah-mentah pernyataan cintanya oleh Naiyra di hadapan banyak orang.
flashbach
Riuh sorak para penonton bersorak gembira memberikan dukungannya pada ketua BIM yang perlahan memasuki lapangan pertandingan basket antar kampus. Ditangan pria tersebut sudah ada papan hias bertuliskan 'Naiyra, Be Mine'. team cheerleaders sudah memainkan perannya memberikan yel-yel semangat untuk ketua BIM mereka yang saat ini tengah berjuang menyatakan cintanya. Ia menumpu satu lututnya di lantai dan satu lututnya ia tekuk membentuk sudut 90°.
Tak ketinggalan, ditangan pria tersebut sudah memegang sebuah mix dan saat itu juga ia menyebut nama Naiyra yang duduk di bangku penonton untuk turun bergabung bersamanya.
"Naiyra...saat ini, detik ini juga, disini, aku akan meminta kamu...menjadi kekasihku. Will you Be mine?? Please,,, Naiyra William"
"Terima...."
"Terima...."
"Terima..."
Riuh para penonton memberikan sorakan dukungannya. Naiyra tampak bingung dan tak enak hati, tak ada raut bahagia atas pernyataan yang baru saja ia terima. Sedangkan sang pria yang diketahui bernama Damar tengah berdebar menanti jawaban atas pernyataan cintanya. Dipandanginya Naiyra lekat-lekat. Sorot matanya menunjukan sebuah pengharapan. Naiyra tak tega melihatnya. Tapi ia juga tidak bisa membalas perasaan pria dihadapannya dengan perasaan yang sama. Sungguh, Naiyra hanya menganggapnya teman. Daan saat seperti ini, disaat ia diminta menjadi miliknya, dihadapan banyak orang membuat Naiyra benar-benar merasa tidak enak hati untuk menolaknya.
"Bisa tidak memberikan aku waktu untuk menjawabnya" pinta Naiyra. Ia akhirnya mengajukan sebuah tawaran kecil. Tawaran yang akan membuat pria dihadapannya ini terhindar dari rasa malunya.
Ya,,
Sudah pasti Naiyra akan menolaknya secara halus.
Damar menggeleng. "Yes or No"
Naiyra menggigit kecil bibirnya. Ia tak ingin mempermalukan Damar dengan penolakannya. Namun naiyra juga tak mungkin memaksakan dirinya menerima cinta yang Ia sendiri tak memilikinya untuk Damar.
"No, Damar. I'm so sorry" ucap Naiyra meringis. Ia benar-benar telah membuat perasaan Damar hancur saat ini.
plashbackoff
"Baby...kenapa dulu sok jual mahal sih, kamu. Eh !!! Kamu emang mahal sih" ucap Damar saat ia berpapasan dengan Naiyra.
Naira memicingkan matanya "apa maksud kamu??"
"Aku bisa bayar kamu 3x lipat dari mereka yang udah booking kamu, asal malam ini kamu datang ke apartemen aku, gimana??!" tawar Damar. Naiyra memandang tajam pada netra coklat Damar. Naiyra mendekat. Damar menelan ludahnya saat membayangkan langkah Naiyra yang gemulai. Dalam pikiran Damar saat ini, Naiyra begitu menggairahkan. Dan....
Plak !!!
Satu tamparan mendarat sempurna di pipi kiri Damar hingga ia menolehkan wajahnya kearah kanan. Hilang sudah semua yang ia bayangkan tadi. semua terganti dengan pedasnya rasa tamparan Naiyra di pipi mulusnya. Damar memegangi pipinya yang terasa panas, ia melihat Naiyra dengan penuh senyum licik. Ditariknya tangan Naiyra hingga tubuh Naiyra sudah berada dalam jarak yang cukup dekat dengan tubuh Damar.
"Jangan pernah berfikir akun akan datang menyerahkan diriku pada bajingan seperti kamu" ucap Naiyra penuh emosi.
Damar tersenyum sinis "Semua orang di kampus ini tahu, bahwa kamu itu cuma seorang jalang. Tidak ada gunanya bersikap munafik" timpal Damar.
Naiyra mengepalkan kedua tangannya. Nafas di dadanya sudah bergemuruh menahan rasa sesak mendengar berita yang baru saja dia dengar. Pantas saja semua pasang mata yang ia lihat hari ini memandangnya penuh hina.
"omong kosong" ucap Naiyra.
Tak mengindahkan Damar lagi, Naiyra berlalu begitu saja melanjutkan langkahnya pada tujuan awalnya.
__ADS_1
Tok..tok..Naiyra mengetuk pintu ruang dosen.
"Masuk" terdengar nada perintah dari dalam. Naiyra membuka pintu dan masuk mendekat pada meja kerja dosen.
"Duduklah. Ini yang harus kamu kerjakan untuk mengejar nilai yang tertinggal." Ucap dosen tersebut.
Naiyra mengangguk. Ia membaca sekilas lembaran tugas yang akan ia kerjakan. Setelah itu ia berpamitan. Namun, baru saja ia bangkit dari duduknya sebuah pertanyaan nyalang terdengar di telinganya "Naiyra, saya harap isu yang beredar dalam kampus itu tidak benar"
Naiyra tersenyum miris pada dosen dihadapannya, mengerti arah pembicaraan yang saat ini tengah di utarakan sang dosen. "apa bapak percaya, saya orang yang seperti mereka ucapkan dan fikirkan?" Alih-alih menjawab, Naiyra justru memberi pertanyaan balik pada dosen pembimbingnya.
"Kamu lebih tahu jawabannya. Saya hanya tidak ingin, berita ini mempengaruhi nilai kamu" Jawa sang dosen.
Neiyra mengangguk mengerti "saya, paham pak. Saya mohon undur diri, permisi"
Naiyra mengusap wajahnya gusar setelah berada diluar ruang dosen. Ingatannya akan tatapan jijik semua orang yang ia lihat hari ini di kampus sejujurnya membuat hatinya lelah. Pasalnya saat ini ia sedang berusaha melupakan peristiwa kelam yang hampir saja menjerumuskannya pada jurang kenistaan. Tapi saat ia sudah merasa bisa sedikit melupakan, kenapa selalu saja ada yang mengingatkannya pada peristiwa naas itu, bahkan lebih.
Naiyra mengatur pernafasannya dengan cara menghirupnya dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan. Sedemikian ia mengatur pernafasannya sebelum ia melangkahkan kakinya meninggalkan kampus Royal.
Telinga Naiyra menangkap banyak sekali omongan-omongan yang membicarakannya dalam setiap langkahnya. Ia mencoba menulikan telinganya saat ini. Mengabaikan pasang mata yang mengarah kepadanya dan berlalu begitu saja. Benar-benar mengabaikan mereka saat ini.
Jika kalian mengira Naiyra sudah menjadi wanita tegar, kalian salah.
Ia hanya sedang mati-matian menyembunyikan rasa sedihnya dengan menunjukan ekspresi datar dan dingin.
Ia menangis, hanya saja air matanya masih bisa ia bendung. Ia terluka saat ini. Bahkan sangat.
Berkali-kali Naiyra meghirup napasnya dalam. Menahannya sejenak dan menghembuskannya. Mencoba meredakan Isak di dadanya.
Batinnya menangis...
Hatinya meringis...
Rasa sesak itu ternyata belum berlalu. Efek samping dari badai itu masih menyisakan puing-puing yang berdampak pada kepingan hati yang tersisa. Membuatnya kembali hancur sedemikian rupa. Bahkan lebih parah dari sebelumnya.
"Naiyra..." Errina datang dan langsung memeluk sahabatnya. "Berita itu gak bener,kan...kenapa ada berita itu, Naiy...?? Lu harus kasih gue penjelasan"
"Maaf, udah gak cerita. Gue cuma gak mau mengingat kejadian saat gue di culik dan di jual ketempat prostitusi itu" jelas Naiyra.
Errina terkejut bukan main. Ia tak menyangka Naiyra akan mengalami hal demikian. Ia memang tahu Naiyra pernah di culik, namun ia tidak tahu jika sampai menjadi korban penjualan manusia. Hatinya saat itu juga mengutuk Ferro yang menjadi dalang di balik semua penderitaan Naiyra.
Errina menangis mendengar cerita Naiyra selengkapnya dari Naiyra. "Semua pasti akan berlalu. Gue akan selalu ada di samping lu. Gue percaya sama lu, Naiy"
"Udah,, jangan nangis. Gue aja gak nangis kok. Lu jelek banget sih kalau lagi mewek" ledek Naiyra.
Errin tersenyum dalam tangisnya. Kenapa jadi dia yang di hibur. Harusnya ia yang menghibur Naiyra saat ini,bukan.
"Ck...setidaknya gue lebih ekspresif dari pada lu saat ini" kata Errin.
Ekspresif...Naiyra hanya menanggapi kata itu dengan senyum smirknya. Ia memang berlindung di balik sikap dinginnya saat ini. Berusaha mengebalkan perasaannya dari rasa sakit mendengar cemo'ohan banyak orang. Ia tak ingin lagi terlihat terpuruk dalam rasa sakit di dadanya.
Menikmati rasa sakit hanya akan membuatnya berakhir menyedihkan.
"Oh ya, Naiy..Gavin nunggu lu di parkiran" ucap Errin. Menyadarkan lamunan Naiyra.
"Dia,,,disini".
Errina mengangguk mantap "buruan temuin dia" Errina mendorong tubuh Naiyra untuk segera pergi menemui sepupunya, Gavin.
"Vin..." Panggil Naiyra. Gavin menoleh,tersenyum hangat menatap Naiyra. Tanpa berkata apapun, ia membukakan pintu mobil. Memberi isyarat pada Naiyra untuk Menyuruh Naiyra segera masuk dalam mobil.
Naiyra melangkah, masuk dalam mobil. Gavin menutupnya dan melangkah memutar tubuhnya masuk dalam kemudi. Gavin melajukan mobilnya meninggalkan area kampus.
"Heum..kita mau kemana, Vin??" Tanya Naiyra. Ia akhirnya angkat bicara saat Gavin tak juga mengeluarkan kata-katanya.
__ADS_1
"Nanti juga kamu tahu"
Hanya itu. Dan setelahnya suasana kembali menjadi hening. Mereka berdua larut dalam keterdiaman masing-masing. Naiyra dengan segala pertanyaan di benaknya dan Gavin dengan isi kepalanya saat ini.
"Kita sudah sampai" ucap Gavin. Ia membuka seat belt lalu keluar. Ia juga membukakan pintu mobilnya untuk Naiyra.
"Vin...ini..."
"Gimana....bisa bikin perasaan kamu tenang, kan" Gavin memandang wajah Naiyra dari samping.
Naiyra memandang takjub panorama di hadapannya. Hamparan hijau yang memanjakan matanya memang terbukti membuat perasaannya menghangat. Gavin sungguh tahu apa yang Naiyra butuhkan saat ini. Ia hanya tidak menyangka, Gavin akan membawanya kepuncak bukit seperti saat ini.
"Terima kasih" Naiyra menoleh.
Untaian rambut yang melayang karena terpaan angin membuat Naiyra terlihat sangat mempesona dengan senyum cerah di wajahnya. Gavin mendekat. Tangannya secara alamiah terulur. Menyelipkan untaian rambut Naiyra kebelakang telinganya. Gavin langsung menarik tangannya canggung setelah sadar apa yang di perbuatannya. Sedangkan Naiyra, jantungnya seakan sedang meluncur jatuh dengan cepat dari tempatnya berdiri saat ini,,mendebarkan.
"Maaf". Dengan canggung Gavin berucap.
"It'a okay" jawab Naiyra.
Suasana kembali hening dalam kecanggungan. Mereka berdua begitu menikmati maha karya sang pencipta. bahkan, Mata Naiyra tak jemu memandang hamparan hijau dihadapannya. Enggan untuk kembali. sedangkan Gavin, ia merasa puas bisa membuat suasana hati Naiyra kembali menghangat. Ia berharap, semoga setelah ini Naiyra bisa menjadi sosok yang lebih kuat dari sebelumnya.
"aku gak tau bagaimana jadinya kalau kamu gak ajak aku kesini, Vin". ucap Naiyra. Matanya masih memandang jauh ke depan saat ia berkata demikian.
"kamu selalu tahu bagaimana menenangkan hatiku" sambung Naiyra.
Naiyra menoleh kearah Gavin. Pandangan mereka bertemu. Saling mengunci.
"apa...." Gavin menjeda.
"apa...aku--boleh menjadi--sandaran kamu" sambung Gavin. Pandangan mereka masih saling mengunci.
"Aku mencintai kamu, Naiyra"
🥀🥀🥀
Bersambung,,,
**Saya selaku penulis mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1440 H, BAGI SELURUH UMAT MUSLIM DI DUNIA. Semoga kebaikan dilimpahkan pada kita semua, baik muslim atau non muslim.
aamiin....
------------------------------------------------------------------------**
**loha...
ada yang kangen sama Naiyra...
maaf. baru bisa up date.
aku jelasin deh kronologinya...
akibat mati listrik...mati juga tuh jaringan kartu di ponsel aku. jadi gak bisa up...
setelah normal...
eehh---akunya yang drop.
meriang, tensi darah tinggi.
udh pasti puyeng.
ywdh, break dulu nulisnya.
__ADS_1
gituu deh. Ceritanya...
please like dan komen'y kalau kalian respect sama cerita aku kali ini....**