I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
Baiknya seperti apa?


__ADS_3

wajah bosan terlihat jelas di wajah cantik Naiyra pagi ini. Janji temu dengan Errin pada jam 09.00 pagi ini nampaknya lagi-lagi menjadi jam karet. Sudah 30 menit Naiyra menunggunya di cafe Amor ini. Kebiasaan Errin yang satu ini memang tak pernah berubah sejak awal mereka berteman. Tiga gelas hot chocolate sudah kandas dalam gelas. Bahkan satu porsi roti bakar pun sudah tak bersisa di piringnya. Tapi Errin belum juga menampakkan batang hidungnya.


'mana sih kunyuk satu itu'. Batin Naiyra menggeram. Rasa jengkel sudah berada diujung kepalanya. Nampaknya ia sudah tidak bisa menunggu Errin lebih lama lagi. Ia lalu memanggil seorang pelayan dan meminta Billing tagihan. Namun sebelum pelayan tadi kembali membawa total yang harus ia bayarkan, tiba-tiba Gavin duduk di hadapannya. Naiyra yang sedang menyeruput air putih pun menjadi tersendat dan batuk.


"kamu,,," ucap Naiyra. Gavin tersenyum kikuk.


"maaf, aku yang menyuruh Errin untuk membuat janji dengan kamu. Karena kamu sulit sekali di hubungi, Naiy".


Naiyra membuang wajahnya kesamping. Tak ingin matanya melihat netra hitam Gavin yang sendu. Wajah pucat dengan Bulu halus yang terdapat disekitar rahang terlihat jelas menandakan ia tak merawat penampilannya. Bahkan setelannya yang kusut dengan rambut yang berantakan membuat siapa saja bisa menilai jika dia tidak memperhatikan dirinya sendiri. Naiyra tak mengira, satu bulan berlalu semenjak Ia di bawa menghadap Adijaya sudah berhasil membuat penampilan seorang Gavin Narendra terlihat---Mengenaskan.


"Baiknya kamu dengarkan papah kamu, Vin" ucap Naiyra. Matanya masih enggan menatap mata Gavin. Gavin menggeleng. Kemudian, kembali menatap wajah Naiyra lekat-lekat. tak menyangka kata itu akan keluar dari mulut kekasih hatinya. Tidak kah Naiyra tahu apa yang sudah ia lakukan agar tetap bisa bersamanya. Termasuk menentang segala keinginan sang ayah yang ingin melihat mereka berpisah. Tidakkah Naiyra tahu, selama satu bulan ia terus berusaha meyakinkan sang ayah akan pilihan hatinya. Memperjuangkan hubungan mereka agar mendapat restu. Bisa-bisanya Naiyra berkata demikian disaat ia masih berjuang penuh disini.


"Apa kamu sanggup jauh dari aku" Tanya Gavin. Rasanya ia ingin membeberkan segala serentetan usahanya hingga detik ini untuk meyakinkan sang ayah. Tapi tidak. Dengan Naiyra tak berani menatap matanya saja sudah bisa di pastikan bahwa ia juga tak menginginkan perpisahan.


"itu keinginan ayah kamu, Vin" sahut Naiyra. Tak menjawab pertanyaan Gavin. Gavin hanya tidak tahu, betapa ia sakit mengatakan itu. Namun kata itu terbayarkan dengan penyangkalan Naiyra secara tidak langsung.


"lalu...apa yang kamu inginkan sekarang?".


mendengar pertanyaan itu membuat Naiyra merasa mendapat tantangan. Tantangan untuk sebuah tanggung jawab atas jawaban yang akan ia ucapkan. Jika Naiyra berkata untuk menjauh, Ia sendiri pun merasa tidak akan bisa jauh dari Gavin. Jika Naiyra menjawab untuk tetap tinggal, sama saja ia seperti memisahkan anak dari orang tuanya. Karen Naiyra tahu betul, Gavin akan tetap pada pilihannya, yaitu dirinya.


"aku hanya ingin yang terbaik bagi semuanya, Vin." jawab Naiyra.


"Beritahu padaku, baiknya seperti apa??" tanya Gavin.


Naiyra bingung sendiri. Mulai bimbang dengan penuturannya di awal pembicaraan. Apakah dengan menyuruhnya mengikuti keinginan sang ayah adalah jalan terbaik?. Atau terus saling bersama tapi bertentangan dengan orang tua??


"beri tahu aku Naiyra,,,baiknya Seperi apa??" ulang Gavin. Menuntut pertanyaan serupa yang hanya dibalas dengan kebisuan Naiyra. Lama berkutat dengan pikirannya, Naiyra tak menyadari Gavin yang sudah berpindah duduk dari tempatnya kesamping Naiyra. Naiyra terkejut saat kedua tangannya di genggam erat oleh Gavin. baru sadar Gavin sudah duduk disampingnya.


"Vin,,ak--aku.."

__ADS_1


"ssttt...jangan lagi mempersulit diri sendiri. Biarkan semua berjalan apa adanya. Kita hanya perlu bertahan." ucap Gavin. Ia merangkul Naiyra kedalam pelukannya. sembari Mencium pucuk kepalanya.


Benar apa yang Gavin katakan. Biarkan semua berjalan apa adanya.


"udah ketemu niih solusinya. please deehh...Drama banget sih kalian." Errina di sambut dengan tisue yang sudah di gulung sedemikian rupa hingga membentuk bola kecil. dan itu tepat mengenai hidungnya yang mancung "iyuww..."


"Thanks Rin...lu emang the best jadi sepupu gue" ucap Gavin pada Errin. Errin hanya tersenyum bangga sambil merapihkan kerah bajunya. "gue gitu looh ..."


"makan yukk .. laper nih" Gavin dan Naiyra saling berpandangan. Rencan jahil dari keduany sudah menanti Errin saat ini. sementara Errin dengan percaya dirinya ia duduk sambil meraih buku menu lalu memilih-milih makanan apa yang akan dia pesan. Matanya masih memandang daftar pilihan menu dan mulutnya masih mengeluarkan ocehannya. Entah pada siapa?? Faktanya Naiyra dan Gavin mengendap keluar dari Cafe Amor tanpa disadari Errina.


"Loh !!?" Heran Errin saat ia sudah mengangkat kepalanya. "sialan kalian berdua...ninggalin gue sendiri. Mana masih ngoceh gue...bisa disangka orang gila gue ngoceh sendirian" gerutunya di depan seorang writers. Beberapa orang yang ia lihat sudah menyunggingkan senyum geli kepadanya. Errina jadi malu pada pelanggan cafe yang memperhatikan dirinya.


----


Gavin dan Naiyra tak hentinya tertawa walau mereka sudah berada di parkiran. Bisa di bayangkan wajah Errin yang menggeram karena rasa kesal sekaligus malu.


"Nona.." Tawa mereka berdua terhenti kala Justin menghampiri mereka. Naiyra bahkan hampir saja melupakan keberadaan Justin yang menjadi supirnya saat ini.


"oh Iyah jus...masih terlalu pagi untuk mu kembali. Kau temani saja Errin yang sedang kesal di dalam."


"Baik nona. Saya permisi"


Justin melangkah masuk. Sedangkan Naiyra dan Gavin berjalan menuju parkiran. Tanpa Naiyra ketahui, Justin berbalik kembali kala mobil yang Gavin kendarai sudah melaju meninggalkan Cafe Amor. Justin bahkan tidak sempat bertemu dengan Errina lantaran tugas utamanya saat ini tak hanya menjadi supir pribadi sekaligus bodyguard'nya.


"kita mau kemana, Vin??" tanya Naiyra. telinganya asik mendengarkan sebuah lagu yang Gavin putar.


"apartemen" Jawab Gavin singkat. Tatapannya masih fokus memandang kearah jalan.


'apartemen' ulang Naiyra dalam hati.

__ADS_1


"kerumah teman kamu??" tanya Naiyra.


"Apartemen aku" Gavin menoleh dan memberikan senyumnya.


Apartemen Gavin cukup jauh dari kampus ataupun kediaman Stevano. terbukti, butuh waktu satu jam untuk tiba disana. Lantai teratas dari hunian elit di kawasan Etta Park. Apartemen yang dibangun dengan sangat luas dan megah untuk kelas atas.


"woaahh...besar sekali" ucap Naiyra kala berada di dalam hunian Gavin saat ini. "Tapi,,,kenapa kamu pindah kesini?". Naiyra penasaran.


Gavin tidak langsung menjawab. Ia mendekati Naiyra yang sedang menggerakkan jarinya, meraba segala properti yang terdapat dalam apartemen Gavin. "ehh !!" Nairha terkejut saat dua tangan melingkar erat di perutnya. Dipundaknya sudah ada kepala Gavin yang bersandar. "Naiyra. Ayo, kita menikah secepatnya"


🥀🥀🥀


Halo.........


yang kangen Naiyra...unjuk jari kalian !!!


maaf yaahh...lama banget baru bisa up. dan gak bisa panjang lebar bikin ceritanya. biasanya aku bikin satu episode 2000-3000 kata.


tapi kali ini....


maap banget 😢 aku cuma bikin 1000 kata.


ada beberapa tugas kuliah yang harus aku kelarin dulu.


jadi.....Jangan lupa like dan komen kalian yah...


tinggalkan jejak kalian sebagai tanda semangat buat aku.


karena salah satu yang membuat aku semangat buat pengen cepet-cepet up date itu adalah jejak kalian dalam setiap episod ceritaku. 😉

__ADS_1


daadaaahh.......!!!!


__ADS_2