I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
Sudah saatnya


__ADS_3

"hai justin....senang bisa melihatmu kembali" Naiyra menyapa Justin yang sedang membersihkan mobil yang akan di gunakannya mengantar Naiyra ke kampus.


"Selamat pagi nona. Berangkat sekarang"? Naiyra mengangguk.


Ia lalu duduk di kursi penumpang. Senyum cerahnya tak juga pudar sejak ia bangun tidur tadi. Dalam benaknya kini di penuhi dengan memory ciumannya dengan Gavin. 'Ahh...ternyata tidak buruk untuk seorang pemula.' seperti itulah kiranya.


Dari kaca tengah Justin terus memperhatikan. Sesekali melihat Naiyra dari kaca tengah sembari fokus menyetir. "Anda terlihat sangat bahagia, nona. Apa ada hal baik terjadi"? Justin memberanikan dirinya bertanya.


Naiyra masih asik dengan dunianya sendiri. Mengabaikan Justin.


"Nona" panggil Justin.


"Hah?? Kau bilang apa, Justin??


"Tidak ada. Lupakan saja" Naiyra hanya menjawab 'oh' lalu kembali melihat pemandangan jalan dari kaca mobilnya sat ini.


Rasanya percuma berbicara pada orang yang raga dan pikirannya tidak dalam satu tempat yang sama. Sepertinya membiarkan Naiyra mengekspresikan rasa senangnya merupakan pilihan yang bagus. Walau ia sebenarnya ingin tahu faktor utama nonanya terlihat bahagia di pagi hari ini.


Sesampainya Naiyra di kampus, ia melihat Gavin tengah menunggunya di depan kampus. Bersandar pada pintu mobilnya. Naiyra tersenyum melihatnya. Ia melambaikan tangannya kala pandangan mereka bertemu. Justin mengikuti arah pandang Naiyra. Lalu turun hendak membukakan pintu mobilnya untuk Naiyra.


Belum sampai Justin pada pintu mobil, Naiyra sudah lebih dulu membukanya. Tak menghiraukan Justin. Ia melaju begitu saja menghampiri Gavin. Justin masih terus memperhatikan punggung Naiyra hingga ia sampai di hadapan Gavin. Justin melihat Gavin memeluk Naiyra. Mencium kening, kedua pipinya, lalu mengecup bibirnya sekilas. Kini ia tahu apa yang membuat nonanya tak berhenti tersenyum sepanjang perjalanan.


Setelah itu Justin melajukan kembali mobil yang ia kendarai keparkiran. Sebenarnya Naiyra dan Gavin berniat kembali menghampiri Justin. Namun Justin sudah lebih dulu melajukan mobilnya. Naiyra terlambat menghampiri. Maka ia mengirim pesan singkat pada Justin.


From Naiyra:


Jus...Tidak usah menjemput ku, aku akan pulang bersama Gavin.


Gavin dan Naiyra memasuki area kampus dengan beriringan. Sepanjang perjalanan Gavin menggandeng Pinggul Naiyra. Menunjukan kepemilikannya. Pada setiap orang yang berpapasan dengan mereka berdua. Dan Naiyra sama sekali tidak risih.


"Tunggu sebentar, aku akan membaca pesan balasan dari Justin" ucap Naiyra pada Gavin. Gavin mengangguk. Tak melepaskan rangkulannya pada Naiyra.


From Iced jus:


Baik, nona.


Naiyra tersenyum melihat pesan balasan dari Justin. Tanpa Naiyra tahu, Justin tidak benar-benar membiarkan pandangannya jauh dari Naiyra. Ia masih terus memantau keamanan Naiyra tanpa ia ketahui. Justin juga belum sepenuhnya percaya kepada Gavin. Nona mudanya saat ini hanya sedang di mabuk asmara. Ia tak akan bisa waspada terhadap Gavin. Tapi tidak dengan Justin. Ia akan melihat sejauh mana sisi dari seorang Gavin Narendra.


Sesuatu bisa saja terjadi tanpa di duga bukan!!.


"Babe,,,honey...." Panggil Gavin.


"Y-ya"


"Heyy,,,kau kenapa, heum??" Tanya Gavin.


"Hmm...aku hanya tidak terbiasa dengan panggilan itu" jujur Naiyra. Gavin tersenyum. Ia memaklumi.


"Kau lebih suka panggilan yang mana??"


"Entahlah. Semua masih terdengar asing bagiku" jawab Naiyra.

__ADS_1


"Bagaimana jika aku panggil, Honey?? Seperi Daddy mu memanggil mommy mu. Bukankah kata itu tidak asing" ucap Gavin. Naiyra tampak berfikir kemudian menjawab "terserah kau saja".


langkah mereka terhalang oleh Errina yang saat ini sudah ada dihadapan mereka Di hadapan mereka ada Errina yang menghampiri. Ia memandang Naiyra dan Gavin bergantian. Dengan tangan yang dilipat didepan dadanya.


"Pemandangan apa ini??? Coba kasih gue penjelasan" ucap Erin datar.


Gavin dan Naiyra berpandangan, lalu tersenyum. Gavin menurunkan tangan kanannya yang memeluk pinggang Naiyra. Berganti menggenggam tangan Naiyra lalu menunjukannya pada Errina.


Errina menaikan kedua alisnya sekaligus melihat sepasang genggaman tangan terkepal kearahnya. "Kalian,,,jadian??"


Keduanya mengangguk. Errina terkejut.


"Seriously" tanyanya, masih tidak percaya. Lagi-lagi Naiyra dan Gavin hanya mengangguk.


"Kasian benget sih gue...." Seketika ekspresi Errin berubah menjadi--sok sedih.


Naiyra tertawa senang melihat kelakuan sahabatnya. Sangat menggemaskan.


"Cep,,,cep,,,cep,,,jangan nangis yah. Ntar juga dapet pacar lagi" doa Naiyra.


"Ish....kau ini...jitak juga nih..." Ucap Errin.


Errina geram mendapat doa seperti itu dari Naiyra. Mau dikemanakan kekasihnya nanti jika ia mendapat pacar lagi. Sampai kapanpun ia tak akan pernah mengkhianati kekasihnya.


🥀🥀🥀


Sepulang dari rumah sakit, Aland terus memandang wajah sang istri tercintanya yang saat ini terlelap dalam tidurnya. Melihatnya banyak tersenyum saat sedang tidur bisa Aland tebak. Widya saat ini tengah bermimpi indah. Di elusnya puncak kepala Widya. Lalu mencium keningnya dalam. Pandangannya beralih pada perut Widya yang sudah mulai membuncit. Aland tersenyum. Lalu mencium perut itu juga. Betapa banyak sekali pengharapan yang terjadi setelah Naiyra masuk dalam keluarga Stevano.


Aland rasa, bukan.


Usai melihat keadaan istrinya. Aland kembali keruang kerjanya. Disana sudah ada Mike dan Mark yang menunggu.


"Kau lama sekali." Cibir Mike. Walaupun secara garis besar Aland adalah ketua mereka, namun hubungan Aland dan Mike lebih dari kata keluarga.


"Ada masalah di Italia. Dikabarkan Beberapa bandit lokal mulai membentuk perkumpulan untuk melawan kelompok kita" lanjut Mike.


Alan menaikan satu alisnya. Seolah meremehkan. Yang benar saja. Masalah kecil seperti ini saja harus ia laporkan.


"Kau tahu bukan, apa yang harus kau lakukan. Mengurusi masalah itu saja kau harus sampai pergi kesana. Untuk apa kau memiliki anak buah." Aland bersandar pada kursi kebesarannya. Satu kakinya sudah ia angkat dan letakan di atas lututnya. Sembari jari tangannya memutar-mutar pena yang ia pegang. Pandangannya lurus mengarah pada Mike.


"Itu karena mereka di ketuai oleh kelompok Darkness. Musuh bebuyutan kita. Aku harus bergerak cepat untuk itu sebelum kekuatan mereka bertambah besar dan mengancam kelompok kita." Jelas Mike, bicara yang sebenarnya terjadi.


Mendengar kata Darkness, tanpa berpikir panjang Aland langsung merubah intonasi suaranya. "Segera pergi dan musnahkan kelompok mereka tanpa ada sisa." Titah Aland adalah mutlak Begi Mike dan Mark. Mike mengangguk. Setelahnya ia dan Mark pamit undur diri.


Jangan di kira karena Aland sudah berpindah ke Indonesia lantas ia tidak aktif mengurusi kelompoknya di Italia atau Mexico. Aland masih sanggup memantau kelompoknya agar tetap terorganisir. Mulai dari pantauannya tentang Membeli berbagai macam senjata, obat-obatan, atau yang lainnya. Semua masih dalam pengawasan Aland. Aland mampu menjalankan ketiganya. Sebagai Ketua mafia, pemilik rumah sakit dan pemilik sebuah perusahaan besar yang sudah memiliki cabang di berbagai negara. Aland mampu mengontrol semuanya.


Memikirjan kerajaannya saat ini, ia teringat pada Naiyra yang saat ini tengah ia latih untuk menjadi wanita tangguh. Ia rasa sudah saatnya ia menceritakan segalanya pada Naiyra. Selama ini yang Naiyra tahu ia adalah pemilik dari sebuah rumah sakit besar di Bogor dan pemilik perusahaan yang belum lama ia ketahui. Hanya dunia mafia yang tidak Naiyra ketahui.


Aland mengambil ponsel pintarnya yang tergeletak tak jauh di hadapannya. Mendial tombol cepat dan menghubungi Naiyra.


"Apa kuliahmu Saudah selesai, sayang??" Tanya Aland dalam sambungan telepon.

__ADS_1


"Sudah dadd" jawab Naiyra.


"Pulanglah sekarang. Langsung temui dadd di ruang kerja. Ada yang harus Daddy bicarakan dengan mu" terang Aland.


"Ya, dadd" Naiyra menjawab.


Sambungan telepon pun terputus.


Setelah menunggu kurang dari satu jam, Naiyra datang bersama dengan Gavin. Aland mempersilahkan mereka duduk.


"Ada apa dadd?? Sepertinya serius sekali" ucap Naiyra.


"Ya, begitulah. Pertama dadd ingin bertanya. Apa yang kau ketahui sejauh ini tentang Daddy??"


Kening Naiyra mengkerut. Pandangannya beralih pada Gavin. Gavin mengangkat kedua bahunya.


"Dadd seorang ayah yang baik, dadd orang baik dan penuh kasih sayang... Tunggu dulu, kenapa tiba-tiba menanyakan itu??" tanya Naiyra. ia mendadak jadi penasaran.


"Heum..seperti itu rupanya. Bagaimana jadinya jika dadd bukan orang baik. Dadd seorang yang sangat kejam dan tanpa belas kasih." Naiyra semakin bingung dengan arah pembicaraan Aland. Sementara Aland, dengan wajah keseriusannya memandang Naiyra. Menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya.


"Om..." Ucap Gavin. Ia mengerti jalan pikiran Aland saat ini. Kearah mana pembicaraannya akan berlabuh. Aland melirik kearah Gavin. Dengan ekspresi datar dan dinginnya. Seketika Gavin bungkam melihatnya. Ia tak menyatakan kata-katanya lagi. Takut.


"Dadd tetap Daddy ku. Tidak ada yang berubah walaupun kenyataannya berubah" jawab Naiyra.


Alan tersenyum senang. Apa Naiyra akan berkata hal yang sama jika ia menceritakan segalanya saat ini juga.


"Dadd akan menceritakan satu rahasia besar Daddy. Selama ini yang kau ketahui adalah Daddy seorang dokter ahli bedah dan pemilik rumah sakit besar, bukan??"


Naiyra mengangguk.


"Tentang Daddy yang memiliki perusahaan, baru kau ketahui belum lama ini juga, bukan??" Lagi, Naiyra hanya mengangguk sebagai jawaban 'ya'.


"Satu lagi sisi Daddy yang belum kau ketahui. Dadd adalah ketua mafia yang terorganisasi di Italia dan Mexico." Kali ini Naiyra melongo. Pernyataan Aland tak bisa ia cerna. Mafia......


Seriously..??


Naiyra tidak percaya itu..


"Dadd,,apa ini prank?? Sungguh tidak lucu." Ucap Naiyra. ia bahkan sudah tertawa garing. Aland tidak menjawab. Hanya memandang Naiyra lekat. Menunjukan keseriusan ucapannya. Naiyra menelan ludahnya. Melihat raut wajah Aland, bisa dipastikan bahwa daddynya ini dalam mode serius.


"Rupanya dadd serius yah.....ya Tuhan.. aku tidak percaya ini" sarkas Naiyra.


"Sudah aku katakan tadi, bukan. Dadd tetap Daddy ku. Terlepas Daddy apa, siapa dan bagaimana, itu tidak mempengaruhi keadaan saat ini, bahwa dadd adalah Daddy terbaik untukku" Naiyra memberikan senyum tulusnya. Alan sumringah dengan jawaban Naiyra yang konsisten. Gavin yang sedari tadi menjadi pendengar ikut menghembuskan nafas leganya.


"Dan satu lagi, dadd ingin melatih mu lebih keras lagi?? Latihan ini akan sangat berguna untuk dirimu sendiri nantinya."


"Lebih keras...lagi???" Tanya Naiyra.


"Ya, sejauh ini dadd sudah melihat perkembangan mental kamu. Kau pulih lebih cepat dari yang Daddy pikirkan" ucap Aland.


"Apa maksud dadd, aku tidak mengerti situasi ini--melihat perkembangan...bisa dadd jelaskan lebih rinci lagi???" Pinta Naiyra. Ia memang tidak mengerti.

__ADS_1


Dan Aland hanya memberikan senyumnya. Tidak menjawab rasa penasaran Naiyra.


__ADS_2