I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
Melawan


__ADS_3

"Maka lakukanlah, Vin." Sambar Naiyra. Gavin menggeleng keras. Bersamaan dengan itu, pintu kamar Widya terbuka. Menampakan Mike, Mark dan Justin yang masuk lebih dalam.


🥀🥀🥀


Naiyra berjalan menghampiri ketiganya. Mendekat pada Mark, menggandeng tangannya dan menuntunnya keluar dari kamar Widya. Mark yang tidak tahu menahu mengapa Naiyra menariknya, hanya pasrah mengikuti langkah Naiyra.


Ada raut kesedihan yang Widya tangkap dari wajah Gavin kala mendengar Naiyra mengatakan hal yang tidak bisa ia lakukan.


"Naiyra hanya tidak ingin, karena dirinya hubungan mu dan ayahmu menjadi renggang" ucap Widya. Gavin menoleh. Tersadar Widya berbicara kepadanya. Ia Mengangguk dan tersenyum "aku tahu"


"Apa kau akan melakukan seperti yang ayahmu katakan???" Ucap Widya kembali.


"Itu bagus jika kau melakukannya. Anak ku tidak perlu bersaing" timpal mike. Rupanya ia mengetahui permasalahan Gavin dengan ayahnya.


Gavin menatap Widya "Saya permisi dulu" lalu berjalan keluar meninggalkan kamar Widya. Ia rasanya butuh menenangkan dirinya sejenak. Menjernihkan dan mendinginkan otaknya agar mampu bekerja efektif dalam menemukan solusi yang tepat.


Tak lama ia teringat akan kabar yang anak buahnya kirimkan lewat email. Ia lalu mengecek email dari ponselnya. Membuka email yang dikirim orang kepercayaannya. Sebuah data beserta foto sang reporter terpampang secara terperinci.


Tak hanya itu, Gavin juga meminta riwayat dari orang itu sampai hal yang paling privasi sekalipun. Kali ini Gavin bertindak tanpa campur tangan Mike di dalamnya.


"Om.." Gavin berpapasan dengan Alan yang baru saja kembali setelah mengantar dokter Anita hingga muka pintu.


"Apa kau ingin pulang" tanya Aland.


Gavin menggeleng "Aku akan pergi kesuatu tempat terlebih dahulu."


"Tidak perlu. Orang ku sudah membereskan reporter itu." Ucap Aland.


Gavin melongo. Pergerakan Aland ternyata jauh lebih cepat dari Mike saat bertindak. Tidak salah jika ia menjadi ketua mafia. Gerak geriknya tidak bisa terbaca. Baru satu jam yang lalu ia menerima kabar itu dari surat kabar, berarti kurang dari satu jam ia bahkan sudah bisa membereskan reporter itu.


Yang menjadi pertanyaan dalam benak Gavin saat ini adalah 'apa yang Aland lakukan pada reporter tersebut kali ini?! Apakah sama dengan kekejaman dan kebengisan Mike dalam bertindak. Atau lebih parah dari itu???'


"Tapi, om..." Entah apa lagi kata yang harus Gavin ucapkan. Semua terasa sudah di tarik oleh pernyataan Aland.


"Naiyra akan pergi ke kampus siang ini. Justin akan mengawasinya dari kejauhan, karena aku ingin melatih mental Naiyra terlebih dulu. Jika Justin bersamanya, ia akan berpikir memiliki kakak yang akan selalu melindunginy." Terang Aland.


"Tapi Naiyra akan semakin sakit, om" timpal Gavin, khawatir.


"Justru itu, aku akan melatih mentalnya terlebih dahulu tanpa ia sadari. Berhati-hatilah dijalan" Alan melangkah kembali menuju lantai tiga dimana kamarnya berada. Meninggalkan Gavin yang masih berdiri mematung diambang pintu.menyesali dirinya yang lagi-lagi selalu lamban dalam menyelesaikan masalah.


Tanpa Gavin sadari, dari sudut lantai dasar, mata Naiyra memperhatikan Gavin dan Aland Walau ia tak bisa mendengar pembicaraan diantara mereka.


"Susul dia jika kau peduli" ucapan Mark membuat Naiyra menoleh, tersenyum miris.


"Aku hanya akan membuat masalah untuknya" sahut Naiyra.

__ADS_1


"Apa kau mencintainya??" Sebuah pertanyaan yang Naiyra sendiri bingung harus menjawabnya bagaimana.


Naiyra langsung kembali menoleh, pandangan matanya menatap lekat mata biru Mark. "Akui saja" sambung Mark.


Naiyra tidak menjawab. Diam seolah membenarkan. Kakinya melangkah menuju taman lantai dasar, duduk di pinggiran kolam renang. Mark mengikuti. Ikut duduk di tepi kolam dengan kedua kaki yang ia celupkan kedalam air kolam.


"Kau tahu, Mark. Saat pertama kali kita bertemu. Kau tampak sangat dingin. Kau memandangiku sangat dalam. Hingga akhirnya aku pergi atap rooftop hingga aku tertidur di atas kursi kayu yang ada disana, lalu kau datang, menyingkirkan anak rambut di wajahku, aku tahu saat itu kau menciumiku" Naiyra menoleh pada Mark. Mark masih diam mendengarkan kelanjutan cerita Naiyra. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman kala ia mengingat moment tersebut.


"Itu adalah ciuman pertamaku,,rasanya sangat mendebarkan, tapi setelah itu, debaran itu tidak aku rasakan lagi. Tapi dengannya, jantungku berdetak hebat hanya dengan menatap matanya, Mark. Aku tidak tahu apakah ini disebut cinta."


"Itu berarti hatimu memilihnya. Oh God....you make me so sad, Naiyra." Ucap Gavin dengan suara dibuat murung dan eskpresi seperti anak kecil yang merajuk.


Naiyra mencubit kedua pipi Mark sambil menggelengkannya "kau luucu sekali Mark..."


"Tapi itu tidak membuatmu menyukaiku" murungnya.


"Sikap apa itu....kau ini" Naiyra meninju pelan otot lengan Mark.


Mark tersenyum senang melihat Naiyra sudah bisa dengan mudah berinteraksi dengan lawan jenis. Ia berharap semoga tak hanya padanya saja Naiyra bisa mendekatkan dirinya. Ia kecewa, perasaannya ditolak bahkan sebelum ia mengutarakannya.


"Aku ada kelas siang ini...sebaiknya aku bersiap" Naiyra bangun dari duduk silanya. Meninggalkan Mark yang sepertinya masih enggan beranjak dari duduknya di tepian kolam. Saat langkah Naiyra sudah cukup jauh, ia menolehkan. Kembali Memperhatikan Mark yang memunggunginya.


'maaf Mark. Aku hanya ingin jujur padamu dan pada diriku sendiri' ucap Naiyra dari posisinya saat ini. kemudian kembali melangkah hingga masuk kedalam kamarnya.


🥀🥀🥀


Siulan para lelaki di lingkungan kampusnya seolah melucuti harga diri Naiyra. Di tambah dengan tatapan sama pasca situs sialan itu tersebar dan ditambah berita yang semakin beredar luar setelah koran tempo lalu beredar, terlihat jelas menimbulkan perubahan yang sangat drastis. Jika sebelumnya banyak yang menatapnya jijik, kali ini lebih dari sebelumnya.


Langkah Naiyra di hadang oleh dua orang gadis. Salah satu dari mereka bahkan mendorong salah satu pundaknya. "HEH !!! Jalang, masih punya muka lu kekampus."


Tubuh Naiyra mundur beberapa langkah, bahkan buku ditangannya sudah berpindah tempat berada atas pijakan kakinya. Naiyra membereskan bukunya yang tercecer di atas lantai, namun sebuah kaki menginjak salah satu buku Naiyra hingga ia kesulitan meraihnya.


"Minggir" ucap Naiyra.


Tak mengindahkan ucapan Naiyra, gadis itu justru memelintir buku Naiyra dengan kakinya. Naiyra meradang, emosinya meluap. Naiyra meletakan buku yang sudah berhasil ia bereskan diatasi lantai, kemudian memegang pergelangan kaki gadis itu, Naiyra menariknya kuat hingga gadis itu terjungkir kebelakang mengenai teman wanitanya.


Mereka berdua terjatuh di lantai. Meringis. Aksi Naiyra rupanya menarik perhatian banyak mahasiswa lainnya. Mereka mendekat. Berkerumun membentuk lingkaran, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sambil menyaksikan pertengkaran sengit Naiyra dengan kedua gadis yang entah dari mana asal mulanya.


Setelah Naiyra selesai membereskan bukunya, ia berdiri. Kembali melangkah sebelum akhirnya mundur kembali dua langkah, melihat kedua gadis yang masih membersihkan dirinya dari kotoran debu sambil berkata "if you don't know who i'm, don't judge me. Ingat itu."


Setelahnya mata Naiyra menatap tajam pada orang-orang yang mengerumuninya. Memberikan penjelasan tak langsung pada mereka yang menonton dirinya saat ini.


Dari kejauhan, rupanya Justin merekam kejadian yang saat ini di lihatnya. Ia tersenyum melihat Naiyra yang mulai bisa membela dirinya. Ia hampir saja menampakan dirinya saat Naiyra di bully. Tapi ketika melihat Naiyra sanggup membela dirinya sendiri, ia mengurungkan niatnya.


Justin lalu mengirimkan hasil rekamannya pada Aland. Ia juga kembali mengajukan dirinya menjadi supir pribadi Naiyra karena dirasa kondisi Naiyra sudah lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


Naiyra sudah tiba dalam kelasnya hari ini. Saat ia masuk kedalam kelas, suasana yang semula riuh, mendadak menjadi hening saat melihat kedatangannya.


"Wuihhh...artis kita sudah datang rupanya" usap salah satu dari mereka.


"Kasian Gavin..."


"Boleh kali gue icip-icip..."


"Makanan keleeesss..."


"Ahahaaahhhhaaaa....." tawa seisi kelas.


Seperti itulah kiranya cemoohan mereka. Naiyra duduk di kursi depan. Mengabaikan ucapan itu bagai angin lalu. Dari arah luar nampak Errin yang datang begitu cepat pasca lari maratonnya. Terlihat dari Nafasnya yang bergerak cepat.


"Errina...mending lu jauhin dia deh,, tar lu jadi korban, seperti Gavin."


"Awas nanti ketularan". "Hahahaha..."


"Jangan-jangan lu juga sama yah, kaya tuh orang,, jalang"


Naiyra menggebrak meja menggunakan kedua tangannya. Tak masalah mereka menghinanya sedemikian rupa, ia bisa tahan. Tapi jika mereka sampai ikut menghina orang-orang yang Naiyra sayang, maka Naiyra tak lagi bisa berdiam diri. Ia akan melawan siapa saja yang mengusik orang yang ia sayangi. Errina Paris salah satunya. Sahabatnya disaat dalam keadaan apapun, kapanpun dan dimanapun. Errina selalu akan ada disampingnya.


Naiyra berdiri, menghampiri seorang wanita yang baru saja menyindir Errina. Errina hanya diam melihat pergerakan Naiyra. Ia tahu Naiyra akan membuat perhitungan pada mulut sampah mereka.


Plak !!!


Benar saja. Naiyra menampar keras wanita itu begitu jarak mereka saling berhadapan, sangat dekat. Wanita itu meringis. Hendak membalas "dasar jalang, berani lu nampar gue" wanita itu melayangkan tangannya, namun tak berhasil mendaratkan tamparannya di pipi mulus Naiyra, Naiyra berhasil menghalau tangan wanita itu.


Wanita itu meringis untuk kedua kalinya saat Naiyra mencengkeram tangannya kuat. "Silahkan kalian mau menghinaku sedemikian rupa, aku tidak masalah. Tapi tidak dengan orang-orang terdekat ku" dihempaskan ya tangan wanita itu.


"Dengar, kalian tahu Naiyra tapi tidak dengan kebenarannya. Jadi, jangan lagi asal mengeluarkan ucapan sampah dari mulut kalian" ucap Errina pada sebagian penghuni kelas hari ini.


Naiyra keluar. Moodnya sudah hilang dengan kejadian hari ini. Jika bukan karena mengingat ucapan Aland, mungkin saat ini ia akan kembali berteman dengan depresinya.


Naiyra merasakan sulitnya berperang melawan dirinya sendiri saat ini. Melawan rasa pedih di hatinya, melawan pandangan hina masyarakat yang bergejolak dalam dirinya. Ia harus melawan semua kecemasan, rasa sakit, segala sesak, rasa malunya, kesedihannya dan terlebih lagi dari depresinya.


"Lu ngapai ada disini??" Tanya Errina yang entah sejak kapan ada di sampingnya.


"Apa lagi...ikutan bolos atuh,,,emang lu doang yang bisa, gue juga mau laaah..." Jawab Errin.


"Ck..Dasar !!!" Mereka berdua terkikik geli.


"Btw...thanks yah, harusnya gue yang belain lu, ini kenapa malah kebalik yah" Errin menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Naiyra tertawa, membenarkan ucapan Errin.

__ADS_1


🥀🥀🥀


Bersambung,,,


__ADS_2