I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
petunjuk


__ADS_3

Bibir Gavin membentuk satu lengkungan kecil. Tersenyum sinis kepada dirinya sendiri. Merutuki kebodohannya sendiri.



'mengapa penyesalan selalu saja datang terlambat' batinnya bermonolog.





🥀🥀🥀





Justin tengah menghadap Aland yang sudah duduk di ruang tamu. Tangannya dilipat tepat di depan dadanya. Kakinya kanannya sudah di tumpuk melipat diatas kaki kirinya. Matanya menyalang tajam menghunus kearah Justin. Justin hanya tertunduk. Menerima tatapan marah Aland atas kelalaiannya.



Sedang Gavin dan Mark hanya diam. Tak berani ada yang membuka suaranya.



Saat Naiyra kembali tenang dan lelap tertidur Alan tak membuang waktunya untuk mengintrogasi Justin dan semua yang ada di jangkauan tatapan matanya kini.



Justin menelan ludahnya susah payah dalam ketegangan. Jangankan Justin, bahkan Gavin dan Mark saja tak berani menengadahkan kepalanya. Alan membuang nafasnya berat. Mencoba meredam amarahnya dan berfikir rasional.



"Apa aku harus mencari tahu sendiri detil kejadian ini" nada dingin Aland sama dengan raut wajahnya saat ini. Dan itu sangat menyeramkan di mata dan telinga Justin.



"Nona--mengunci diri dari dalam--tuan. D- Dan orang itu-- membobol jendela yang terhubung kesamping rumah" terang Justin masih dalam kegugupannya.



"Benar, om" Aland seketika itu juga melirik tajam ke arah Gavin. Gavin tertunduk kembali. Menghindari tatapan aland. Gavin hanya ingin membuktikan ucapannya pada Justin, membantunya menjelaskan pada Aland.



"Mark mungkin tidak ada saat penculikan Naiyra, tapi kau, Gavin. Kau yakin tidak ada yang terlewatkan dari penangkapan mu?" Tanya Alan serat kekecewaan.



Gavin menegakkan kepalanya, memandang Aland "Semua sudah aku bereskan, om. Termasuk Mr. Ben yang membuat Naiyra terbaring di rumah sakit" terang Gavin.



"Apa diantara kalian ada yang melihat atau mengetahui ciri-ciri dan petunjuk lainnya" pandang Alan satu persatu. Mereka tampak melihat satu sama lain lalu kompak menggeleng. Aland nampak kesal. Sialnya ini di Indonesia. Ia tak sebebas bergerak saat ia berada di Italia atau Mexico.



"Apa aku terlalu lembek padamu Justin hingga aku harus selalu memberi arahan setiap kali kau harus bertindak"



Alan menegakkan kepalanya matanya membulat menatap Aland dan menggeleng keras "tidak tuan, maafkan saya. Semua akan saya lakukan"



"Pergilah. Laksanakan. Aku tidak ingin tahu. Dalam satu jam kau harus sudah mendapatkan informasi" Alan menekan di setiap kata-katanya. Justin menelan ludahnya susah payah. saat ini Alan terlihat sangat menakutkan di matanya.



Mark terasa merinding mendengar penekanan Aland. Baru kali ini ia melihat sisi Aland yang lain. Selama ini ia melihat Aland adalah sosok yang hangat, perhatian, penuh kasih sayang dan juga lembut. Tapi lihat saat ini,,,ia bahkan seakan tidak mengenali Aland. Dingin, menusuk dan terlihat keji.



Selama ayahnya mengabdi pada Aland, ia tidak pernah melihat sisi Aland yang seperti ini. Dari nadanya saja ia sudah terdengar sangat bengis. Ia heran mengapa ayahnya bisa bertahan lama berada di sisinya.



kurang satu jam Justin sudah kembali menemui Aland yang masih bersama dengan Gavin dan Mark.



"Tuan" Justin membungkuk di hadapan Aland. Ia menyerahkan map coklat di hadapan Aland. Aland membukanya. Disana ia mengeluarkan sebuah foto dari dalam map tersebut. Lima foto seorang lelaki dengan jaket kulit hitam tebalnya dengan hoddy yang menutupi kepalanya dan memakai masker warna senada tengah mendekat kearah rumah Naiyra.



Berdasarkan dari apa yang Justin dapat saat melacak melalui kamera lalu lintas, ia mendapati pria difoto ini yang menjadi kandidat kuat sebagai tersangka.



Bukan tanpa alasan Justin mengambil kesimpulan itu. Fakta yang di rekam CCTV, memperlihatkan hanya orang itu yang berjalan mendekat kesamping rumah Naiyra. Sialnya ia tak melihat jelas wajah si pelaku karena ia tertutup rapat oleh apa yang ia kenakan. Ia bahkan tidak melihat kearah kamera. Seakan ia tahu dimana letak semua kamera berada.



Cerdik sekali bukan.



"Hanya ini" Alan mengangkat lembaran foto-foto ditangan kanannya keatas "ini bahkan tidak bisa di jadikan petunjuk. Yang benar saja,,," Alan menyandarkan kembali punggung tubuhnya pada sandaran kursi.



"Hanya itu yang saya bisa dapat, tuan." Terang Justin.



"Bisa saya lihat, om? Ucap Gavin. Aland memberikan semua foto di tangannya pada Gavin. Gavin meneliti setiap foto yang ada. Mark juga ikut mengamati semua foto tersebut.



"Bukan berarti foto ini tidak berguna om" ucap Gavin.



"That's right, uncle." (Itu benar, paman) kata Mark.



Alan memicingkan matanya. Apa yang tidak bisa ia lihat dari foto tersebut?. Atau rasa pening yang sudah memburamkan matanya hingga Ia tidak jeli dalam mengamati semua foto tersebut.



"Apa yang kalian dapat dari foto orang itu"



Gavin dan Mark saling berpandangan di iringi senyuman kecil "Coba uncle perhatikan, ini seperti tatto" ucap Mark menunjuk tanda hitam di bawah telinga kanan orang itu.



"Benar, dan jika foto itu di zoom melalui komputer, aku yakin kita bisa memiliki petunjuk" terang Gavin.



"Dad,,,," belum selesai pembicaraan mereka, Naiyra terbangun dan mencari Aland. Aland segera menghampiri Naira. Begitupun dengan yang lain.



"Ya, sayang. Daddy disini. Tenanglah" Aland sudah duduk di samping Naiyra. Merangkul pundaknya dan mengelus lembut. Naiyra hanya diam kali ini. Tidak seperti sebelumnya. Keadaannya saat ini bisa dikatakan sudah jauh lebih baik.


__ADS_1


"Aku ingin pulang dad" Naiyra mendongak, menatap wajah Aland. Aland mengangguk. Ia memerintahkan Justin untuk menyiapkan mobil.



Naiyra sendiri rupanya sudah berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Tanpa di ketahui siapapun, Naiyra sudah beberapa kali menemui ahli terapis. Ia sadar, untuk tidak ingin menenggelamkan dirinya lebih dalam kedasar rasa trauma. Bagaimanapun ia ingin menjalani hidupnya. Ia tak ingin terus menerus membebani keluarga Stevano dengan kondisinya saat ini.



Dengan di jadikan bagian dari Stevano saja sudah sangat beruntung. Terbebas dari kesepian, lepas dari kesulitan hidup dan mendapat limpahan kasih sayang yang berlimpah suatu anugrah bagi Naiyra saat ini. Ia tak ingin keadaan dirinya membebani mereka lebih banyak lagi.



Dan hal ini yang bisa Naiyra lakukan.



Sekuat tenaga dan sebisa mungkin melawan dirinya sendiri. Melawan rasa traumanya sendiri.



Mobil sudah terparkir di depan teras rumah. Tidak banyak yang Naiyra bawa, sama seperti saat ia datang ke rumah ini. Ia hanya membawa semua berkas penting milik kedua orang tuanya. Selebihnya tidak ada yang dia bawa.



Sementara,,,,



Seseorang dari kajauhan memperhatikan kepulangan Naiyra bersama keempat pria di sekelilingnya menggunakan sebuah teropong. Tatapannya datar. Ekspresinya dingin. Memperhatikan satu orang berambut pirang yang saat ini terus ia lihat memalui alat yang ia tempelkan dikedua matanya, Naiyra.



"Baby..Baby...saat aku tahu kau berasal dari sana, aku dengan senang hati membeli mu, berapapun hargamu dan mengurumu sepanjang hari di dalam kamar" ia memperhatikan foto Naiyra yang terdapat dalam galeri ponselnya.



"Maafkan aku yang terlambat menjemputmu. Tapi kali ini aku akan membawamu pergi dari sana, bagaimanapun caranya."



Pria itu lalu menaiki mobilnya dan pergi dari gedung lantai dua yang selalu menjadi tempat favoritnya.





🥀🥀🥀



#kediaman Stevano, 13.40pm.




Marlyn menyambut kedatangan mereka di depan pintu rumah Megah Aland dengan senyum hangatnya. Naiyra langsung berhambur memeluk Marlyn "Oma" sapanya memberinya kecupan kecil di pipi kanannya "Hay, sayang" sahut Marlyn. Setelah itu Naiyra berlari kecil untuk segera menemui Widya.



"Mom, aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu" Aland dan Marlyn saling menatap. "Masuklah" alih-alih bertanya, Marlyn mempersilahkan mereka masuk kedalam. Keempatnya melangkah mengikuti Marlyn menuju ruang keluarga.



"Apa mom mengenali orang ini" Aland menunjukan satu foto yang mereka duga sebagai tersangka.



Marlyn menggeleng "tidak. Orang yang mommy bayar untuk membuang Naiyra bukan orang ini. Keduanya berkulit sawo matang, sedangkan orang ini memiliki kulit yang putih" Marlyn memperhatikan leher dan tangan orang yang berada dalam foto yang ia pegang.



Marlyn mengetahui semua yang terjadi ketika Aland menceritakannya sebelum ia berangkat menemui Naiyra di Jakarta.




"Aku juga, uncle" ujar mark.



"Di mana ayah mu, Mark" tanya Aland saat memberikan satu foto pada Mark.



"Aku belum menghubungi dadd, jadi aku tidak tahu, uncle" jawabnya jujur.



Ahh, kenapa ia bisa lupa jika Mark bersama mereka selama dua hari ini.



"Aku akan bergerak dengan caraku, dan kalian. Lakukan apapun yang kalian bisa untuk orang itu" ucap Aland.



"Daddyyy.......Daddy..." Naiyra datang dengan nafas tengenggal Enggal.



Seketika semua mendadak diserang kepanikan. Mereka bangkit dari duduknya dan segera berlari kesumber suara Naiyra yang berada di lantai paling atas



"Ada apa, sayang?? Aland panik. Nafas Marlyn pun terlihat memburu karena lelah berlari di tangga.



"Mom, mom,,"Naiyra tak bisa meneruskan kata-katanya. Alan bergegas masuk kedalam kamarnya dan mendapati Widya tengah memeluk perutnya. Widya meringis menahan sakit, wajahnya bahkan sudah menjadi pucat.



"Ya Tuhan,, Widya" Marlyn menjerit panik. "Apa yang terjadi, Naiy" tanya Marlyn.



"Sepertinya Perut mommy tiba-tiba menjadi kram, Oma" jelas Naiyra. Matanya sudah berkaca-kaca.



"Mark, siapkan mobil. Aku akan membawa istriku ke rumah sakit. Justin, Kau dan Gavin tetap disini, jaga Naiyra."



"Aku ingin ikut, dadd,," lirih Naiyra. "Tetaplah disini, sayang. Dadd akan memberi kabar"



Naiyra gusar dari tempatnya. Sudah dua jam berlalu dan daddynya belum juga memberikan kabar mengenai kondisi Widya. Ia tak Takan lagi. Menunggu dengan perasaan cemas tanpa kepastian kabar, membuatnya tidak bisa berdiam diri lagi.



"Kau mau kemana?" Tanya Gavin. Naiyra terkejut. Ia lupa akan keberadaan Gavin. Pikirannya dipadati oleh Widya yang belum diketahui kabarnya bagaimana.



"Justin, antar aku ke rumah sakit" Gavin menghela nafasnya. Rupanya Naiyra masih ingin menjaga jarak dengannya.


__ADS_1


"Naira, tetaplah disini" pinta Gavin.



"Dan menunggu seperti orang tidak waras karena rasanya seperti mau gila." Sambar Naiyra menyela ucapan Gavin. Nafasnya sedikit memburu karena rasa kesal sedari tadi menunggu. Gavin hanya diam, ia paham apa yang Naiyra rasakan saat ini. Ingin sekali ia bisa memeluk Naiyra dan memberinya ketenangan. Tapi, bukan pelukan yang Naiyra butuhkan saat ini, melainkan sosok Widya yang berada dalam pandangannya.



"Aku akan mengantarmu" ucap Gavin.



Naiyra baru saja turun dari mobil Gavin. Ia terburu-buru mendatangi bagian resepsionis untuk menanyakan kamar inap Widya. Setelah mendapatkan informasi, Naiyra bergerak cepat menuju kamar inap Widya. Ia bahkan lupa pada Justin dan Gavin yang sejak tadi bersamanya.



"Mom...." Naiyra membuka kamar inap Widya begitu saja. Widya tersenyum melihat kedatangan Naiyra. Ia merentangkan kedua tangannya dan Naiyra langsung menyambut tangan itu dan memeluknya erat.



"Kau pasti khawatir" Widya mengelus sayang rambut pirang Naiyra.



Alan pun melakukan hal yang sama "maaf daddy tidak langsung memberimu kabar"



"tidak apa dadd" Naiyra menjawab tapi tidak melepaskan pelukannya dari Widya.



Widya meregangkan pelukannya dan menangkup wajah Naiyra dengan kedua tangannya "terimakasih, karena kesigapan mu dan gerak cepat Daddy mu hingga mommy dan adik mu dalam keadaan baik saat ini. Tidak ada yang perlu di khawatirkan"



"Kau membuatku takut, mom" ucap Naiyra. Ia merasa lega saat ini.



"Apaa,,mommy berhasil" tanya Widya.



"Hah" Naiyra tampak tidak mengerti. Aland dan Mark hanya mendengar interaksi mereka. Tak lama Gavin dan Justin tiba di ambang pintu. Menyimak percakapan ibu dan anak yang tampak serius.



"Mana yang lebih kau takuti?? Rasa takut Melihat mommy seperti tadi atau rasa takut yang kau rasakan pada dirimu sendiri."



Sepi. Semua yang ada menjadi bisu dalam diam. Menanti jawaban apa yang akan Naiyra ucapkan pada Widya.



"Aku lebih takut melihat mommy seperti tadi,,,"



Widya menyambar ucapan Naiyra sekilat mungkin. "Maka dari itu. Bangkitlah Naiyra William Stevano. Buang rasa takut mu. Rasa takut membebani keluarga atau apapun itu yang kau tuju untuk dirimu sendiri dan pemikiran konyolmu itu. Buang rasa takut itu dan rasa trauma mu, lawan sekeras yang kau bisa,,kami menyayangimu, sangat. jadi jangan berfikir takut jika kau hanya menjadi beban untuk kami" Widya menggenggam erat kedua tangan Naiyra. Menyalurkan semangat dan dukungannya.



Naiyra terharu, pikirannya terbuka lebar saat ini, apa yang dikatakan Widya benar, dia harus membuang semua rasa takut dan traumanya.



"Iya, mom,,,iya" Naiyra tersenyum dalam tangisnya "sayang kalian" ucap naiyra



"Kami lebih menyayangimu" Aland melangkah mendekat, merangkul Naiyra dan Widya dalan pelukannya.



Lengkungan senyum terukir indah di wajah Gavin, Mark dan Justin.



"Son,,," Mike tiba dengan Regina bersamanya. Ia baru saja mendapat kabar mengenai Naiyra dan Widya dari Marlyn. Da mereka langsung menuju rumah sakit.



"Aland" sapa Mike.



"Mike, kita bicara di luar" Mike mengangguk paham. Aland dan Mike sedikit menjauh dari yang lainnya.



"Apa kau baik-baik saja?" Mike menepuk pundak Aland. "Ya" jawab Aland singkat.



"Well,,,Sepertinya, tidak"



"Huftt...." Aland menghembuskan nafasnya. "Aku benci bermain drama." Ucapnya lagi. Mike terkekeh.



"Aku akan segera membereskannya" kata Mike.



"Heum...aku serahkan semuanya kepadamu. karena Aku akan melatih Naiyra selama satu bulan ini"



Mike menaikkan satu alisnya "Kau yakin."



"Ya, aku akan membuat Naiyra menjadi wanita yang tangguh." Tekad Alan sangat bulat saat ini.



Mike sempat menyimak percakapan keluarga sahabatnya ini. "Istrimu luar biasa, kawan. Pantas saja kau begitu menggilainya" Alan tersenyum mendengar Mike berbicara.



"Dan aku memang sedang gila saat ini karena tidak bisa menyentuhnya." bibir Aland mengerucut. membuat Mike merasa jijik melihatnya.



Dan tawa Mike pecah. Sahabatnya ini sungguh sangat menyedihkan. Tapi tak ada raut kekesalan dari raut wajah Aland. justru ia terlihat sangat bahagia saat ini.



"Heeyyy...Jika kau sanggup menunggu bertahun-tahun untuk seorang anak, mengapa tidak bisa menunggu walau hanya 3 bulan." Ucap Mike. Dan saat itu juga ia mendapat jitakan dari Aland.



"Aaauuwww..."rinciannya "kau ini,,kenapa menjitak ku" ringis Mike sambil mengelus bekas jitakan Aland.



"Itu berbeda. Saat itu aku tidak harus berpuasa olah raga ranjang. Dan kini aku harus menahannya". Mike kembali tertawa, kali ini lebih kencang.


__ADS_1


"Bersabarlah. Bay the way,,,selamat kawan. Setelah 20 tahun akhirnya bisa menghasilkan juga" Mike menyikut lengan Alan. Alan tersenyum bahagia.



__ADS_2