
Aku tidak mengerti arah ucapan Gavin. Tapi aku juga tidak berani bertanya. Kata-katanya yang terasa seperti sebuah pernyataan itu mampu membuatku merasa tenang. Dan, lagi-lagi Aku hanya menganggukkan kepalaku Layaknya orang yang terkena hipnotis.
🥀🥀🥀
Drrt..dertt...
Ponsel Mike bergetar, ia meraihnya dari dalam saku celana panjangnya dan melihat nama anak buahnya terpampang di layar ponsel. Mike segera mendial tombol hijau.
"Ya, bagai mana Jack???" Tanyanya ketika ia menerima sambungan tepon itu.
"Tuan, saya sudah mendapatkan data orang yang telah menyebarkan situs prostutitusi itu dan saya juga sudah melacak keberadaan orang itu melalui jaringan telepon selulernya. Saat ini anak buah saya sedang bergerak untuk menangkapnya" ucap Jack dari sebrang telepon.
"Kerja bagus Jack. Kau melakukannya kurang dari satu jam, aku akan memberikan bonus pada mu dan anak buah mu jika berhasil menangkap cecunguk itu" sahut Mike.
Nyatanya saat ini Mike kembali mengungguli Gavin dalam bertindak. Mike kembali menghubungi Gavin melalui ponselnya
"Hentikan pencarian mu, anak muda. Aku sudah menemukan pelakunya" Mike langsung saja memutus sambungan telepon tanpa memberi Gavin waktu untuk berbicara.
Tak lama Mike menerima satu notifikasi dari aplikasi WhatsAppnya. Rupanya Jack mengirim pesan lokasi mereka saat ini. Ia juga mengirimkan satu foto yang menunjukan bahwa si pelaku sudah menjadi tawanannya. Tak membuang waktu, Mike langsung melaju cepat ke lokasi yang dikirimkan Jack.
---
Byurrr.....
Satu ember air disiramkan pada seorang pria yang terduduk di kursi dalam bangunan kosong yang sudah lama tidak terpakai. Tangan dan kakinya diikat pada bagian kursi tersebut. Pria itu seketika menjadi gelagapan. Sekuat tenaga ia berusaha melepaskan ikatannya.
"Percuma saja, anak muda". Cahaya lampu dari hadapan pria itu mampu menyilaukan pandangannya pada orang yang tadi menyiramkan air.
"Siapa kau??" Tanya pria itu.
"Aku..!?? Aku Mike Jhonson" Mike menyalakan lampu ruangan tersebut dan saat itu juga wajahnya terlihat jelas dengan senyum smirknya.
"Aku tidak mengenalmu, kenapa kau menculik ku" tanya pria tersebut.
"Tapi aku tahu kau, anak muda. Ferro Michael Wardana. Benar, kan!!!"
"Kenapa kau menculik ku. Aku tidak mengenalmu dan kita tidak memiliki masalah apapun" ucap Ferro.
"Itu menurutmu" balas Mike. "Nyatanya kau sudah mencari masalah dengan ku. Tapi tenang saja, aku biasa mengatasi semua masalah tanpa masalah" sambung Mike.
"Lepaskan aku" Ferro berontak dari posisinya.
"Apa??? Bunuh aku???...baiklah, aku akan membunuhmu" goda Mike.
"Aku bilang. LEPASKAN. AKU" Ferro menekan setiap kata-katanya. Bukan Mike jika ia takut mendengar hal itu.
"Ck...teriakan mu seperti wanita saja. Apa para gay itu sudah merubah mu menjadi seorang waria??" Ucap Mike sambil membersihkan lubang telinganya dengan jari kelingkingnya.
Mendengar kata 'gay' membuat Ferro paham mengapa ia berakhir menjadi tawanan saat ini.
__ADS_1
"Sudah tahu bukan, mengapa kau ada disini saat ini"
Ferro menegang. Balas dendamnya kali ini harus berakhir kembali pada kegagalan hanya dalam satu hari. Jika kemarin ia mampu kabur dari sekelompok gay, entah balasan apa yang akan ia terima kali ini. Apakah sama seperti Aland. Yang memberikannya balasan seperti apa yang dia lakukan?.
"Apa hubunganmu dengan keluarga Stevano, aku mampu membayar mu 10 kali lipat dari yang mereka bayarkan padamu, asal kau mau berpihak padaku" tawar Ferro. Mike hanya tersenyum tanpa mau menjawabnya.
"Bagaimana???" Tanyanya kembali.
"Anak muda...apa kau tidak tahu bahwa selain ahli bedah dan pengusaha, Aland Stevano adalah ketua mafia di Italia sebelum ia menetap di negaramu ini." Jelas Mike. "Dan aku, apa kau pikir aku akan terbius pada tawaranmu di saat Aland mampu merelakan nyawanya demi aku"
Ferro menegang. Bahkan matanya nyaris saja keluar dari posisinya saat ini. Ia tak menduga bahwa dia kini berhadapan dengan seorang anggota mafia. Pantas saja mereka tak mengenal kata ampun.
"Sudah cukup basa basi kita. Sudah saatnya aku membebaskan mu" ucap Mike. Ia menyuruh anak buahnya melepaskan seluruh ikatannya.
"Terimakasih sudah mau membebaskan ku. Aku janji hal ini tidak akan terulang kembali"
Ferro tersenyum jahat mendengar kata terimakasih yang keluar dari mulut Ferro "Bebaskan dia dalam ruangan kedap suara di ruang bawah tanah."
"Apa??? Ruang bawah tanah???" Ucap Ferro.
"Ya, aku akan membebaskan mu, seperti permintaan mu. Bukankah kau minta untuk di bebaskan" Mike mananggapi santai ucapan Ferro.
Ferro memberi aba-aba pada anak buahnya untuk segera memasukannya pada ruang bawah tanah yang sudah di sediakan.
Sementara itu....
Gavin menyesali anak buahnya yang lambat 10 menit memberikan informasi mengenai pelaku yang menyebarkan berita mengenai prostitusi itu.
Yang harus ia lakukan saat ini adalah menghancurkan situs itu sebelum menyebar lebih luas lagi. Ia harus segera bertindak sebelum berita itu di ketahui oleh Naiyra.
Namun satu pemikiran melintas tajam di dalam benaknya. Ada baiknya bila ia bicara pada Naiyra mengenai fotonya yang banyak beredar luas di situs tersebut. Bukan tanpa alasan Gavin berfikir ingin memberi tahu Naiyra. Gavin hanya tidak ingin ia terlalu kaget dengan berita yang tersebar begitu ia memasuki masa kuliahnya kembali. Namun Gavin tidak ingin salah mengambil langkah. Ia merasa harus membicarakan hal ini dengan Aland. Karena apa yang akan ia ungkapkan sama seperti mengorek luka lama yang belum mengering.
Ia mengubungi Aland menggunakan telepon rumahnya.
"Halo om, posisi om dimana saat ini?? Aku ingin membahas sesuatu dengan om, mengenai Naiyra" ucap Gavin saat terhubung dengan Aland di telepon.
"Aku ada di rumah sakit, kau bisa menunggu di ruangan ku, sepuluh menit lagi aku akan melakukan operasi" sahut Aland di seberang telepon.
"Bisa, om. Aku akan menunggu di ruangan om. Aku tutup teleponnya".
---
"Hal apa yang ingin kamu bicarakan, Gavin"?? Ucap Aland begitu ia selesai melakukan operasi dan kembali ke ruangannya menemui Gavin yang sudah menunggu.
"Aku pikir, sebaiknya kita memberitahu Naiyra mengenai berita yang sudah tersebar di kampus, om. Agar ia tidak terlalu terluka dan bisa mempersiapkan dirinya saat ia dengar ada banyak orang akan membicarakannya di kampus. Jika Naiyra tahu begitu saja saat dia mulai kembali kuliah, saya khawatir, kepercayaan dirinya akan melemah dan ia akan kembali pada masa depresinya, om." Ungkap Gavin. Keputusannya bicara pada Aland memang dirasa sangat tepat. Bagaimana pun ia adalah wali Naiyra saat ini.
Aland tampak diam memikirkan sisi baik dan buruknya dari gagasan Gavin yang baru saja diutarakannya. Banyak sekali hal buruk yang sudah Naiyra alami sejak orang tuanya yang meninggal dan pindah dari tempat asalnya kedalam keluarga Stevano. Bisa jadi hal yang lebih berbahaya dari sebelumnya dialami oleh Naiyra bila ia menjalani kehidupannya seorang diri.
"Aku tidak setuju".
__ADS_1
Tiba-tiba Mark muncul dan menyela ucapan yang akan keluar dari mulut Aland. Rupanya ia sudah mendengar percakapan Alan dan Gavin saat akan mengetuk pintu ruangan Aland.
"Kau mencuri dengar pembicaraan kami rupanya" kata Gavin.
"Tidak sengaja, saat aku akan mengetuk pintu itu" tunjuknya dengan ibu jari pada pintu yang ada di belakangnya.
"Kenapa Mark, apa kau punya saran lain?? Tanya Aland.
"Aku ingin membawa Naiyra ke Amerika. Biarkan ia melanjutkan kuliahnya di sana. Aku berjanji akan menjaganya, uncle"
Mendengar itu Gavin langsung saja menolehkan pandangannya pada Mark. Mark tidak boleh membawa Naiyra kemanapun. Ia tidak bisa jauh dari Naiyra. Bagaimanapun Naiyra harus selalu dalam jangkauannya. Apa jadinya jika Naiyranya jauh darinya...
Pandangan Mark beralih dari Aland kepada Gavin. Ia melihat rona terkejut dari wajah Gavin. Tapi semua demi Naiyra, demi menjaga hatinya agar tidak kembali merasakan rasa sakit dan sesak. Sudah cukup penderitaan Naiyra selama kurang dari dua bulan ini. Jika ditambah dengan terdengarnya berita seperti ini, itu seperti menggali luka lebih dalam lagi untuk Naiyra. Dan Mark tidak bisa melihat itu. Tapi lagi-lagi semua keputusan ada di tangan Aland. Gagasan siapa yang akan dia pakai nantinya??. Alan masih diam memikirkan perkataan keduanya.
"Aku sudah berjanji pada ayah mu Mark, aku akan membuat Naiyra menjadi wanita yang tangguh. Aku rasa ide dari Gavin aku anggap sebagai langkah awal agar ia lebih bisa menguatkan hati dan mentalnya kelak. Tapi bukan berarti aku akan mengabaikan saran mu. Aku akan membicarakan hal ini pada putriku, biarkan dia yang memutuskan langkah mana yang akan dia ambil. Ide dari mu atau ide dari Gavin" ucap Aland.
Mark dan Gavin pamit undur diri setelah mengutarakan perihalnya masing-masing. Tak ada obrolan antar keduanya selama dalam perjalanan meninggalkan rumah sakit. Dan itu berlangsung hingga mereka tiba melewati area kantin rumah sakit.
"Ingin minum kopi dulu dengan ku??" Tawar Mark. Ini adalah pembicaraan mereka setelah keluar dari kantor Aland.
Gavin menganggu dan memejamkan matanya sekilas "baiklah, ayo..."
Masih dalam keadaan diam mereka melajukan langkahnya masuk kedalam sebuah kedai. Mereka duduk di dekat jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan hiruk pikuk jalan raya.
Mark mengangkat satu tangannya, melambai memanggil salah satu pelayan yang tak jauh dari tempat duduk mereka. Pelayan itu memberikan mereka buku menu dan menunggu pesanan mereka untuk di catat. "Silahkan"
"Aku pesan satu ekspresso dan roti bakar, kau pesan apa, Gavin? Ucap Mark pada pelayan itu dan beralih tanya pada Gavin.
"Iced Americano saja" pinta Gavin pada pelayan itu.
"Baik, tunggu sebentar" ucap pelayan itu meninggalkan mereka berdua.
"Apa ayahmu sudah kembali??" Tanya Gavin.
Ia jadi teringat akan urusannya dengan Ferro. Bagaimana kali ini Mike akan memberikan hukuman pada Ferro. Gavin ingin tahu, ia berharap Mark mengetahui segalanya dan memberitahunya apa yang terjadi pada keduanya.
Mark menaikan satu alisnya "aku tidak tahu". Sahutnya dengan mengangkat bahu.
"Kau tahu apa yang ayahmu lakukan pada sahabatku" tanya Gavin. Ia masih berharap Mark memberitahu segalanya pada Gavin.
Lagi, Mark mengkerut kan keningnya "sahabat" Mark tersenyum smirk mengulang kata sahabat yang Gavin ucapkan.
"Mungkin ia sudah dikubur hidup-hidup, ayahku tidak suka berbelit-belit" jawab Mark santai.
Obrolan mereka terhenti ketika seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka.
Gavin tak lagi bicara. Ia memandang lekat wajah Mark. Kali ini Gavin berharap Mark hanya sedang mengeluarkan leluconnya. Hingga ia tak harus mendengar kata kejam seperti itu lagi. Namun pikirannya salah saat ia tak melihat kebohongan dalam sorot mata Mark ketika tatapan Gavin terbalaskan.
🥀🥀🥀
__ADS_1
Bersambung,,,