
#Naiyra
"hosh...hosh..." Nafas ku berhembus cepat. Aku segera duduk kala mimpi itu kembali hadir. Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhku. Aku menekuk kedua lututku. Memangku tanganku di sana. Jemari ku membenahi rambut yang berantakan dan basah oleh keringat.
Aku menyibakkan selimut tebal yang aku kenakan. Duduk di tepi kasur lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air minum. Di tengguknya air tersebut hingga tandas tanpa sisa.
'lagi-lagi mimpi buruk' batin ku dalam hati.
Sudah satu Minggu pasca kepulanganku dari rumah sakit. Selama itu pula aku kerap bermimpi buruk. Bayang-bayang tubuhku yang di hantam bertubi-tubi nyatanya tak pernah enyah dari ingatanku
"Baaabbyyy" nama yang pria paruh baya itu ucapkan padaku saat dirinya memutariku masih ku ingat dengan jelas, seolah kejadian itu baru kemarin aku alami.
Ku lihat bekas luka jahitan di paha kiri ku mengingatkan ku saat pria itu menusuknya hingga membuat sayatan panjang mendekati lutut ku.
Aku mengusap lengan ku kali ini, goresan-goresan seperti sayatan masih sedikit membekas. Itu mengingatkan ku saat pria paruh baya itu menyayatnya seolah ia sedang menguliti seekor binatang.
Aku tak hanya menerima tamparan dan pukulan saat aku menolak keras tubuhnya yang ingin menyentuh ku. Kemurkaannya kian menjadi saat aku mencoba menusuknya dengan pisau lipat bagian dari gunting kecil yang di berikan Maya kepadaku.
Aku berhasil menusuknya. Namun ternyata aku menusuknya bukan pada bagian yang Fital. Ia berhasil mengelak. Dengan kasar tangan kanannya menggenggam lenganku. Tangan kirinya berkali-kali mendarat keras di kedua pipiku. Ia mendorongku hingga terjerembab. Menendang perutku, menjambak rambutku dan terus memberikan pukulannya padaku. Ia mengambil alih benda itu dari tanganku.
Dan,,seperti inilah hasil karya pria paruh baya itu. Si Tua Bangka psikopat.
Huft.....aku meraih ponselku di dekat bantal. Mengecek notifikasi. Banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab.
Apa aku tidur seperti mayat?? Ataukah pengaruh obat yang aku minum Hingga tak mendengar handphone ku berbunyi...
Entahlah ...
45 pesan. 72 panggilan tak terjawab. 5 email. Dan beberapa pesan suara.
Aku membuka satu persatu pesan.
Errin : Naiyyy.....mau gue teminin gak??
Errin : pizza.. niih..pizza...
Errin : tugas kampus se'abrek. Gila !!! Stress gue..stress...aaaaaaaaaaaaaaakkkkk!!!!
Errin : lagi ngapain sih lu, kunyuk. Bales wuooyyy....baless....hayati kuezel niihh...
Pesan dari Errin cukup menghiburku. Aku terhibur membaca semua pesan darinya. Aku kembali membuka log panggilan di ponselku. 55 panggilan tak terjawab dari Errin dan 20 panggilan tak terjawab dari beberapa nomer tidak di kenal.
Aku menautkan keningku melihat banyaknya nomer tidak dikenal.
Drrrtt..derrrttt... Errina's Call....
Aku menekan tombol hijau dari layar ponselku. Menempelkannya di telinga kananku.
"Heeyyy....kunyuk!!!" Teriaknya dari seberang telepon. Aku menjauhkan ponsel dari jangkauan telingaku. Tak lama aku kembali menempelkannya di telingaku.
"Gue tunggu 30 menit dari sekarang di cafe Cosmic" Tut...Tut ..Tut...
"Errina sialan memang. Seenaknya mematikan sambungan telepon begitu saja. Lihat saja nanti. Akan aku jitak kepalamu" aku menumpahkan ocehan ku pada ponsel yang aku genggam.
Rasanya malas sekali keluar dari kamar ini. Aku masih merindukan kamarku ini setelah lebih dari satu bulan aku tinggalkan.
Ceklek !! Pintu di buka. Mommy memasuki kamar ku.
"Bagai mana tidur siang mu??" Tanya mommy
"Sama saja mom" jawab ku. Mommy duduk di sebelah ku. Aku bersandar pada mommy.
"Mommy kok keluar kamar sih...mommy kan gak boleh banyak bergerak. Aku gak mau terjadi apapun pada mommy dan adikku." Oceh ku pada mommy. Mommy tersenyum.
Mommy mengelus sayang kepalaku. "Apa mimpi buruk datang juga di siang hari, hmm" mommy bertanya tanpa mengindahkan ocehanku. Aku mengangguk.
"Mandilah. Seseorang menunggumu di bawah" Aku menegakkan posisiku. Melihat wajah mommy "siapa mom??"
"Kau akan tahu nanti" mommy beranjak dari duduknya dan meninggalkan ku.
Segera aku masuk dalam kamar mandi dan membersihkan diriku.
Setelah 39 menit aku selesai dengan ritual mandi ku. Rasanya segar sekali. "Astaga". Aku menepuk keningku dengan telapak tanganku. Aku lupa bahwa ada seseorang yang tengah menungguku di bawah. Dengan asal aku mengambil pakaianku dan memakainya secepat mungkin.
Tanpa berdandan dan setelan pakaian yang ala kadarnya, aku menemui seseorang yang di sebut mommy...
"Mark" ucapku saat jarak aku dengannya hanya tinggal beberapa langkah.
"Oh, hai.." sapanya. "Aku selalu menjenguk mu ketika di rumah sakit, tapi matamu terus saja terpejam. Aku senang saat ini kau bisa melihat ku"
Aku hanya tersenyum setelah mendengarnya bicara.
"Bisa kita pergi sekarang??" Tanya Mark.
__ADS_1
"Hah" responku
"Apa mommy mu tidak memberi tahu??"
"Tidak,,memberi tahu apa?" Tanyaku ku. Aku ingat jelas, mommy tidak memberi tahu apapun selain 'seseorang telah menungguku'. Hanya Itu. Tidak ada lainnya.
Mark nampak membuang nafasnya. "Aku sudah meminta ijin pada mommy mu, Daddy mu meminta ku mengantar mu ke kantornya."
"Daddy!!" Mark mengangguk "Untuk apa?"
Mark menaikkan kedua bahunya "Entah lah..."
🥀🥀🥀
#penulis#
Naiyra dan Mark tiba di kantor Aland. Tidak biasanya Naiyra dipanggil untuk datang ke kantornya. Bahkan ini adalah kali pertama ia datang ke kantor Aland selama ia diangkat menjadi anak di keluarga Stevano. Selama ini yang Naiyra tahu hanyalah rumah sakit yang baru beberapa Minggu ini diketahui Naiyra adalah milik Aland.
"Naiyra,,ini Justin." Aland memperkenalkan pria tinggi berbadan tagap pada Naiyra. Di lihat dari penampilannya, jelas sekali Justin bukan berasal dari Indonesia.
"Dia yang akan menjadi supir sekaligus pengawal pribadimu" sambung Aland.
"Untuk apa dad?? Aku bisa menyetir. Untuk apa Daddy memberiku seorang supir yang merangkap menjadi pengawal ku." Kata Naiyra. "Aku tidak mau, dad"
"Sudah sering Dady katakan, tidak ada salahnya bukan, berjaga !."
Huft!!! Naiyra memutar bola matanya malas. "Yaya,,ya,,,terserah daddy saja".
Naiyra pergi dari kantor Aland. Melihat kelakuan Naiyra yang merajuk, membuat Aland menggelengkan kepalanya dan berbicara pada Mark "anak itu...bahkan dulu ia tidak mau menaiki mobil walau hanya duduk di kursi penumpang. Tapi lihat dia saat ini....astaga!!! Dan kau Justin, kau susul Naiyra" kata Aland.
"Kenapa begitu, uncle Al??" Tanya Mark.
"Karena orang tua kandungnya meninggal dalam mobil. Dan ingat satu hal. Sebaiknya kau jangan memberinya ucapan selamat saat ulang tahunnya, karena kecelakaan itu terjadi tepat di hari ulang tahunnya" jelas Aland.
"Mark..."ucap Aland
"Ya, uncle" jawab mark.
Hening, Mark hanya tertunduk mendengar pertanyaan Aland. Mark tidak membenarkan juga tidak mengelaknya. Bagi Aland, diam berarti 'iya'.
"Aku beri tahu, kau memiliki saingan, son"
🥀🥀🥀
"LA.MA". ucap Errin penuk dengan kekesalan. Bagaimana ia tidak kesal, Naiyra datang melebihi waktu yang Errin berikan. Jika bukan karena pria di sampingnya, sudah dapat dipastikan Errin akan pergi menemui kekasihnya.
Naiyra tersenyum canggung "sorry...tadi Daddy nyuruh ke kantornya" mata Naiyra beralih pada pria di sebelah Errin. "Gavin"
"Hai, Naiy !! Apa kabar??" Tanya Gavin.
"Aku baik" jawab Naiyra
"Apa kau mengingatku?" Tanyanya lagi.
Naiyra mengangguk. "Kau sepupu Errin, kan!!!"
Gavin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya"
"Eh kunyuk!! Lu bawa bodyguard?" Bisik Errin. Pandangan Naiyra mengikuti arah pandang Errin yang tertuju pada pengawal pribadi Naiyra yang berdiri tegak di belakangnya.
"Ulah Daddy" Naiyra menjawabnya singkat.
"Ya,ya,ya. Gak heran kalau pengawal lu bule. Secara Daddy lu kan juga bule." Ucap Errin. "Yang gue gak ngerti tuh,,,,kok Daddy lu banyak banget sih punya pengawal. Mana bule semua lagi...". Aku terbahak mendengarnya bicara.
Ada-ada saja...
Sementara Gavin terlihat salah tingkah saat mataku menoleh kearahnya.
"Naiy,,,," akhirnya Gavin bersuara.
"Ya,"
"Luka di paha kamu, udah kering? Tanya Gavin. Aku tidak tahu, dari mana Gavin tahu bahwa di pahaku terdapat luka. Bahkan aku tidak menceritakannya pada Errin.
__ADS_1
"Luka???" Sela Errin. "Luka apa?? Kok Gavin tahu, gue enggak!!! Di paha lagi,,,," nada Errin sudah masuk dalam tahap curiga.
Sumpah demi apapun. aku tidak ingin membahas ini. Bagi ku ini seperti mengorek luka lama yang bahkan aku sendiri tidak ingin mengingatnya. Bila waktu bisa di ubah, aku ingin kejadian ini tidak pernah ada.
"Ma, ma-af Naiy...bukan maksud,," aku segera menyela ucapan Gavin "gak pa-pa" Aku tersenyum pada Gavin yang terlihat merunduk.
"Ada apa sih ini" tanya Errin.
Errin memang tahu perihal penculikan ku, tapi ia tak tahu detail kejadian saat aku dipaksa menjadi seorang jalang. Aku meminta orang tuaku untuk menutup rapat dari siapapun. Hanya keluarga ku dan keluarga uncle Mike yang tahu dengan jelas semua kronologi yang aku ceritakan. Biarlah hanya tuhan dan mereka yang tahu. Aku tidak ingin orang lain memiliki pandangan iba terhadapku. Terlebih mendengar kata jalang, siapapun pasti akan berfikir negatif.
"Bukan apa-apa Errina Paris..." Erin diam begitu aku menyebut nama lengkapnya.
Ia beranjak pergi tanpa mengucap sepatah katapun. "Mau kemana??" Aku bertanya.
"Lu mulai bermain rahasia, Naiy." Errin melanjutkan langkahnya.
"Biar aku yang mengejarnya, Naiy." Gavin mencekal lengan ku saat aku ingin menyusul Errin.
'Kenapa sulit sekali mengubur sesuatu yang menyesakkan.' batin Naiyra. Naiyra mengangguk, membiarkan Gavin mengejar sepupu sekaligus sahabatnya.
Naiyra nampak mengingat sesuatu saat ia melihat punggung Gavin menjauh. Sekelebat bayangan saat ia sadar di rumah sakit tergambar dalam ingatannya. Ia ingat, Gavin adalah orang pertama yang Naiyra lihat ketika ia tersadar dari komanya.
Naiyra lantas mengambil benda pipih di dalam tas miliknya. Ia menekan tombol cepat, menghubungi Aland.
"Hallo dad?" Sapa Naiyra ketika sambungan telepon tersambung.
"Ya, sayang" sahut Aland.
"Dad, aku ingin menanyakan sesuatu"
"Ada apa, hmm?? Kata Aland.
"Apa Gavin ikut berperan dalam mencari ku"
Terdengar Alan menghembuskan nafasnya. Tidak langsung menjawab. Padahal Naiyra hanya menunggu jawaban 'ya' atau 'tidak' tapi rasanya kenapa begutu mendebarkan baginya.
"Ya, dia memang ikut mencari mu sejak pertama kami kau menghilang. Bahkan dia yang pertama kali menangkap bajingan itu" jelas Aland.
'Ya lord.....Bagai mana ini....' batin Naiyra bermonolog.
Naiyra diam beberapa saat setelah mendengar bicara. "Dad...aku bersalah. Seharusnya aku berterima kasih pada Gavin. Tapi,,,aku justru menghindarinya terus"
"Daddy rasa, sudah saatnya kau mulai memberanikan diri dekat dengan lawan jenis mu, nak. Kalaulah dari penyelamatmu dulu, Gavin.
"Akan aku coba, dad??
Sambungan telepon pun terputus. Merasa jenuh berada dalam cafe sendirian Naiyra memutuskan untuk pulang ke kediaman Stevano.
Setibanya ia di rumah, ia langsung mencari keberadaan mommynya, Widya.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia membuka pintu kamar utama, kamar Widya dan Aland. Naiyra melihat Widya yang tertidur pulas.
Sejak dinyatakan hamil Widya memang jarang sekali berbaur dengan keluarga yang lain.
Dipandangnya wajah damai Widya. Ia sadar, ia sangat beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga Stevano. Memiliki Widya dan Aland sebagi pengganti orang tuanya. Naiyra amat sangat senang dengan kehamilan Widya. Namun, ia juga memiliki sedikit kekhawatiran. Apakah ia akan tersisihkan bila adiknya lahir nanti, apakah ia masih akan di sayang saat anak kandung mereka lahir nanti, mengingat ia hanyalah anak angkat di keluarga ini. Apakah perlakuan mereka akan berubah nantinya.
Apakah...
Apakah....
Dan apakah....
Terlalu banyak pertanyaan yang membuat Naiyra ambigu. Apakah ia cemburu pada calon bayi yang bahkan belum terlahir ke dunia ini? Hal yang wajar bila mereka lebih menyayangi dan memperhatikan akan kandung mereka nantinya, bukan!.
Naiyra meninggalkan kamar Widya dan memasuki kamarnya. Ia terkejut saat membuka kamarnya sendiri dan mendapati Mark yang sudah duduk di tepi ranjangnya. Sedang melamun. Terlihat dari pandangannya yang kosong memandang lurus kearah lantai. Naiyra ragu memasuki kamarnya sendiri. ini kali pertama seorang pria memasuki kamarnya selain Aland pasca kejadian yang lalu.
Mark tersadar saat mendengar pintu di tutup. Ia yakin jika itu adalah Naiyra. Mark segera menyusul Naiyra. Ia mengelilingi lantai 2 rumah ini untuk mencari keberadaan Naiyra. Dan ketika Mark melewati dapur, Di sana ia melihat Naiyra.
Mark menghampiri Naiyra, ikut duduk di hadapan Naiyra dengan segelas air di tangannya. Naiyra terlihat gugup. Mark tahu Naiyra sedang merasa takut kepadanya. "Tenanglah, Naiy. Aku tidak memiliki niat jahat dengan memasuki kamar mu. Aku hanya rindu padamu, itu saja."
Naiyra memandang Mark yang juga sedang melihatnya. "Maafkan aku. Aku kerap memasuki kamarmu saat aku merindukan mu." Lanjut Mark.
"Tapi aku bersumpah Naiy, aku tidak melakukan apapun selain duduk di tepi ranjang mu." Wajah panik mart terkihat lucu di mata Naiyra. Naiyra tersenyum. "Baiklah. Ku maafkan kaki ini."
"Apa itu artinya aku tidak boleh memasuki kamarmu saat aku rindu padamu" Naiyra menggeleng. Mendapati pria lain selain Aland membuat traumanya kembali muncul.
"Baiklah. Aku akan langsung menemui mu jika aku rindu" sambung Mark. Naiyra hanya meresponnya dengan senyuman. Mereka cukup lama berada di dapur. Bercerita dan bercanda. Tanpa mereka sadari, Aland dan Gavin melihat interaksi mereka yang nampak dekat dan akrab. Aland menyunggingkan senyumnya kala melihat Naiyra kini sudah bisa tertawa lepas. Sementara Gavin, ia mematung melihatnya. Hatinya tidak rela melihat sang pujaan hati memberikan senyum dan tawanya pada pria lain.
Alan melirik kearah Gavin. Ia lalu menepuk pundak Gavin beberapa kali "Kau cemburu, son??? Sudah aku katakan sebelumnya, kau memiliki saingan". Alan pergi menjauh dari arah dapur. Meninggalkan Gavin yang masih berdiri memperhatikan keduanya.
Alan berbalik melihat kearah Gavin ditengah perjalanannya. Aland mengira Gavin akan pergi meninggalkan keduanya, namun nyatanya ia salah. Gavin ternyata masuk menghampiri keduanya. Alan menyunggingkan senyumnya. Ia senang Gavin mulai bergerak cepat untuk mendekati Naiyra.
"hai...boleh bergabung" Naiyra dan Mark menoleh ke sumber suara. Mereka terdiam melihat kedatangan Gavin yang kian mendekat. "boleh..."Naiyra tersenyum. Mark diam tanpa ekspresi. Dapat Gavin simpulkan, ia merasa terganggu akan kedatangan dirinya.
__ADS_1
Tapi siapa yang peduli akan hal itu. Naiyra bukan miliknya. Siapa saja boleh bukan, mendekatinya. Termasuk Gavin.