
Dirga bergerak dari posisinya yang sudah berpindah kedalam kamar pribadinya. Setelah Gavin berlalu begitu saja dari rumahnya, Bi Inah melihat tuannya terkapar di lantai gudang.
Bi Inah lantas berlari memanggil dua orang penjaga untuk mengangkat tuan mudanya dan memindahkannya kedalam kamar pribadinya. Bi Inah pula yang mengganti baju Dirga yang banyak terkena noda darah dengan kaos tipis yang terlihat pas di badannya.
Dirga membuka matanya. 'ini di kamarku' batinnya, ia mengenali tempat dimana ia saat ini berada. kejadian beberapa jam yang lalu membuatnya tergesah-gesah mengabaikan rasa pusing dan sakitnya berjalan menuju gudang.
Saat ia membuka pintu gudang, kilat amarah Tercipta di raut wajahnya. Tak ada satupun foto Naiyra yang dilihatnya.
'Gavin. Lancang sekali dia' batin Dirga.
Dirga mengambil jaket kulitnya yang di gantung dalam lemari baju, lalu mengambil kunci mobil di atas nakas dan melakukannya secepat mungkin menuju kediaman Gavin.
Dengan gerak cepat Dirga berjalan memasuki rumah sahabatnya kini.
"GAVIN....GAVIN...DIMANA KAU" Teriak Dirga menggema seisi rumah.
Dua pelayan berdatangan menampakan dirinya. Dirga mengabaikan dua pelayan itu dan melangkah menaiki tangga menuju kamar Gavin.
Gavin sudah menduga bahwa Dirga akan mendatanginya ke rumah. Ia berdiri di balkon kamarnya menunggu Dirga. Tempat favorit mereka jika sedang berbagi keluh kesah. Dirga tak seperti Errin, sepupunya. Walau awal mula Gavin mengenal Naiyra melalui Errin, tetap saja, Gavin lebih terbuka pada Dirga.
Tapi apa saat ini?. Bahkan Dirga menyembunyikan fakta yang tidak disangka-sangka. Dan, mengapa Dirga tahu dengan sebutan 'Baby'.
Suara Dirga sudah terdengar jelas saat ia memasuki kamar pribadi Gavin. Dirga menghampiri Gavin dengan nafas memburu. Matanya menyiratkan rasa amarah yang kental. Baru kali ini Gavin melihat sosok Dirga yang seperti ini.
Apa Selama ini Dirga menyembunyikan sifat aslinya rapat-rapat???
Mungkin saja. Hanya Dirga yang tahu, bukan!!
"Kembalikan semua foto Baby pada ku." Ucap Dirga.
Gavin mengkerut kan keningnya "aku hanya mengambil semua foto Naiyra. Aku tidak mengambil foto 'Baby', seperti yang kau sebut" balas Gavin santai. Ia bangun dari duduknya. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana.
Satu sudut bibir Dirga membentuk garis lengkung. Terlihat sinis meremehkan.
"Kau lupa, bahwa Naiyra pernah menjadi Baby" Gavin tersulut emosi mendengarnya. Ia mengepalkan jarinya dalan saku. Mencoba bertahan
"dia tidak pernah menjadi orang yang kau sebutkan, Dirga"
Sungguh, Gavin ingin sekali melenyapkannya saat ini juga. Jika saja ia tak terikat benang persahabatan dengan Dirga, sudah bisa dipastikan, Saat ini juga ia akan meminta uncle Mike menguburnya hidup-hidup. Tapi tidak.
Walau Gavin baru mengenal sosok Dirga yang seperti ini, ia tetap menyayangi sahabatnya. Hingga suara perempuan yang sangat di kenalnya menggumamkan namanya dan Dirga.
"Gavin, Dirga" Errin mematung mendengar percakapan mereka. Tak lama Naiyra menampakan dirinya di belakang Errin. Ekspresi Naiyra yang menegang membuat rasa was-was dalam diri Gavin muncul.
"Kalian,,,," Naiyra berbalik arah, berlari secepat yang ia bisa. Naiyra tak menyangka bahwa Gavin dan pria itu saling mengenal. Kenapa Gavin tak mengatakan apapun soal lelaki itu. Kepercayaannya naiyra kepada Gavin hancur saat ini.
"Naiy,,,,"Errin mengejar. "Tunggu Naiyra..berhenti aku bilang"
"Naiyra tunggu" "Baby, jangan pergi" ucap Gavin dan Dirga bersamaan. Seakan berlomba, mereka berlari mengejar langkah Naiyra.
Naiyra terus mempercepat larinya keluar dari rumah Gavin. Namun belum sampai ia di jalan raya, satu lengannya sudah ditarik oleh tangan yang begitu kekar. Tubuh Naiyra bergerak cepat kearah berlawanan dan saat itu juga tubuhnya menubruk dada bidang Gavin.
"Jangan pergi Naiy, biar aku jelasin" ucap Gavin. Gavin merasakan getaran di lengan naiyr. Rupanya Naiyra tengah ketakutan saat ini.
"Kamu ikut aku, baby" Naiyra terkejut bukan main saat ia tahu yang mencekal lengannya adalah Dirga.
"LEPAS" Teriak Naiyra. Gavin langsung melepas walau ia tak ingin.
Berbeda dengan Dirga yang tidak memperdulikan ucapan Naiyra. Ia masih terus memegang tangan Naiyra,
"STOOOOOP" teriak Errin. Ia yang sedari tadi hanya diam menyaksikan drama mereka akhirnya angkat bicara
"Ada yang bisa kasih gue penjelasan" Errin melirik pada tiga orang di depannya kini.
"Pliissss Rin, gue mau pulang. Gue gak mau disini. Singkirkan mereka dari gue. Biarin gue pulang." Alih-alih menjawab, Naira malah mengucapkan permohonan.
"Dirga. Lepasin tangan lo dari Naiyra." Bola Mata Errin seakan hendak keluar dari matanya.
Dirga tak mengindahkan perkataan Errin. Dia menarik paksa Naiyra keluar dari kediaman Narendra. Pukulan Naiyra pun seakan tak ada apa-apanya, tak terasa.
Ia mendorong paksa Naiyra untuk masuk kedalam mobilnya. Hampir saja Gavin berhasil mencekal pergelangan Dirga, namun Dirga mampu menepisnya.
"Dirga, gue peringatan lu. Keluarin Naiyra dari dalam mobil lu sekarang juga" gertak Gavin.
Senyum sinis kembali Dirga berikan pada Gavin yang kini sudah berdiri di depan mobil Dirga yang siap melaju.
"Ini ganti rugi atas perbuatan Lo, Vin."
Prank.....
Pecahan kaca mobil berhamburan di aspal jalan dan sebagian memenuhi kursi kemudi. Naiyra teriak. Ia histeris saat itu juga. Tanpa di duga Errin Melempari sebuah batu cukup besar yang biasa di gunakan untuk penghias kolam hingga mengenai kaca mobil Dirga.
__ADS_1
Naiyra sudah berkeringat dingin. Jika seperti ini bagaimana ia bisa menyembuhkan rasa traumanya jika kejadian saat ini saja mengingatkannya akan tragedi yang membuat kedua orang tua Naiyra meninggal. Dirinya yang saat ini berada di dalam mobil dipenuhi pecahan kaca mengingatkannya pada sang ibu yang juga di penuhi dengan pecahan kaca waktu itu. Ditambah dengan kasus yang hampir saja membuat dia jadi seorang jalang, dan kali ini....ia berhadapan dengan seorang psikopat.
Sungguh sempurna.
Kemarahan terlihat jelas dari raut Dirga. Ia tak memperdulikan pecahan kaca yang ada di dalam mobilnya. Ia melajuka mobilnya secepat mungkin. meninggalkan kediaman Narendra, rumah Gavin.
Tak ingin ketinggalan, Gavin segera masuk dalam mobil dan menghidupkannya.
"Eh eh eh,,,gue ikut, Vin" teriak Errin.
Gavin melaju cepat mengejar mobil Dirga. Sahabatnya itu sudah tidak waras. Ia benar-benar tidak mengenali Dirga yang sekarang. Errin lebih tidak menyangka lagi. yang Errin tahu, Dirga adalah sosok yang dewasa dan hangat.
"Lu mau nelpon siapa, Vin?" Tanya Errin.
Gavin tak menjawab pertanyaan Errin lantaran sudah terhubung dengan seseorang di telepon.
"Hallo, uncle" ucap Gavin.
"Uncle sudah peringatkan kamu, Gavin. Jangan salahkan uncle dan Mark jika sudah bertindak" sahut Mike di sebrang telepon.
Tut,,,Tut,,,
Sambungan di putus secara sepihak oleh mike. Gavin menelan ludahnya susah payah. ia juga memukul kemudi stir dengan keras. Biar bagaimanapun ia tahu, bahwa Mike bukan hanya sekedar sahabat bagi Aland tapi ia adalah tangan kanan Aland di dunia mafia maupun bisnis.
"Vin..." Errina mengguncangkan bahu Gavin. "Lu ngomong Ama siapa di telpon?? Om Aland??" Tanya Errin.
"Gue bener-bener gak nyangka sama Dirga." Ocehnya kembali.
"Gue gak tau mesti apa Rin...Dirga sahabat gue. Naiyra...gue cinta sama dia. Dan sekarang, karena masalah ini dia malah makin ngehindar dari gue. itu Pasti." Keluh Gavin. Matanya masih fokus mengejar mobil Dirga yang entah akan membawa Naiyra kemana.
Sedangkan Errina. Ia berusaha memahami situasi yang tidak sepenuhnya ia tahu.
🥀🥀🥀
Dirga menoleh kearah Naiyra yang masih memejamkan matanya. Pasca Errin memecahkan kaca mobil Dirga, Naiyra menjadi histeris lalu tak sadarkan diri. Dan kondisi ini menguntungkan bagi Dirga. Ia tak perlu menghadapi Naiyra yang nantinya akan memberontak.
"Kita akan pergi dari sini, Baby. Kita akan hidup berdua saja. Kita tidak butuh mereka" ucap Dirga pada Naiyra yang terpejam.
Gavin terus saja menghubunginya melalui ponsel. Dirga mengabaikan. Ia melihat mobil Gavin masih mengejarnya di belakang. Ide jahat melintas dalam otaknya. Ia menghubungi seseorang untuk mengelabuhi pandangan Gavin.
Tak butuh waktu lama, dalam waktu kurang dari 30 menit dua mobil mengapit mobil Gavin yang tengah mengejar mobil Dirga.
Errina panik. Tangannya berpegangan pada seat belt dan mulutnya mengucapkan segala doa-doa. Dirga menyeringai melihat Gavin diapit melalui kaca spion hingga ia berhasil meninggalkan jejak di mata Gavin.
Dirga memarkirkan mobilnya di samping rumah tersebut. Lalu ia menggendong Naiyra yang masih tak sadarkan diri ala bridal style. Ia merebahkan tubuh Naiyra di sebuah kamar dengan balai kayu sebagai ranjangnya.
Di pandangnya wajah Naiyra yang begitu cantik dimatanya. Untaian-untaian rambut Naiyra ia singkirkan dari wajah mulusnya. Setelah itu ia mencium dalam kening Naiyra penuh sayang.
"Baby,,," Dirga mengelus wajah Naiyra dengan buku jarinya "heyy,,bangunlah. Kita sudah sampai disini. Dimana hanya ada kamu dan aku. Hanya kita"
Mata Naiyra masih terpejam. Dirga terus menciumi wajah Naiyra selama matanya terpejam, berharap Naiyra bisa secepatnya sadar dengan merasakan sentuhannya .
Ahh,,,Ia suka Naiyra yang tidak berkutik seperti ini.
Apa yang Dirga lakukan berhasil membuat Naiyra perlahan sadar dan membuka matanya.
Naiyra benar-benar terkejut saat ia tahu Dirga mencumbunya. Didorongnya tubuh bidang Dirga sekuat sisa tenaganya yang ia punya. Setelah berhasil mendorong tubuh dirga, Naiyra lantas menamparnya keras. Wajah Dirga terhempas. Namun itu tak membuatnya menjadi murka.
"Jangan. Sentuh. Aku" Naiyra menekan setiap kata-katanya.
"Baby,,,". "Jangan panggil aku 'Baby'. Aku jijik mendengarnya." Tekan Naiyra. Matanya menghunus tajam menatap netra hitam Dirga.
Jika sebelumnya Naiyra di dominasi oleh rasa takutnya. Kini ia sudah bisa menghadapi rasa takutnya sendiri. Terima kasih pada mommynya yang telah merubahnya lebih baik.
"Baby,,heyy,,,lihat aku sekaaali aja. Aku sangat mencintai kamu. Rasanya aku nyaris gila bila berada jauh darimu selama dua bulan ini, sayang..." Ucap Dirga.
Naiyra berpikir keras mengingat wajah yang kini sangat dekat dengannya. Wajahnya terasa familiar Dimata Naiyra.
"Sudah bisa ingat aku" ucap Dirga seolah ia bisa membaca pikiran Naiyra. Dan sialnya, ucapannya tepat prediksi.
"Aku yang selalu kau lihat di berbagai kegiatan, naiyra. Aku yang tak pernah jauh dari jangkauan matamu, aku tak pernah jauh dari kamu. Dimana pun kamu, kemanapun kamu...pasti ada aku Disana." Ucap Gavin. Tangannya terus terulur pada wajah Naiyra yang pastinya selalu ditampik oleh Naiyra.
"selama kamu menghilang, aku sangat prustasi. Aku tidak menemukan mu dimanapun sampai gavin mengerahkan semua anak buahnya untuk mencarimu."
Dirga benar. Apa yang diucapkannya memang fakta. Kini ia ingat. Dirga memang tak pernah luput dari pandangannya. Kenapa ia sebodoh ini. Tidak menyadari bahwa ada seorang psikopat yang merangkap menjadi stalker. Yang selalu mengikutinya kemanapun dan dimanapun ia berada.
"No..no..no..kamu tidak bodoh, baby. Kamu hanya tidak pernah memandangku, wajar jika kamu tidak menganggap aku ada." Lagi. Ia mampu membaca pikiran Naiyra.
Naiyra bergerak mundur menjauh dari Dirga. Ia kembali merasakan menjadi tawanan. Air mata Naiyra meluruh. Namun dengan cepat ia menghapusnya. Ia tak boleh menjadi lemah. Jika sebelumnya ia bisa menjaga dirinya, kenapa tidak kali ini. Tapi apa yang harus Naiyra gunakan untuk melindungi dirinya sendiri kali ini. Jika hanya mengandalkan tenaga, jelas kekuatannya kalah jauh.
Naiyra mengedarkan pandangannya kesegala sisi. Berharap bisa menemukan apapun untuk digunakannya melawan Dirga.
__ADS_1
"Apa yang kamu cari, heum..?Kau tidak akan menemukan apapun disini, baby" senyum Dirga.
'Bisa-bisanya dia tersenyum seperti itu. Aku harus bertindak' batin Naiyra.
"Apa mau mu?" Tanya Naiyra
"Kau, Baby" jawab Dirga.
"Sudah aku katakan, jangan panggil aku baby" sahut Naiyra
"Terserah, tapi aku suka dengan sebutan itu. Bukankah itu romantis."
Naiyra memejamkan matanya. Menahan geram emosinya menghadapi pria gila didepannya. Bukan...dia lebih pantas disebut pria gila berengsek psikopat.
Belum sempat Naiyra membuka matanya, Dirga sudah menempelkan bibirnya pada bibir ranum Naiyra. Kepalanya sudah di tahan oleh kedua tangan Dirga.
Naiyra memberontak. Ia memukul dada bidang Dirga sekencang-kencangnya. Namun itu tak berpengaruh apapun pada Dirga. Ia terus melumat bibir Naiyra yang masih tertutup rapat.
Setelah puas menciumi Naiyra, ia mengelap bibir Naiyra yang basah menggunakan ibu jarinya.
"Menurutlah. Maka aku tidak akan berbuat lebih dari ini kepadamu" ucap Dirga serat akan peringatan.
"Aku mohon, lepaskan aku,,," pinta Naiyra. Wajahnya sungguh memelas, dan itu membuat Dirga gemas dibuatnya.
"Dan meninggalkan aku??" Kata Dirga. "No, baby"
"Kau bilang mencintaiku"
"Ya, aku mencintaimu"
"Maka biarkan aku pergi, ku mohon"
"Jangan lagi memintaku untuk melepaskan mu atau pergi menjauh, karena itu tidak akan pernah terjadi" ucap Dirga.
Naiyra mencoba Kabur dari hadapan Dirga. Dia melempar semua properti yang terbuat dari kayu pada Dirga. Dan sialnya Dirga selalu berhasil menghindar dari serangan yang Naiyra layangkan.
"Baby...aku sudah memberikan mu peringatan" ucap Dirga.
Naiyra tak memperdulikan ucapan Dirga. Dia terus melempari apapun yang ada di sekitarnya, Ia terus berlari mengitari seisi rumah. Hingga ia masuk dalam sebuah kamar yang lain dan menguncinya dari dalam.
Naiyra berdiri di balik pintu. Matanya mengedar pada seisi ruangan. Tepatnya mengamati barang apapun yang bisa Naiyra gunakan untuk menghadapi Dirga.
"Baby...aku tahu kau di dalam. Bukankah aku sudah memintamu untuk menurut. Tapi kau memilih menjadi seorang pemberontak. Maka jangan salahkan aku jika aku memberikanmu hukuman" ucap Dirga.
Naiyra bingung. Harus dengan cara apa lagi ia menghadapi Dirga kali ini.
'daddy...tolong" ucap Naiyra dalam hati.
Naiyra merasa Dirga berusaha mendobrak pintu kamarnya saat ini. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Naiyra menahan pintu itu sekuatnya. Namun tenaganya kalah jauh dengan tenaga Dirga. Dirga berhasil mendobrak pintu itu.
Naiyra tersungkur duduk di lantai. Ia bergerak mundur dalam duduknya. Menjauh dari tubuh Dirga yang terlihat begitu tegap di hadapan Naiyra.
Dirga semakin mendekat...mendekat..dan mendekat. Mengikis jarak diantara mereka sampai Naiyra tersudut pada dinding kayu. Dirga duduk di atas pijakan kakinya, mensejajarkan dirinya dengan Naiyra yang terduduk di lantai.
Ia mencengkram rahang Naiyra hingga ia meringis kesakitan. "Rupanya kau sangat suka diperlakukan kasar, baby." Dirga menjambak rambut Naiyra kuat dan menyeret Naiyra keluar dari kamar itu, membawanya pada satu kamar lain yang ada dirumah kayu tersebut.
Dirga membawanya ke kamar utama. Hanya ada satu kasur single berbahan kapas Disana. Satu lemari dan satu meja dan kursi di sudut ruangan.
Naiyra menggeleng takut. "Tidak..jangan"
Dirga sudah menghempaskan Naiyra di atas kasur kapas tersebut. Perlahan Dirga membuka satu persatu kancing bajunya. Setelah kancing bajunya terbuka, ia melemparnya asal ke sembarang tempat. Kini Dirga dalam keadaan toples di hadapan Naiyra.
"Jangan...aku mohon" pinta naiyra
"kau tidak mendengar ku, baby. Jadi untuk apa aku mendengar mu kali ini" ucap Gavin. "kita nikmati saja waktu kita saat ini, sayang"
Naiyra terus menepis tangan Dirga yang sudah mulai menggerayanginya. Naiyra terpojok. tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan dirinya.
saat Dirga hendak menerkam Naiyra. Naiyra menendang junior Dirga hingga ia meringkuk merasakann sakit yang luar biasa.
"aauuwwww...SHIT. F**K YOU BITCH" maki Dirga.
Naiyra tak membuang kesempatan yang ada. Ia segera keluar dari kamar itu dan kabur meninggalkan rumah terkutuk itu.
Tanpa alas kaki Naiyra terus berlari menyusuri hutan. Rasa sakit dikakinya tak ia hiraukan. Yang terpenting saat ini bagi Naiyra berlari sejauh mungkin agar Dirga tak menemukannya.
"Baby....." teriak Dirga. Ia mencari Naiyra walau berjalan tertatih-tatih menahan rasa sakit yang belum mereda.
suara Dirga bisa di dengar oleh Naiyra. Dan itu membuat Naiyra lebih cepat melangkahkan larinya. Rasa lelah yang sangat luar biasa tidak ia hiraukan. Naiyra terus berlari sambil menoleh kearah belakang, berharap Dirga tidak melihatnya.
Naiyra terjatuh saat tubuhnya menabrak sesuatu di hadapannya. "auww" ringis Naiyra membersihkan lukanya. ia melihat sepasang sepatu di hadapannya. Matanya membulat sempurna saat ia melihat seseorang berdiri tegak di hadapannya.
__ADS_1
🥀🥀🥀
Bersambung,,,