
Dua buah mobil berhenti di depan rumah Gara kira-kira pukul sebelas malam. Gerald, ayahnya menyetir mobil yang bukan miliknya sedangkan mobilnya dikendarai oleh sopir pribadi keluarga mereka.
Saat ayahnya turun, terlihat seorang wanita yang sebelumnya duduk di samping Gerald berpindah ke belakang kemudi. Keduanya mengatakan sesuatu sebelum berpisah. Jarak mereka yang cukup jauh dari balkon membuat Gara tidak bisa mendengarnya.
Gerald lalu masuk ke dalam mobilnya sendiri dan duduk di jok belakang. Ini bukan kali pertamanya Gara memergoki ayahnya sedang bersama seorang wanita.
"Dasar tua bangka nggak tahu diri!" Gara mengepalkan tangannya dan memukul pagar balkon dengan keras.
Tidak ada yang bisa melihatnya di balkon karena dia sengaja mematikan lampunya. Jika sebelum-sebelumnya dia tidak peduli dengan tingkah ayahnya, kini dia ingin tahu alasannya pulang terlambat. Dia akan tetap membela ibunya meskipun dia tidak tahu atau mungkin tidak menginginkannya.
Gara berdiri di dekat saklar lampu yang ada di ruang keluarga. Setelah mendengar langkah kaki ayahnya mendekat, dia baru menyalakan lampu.
Gerald terkejut. Tidak biasanya Gara menyambutnya saat pulang kerja.
"Kamu belum tidur, Nak?" tanya Gerald berbasa-basi.
"Nggak usah sok peduli! Siapa wanita itu?"
Pertanyaan Gara membuat Gerald terkesiap. Keadaan di luar sangat gelap, dia tidak percaya jika Gara melihatnya berhenti di jalan depan rumah mereka.
"Wanita? Wanita yang mana, Gara? Papa pulang sendiri. Kalau tidak percaya kamu tanya saja sama Pak Slamet."
Gara tersenyum sinis menanggapi jawaban ayahnya. Jelas-jelas dia melihat jika ayahnya pulang bersama seorang wanita meskipun tidak membawanya masuk.
__ADS_1
"Silakan papa ngelawak sesuka hati. Jika sampai ketangkep basah, Gara pastikan wanita itu akan habis."
Gerald membelalakkan matanya. Dia tahu seperti apa sifat anaknya. Apa yang dikatakannya bukanlah sekedar ancaman melainkan sesuatu yang akan benar-benar dia lakukan.
"Kamu bicara apa, Nak? Jangan mengada-ada. Bagaimana keadaan mamamu? Tadi kurang enak badan, mau papa antar pulang dia nggak mau." Gerald mencoba menampilkan sisi tanggung jawabnya.
"Mama tadi pingsan. Urusan kita belum selesai, ingat kata-kataku!"
Setelah mengatakan itu, Gara pergi meninggalkan ayahnya yang terlihat gelisah.
'Dari mana anakku tahu jika aku pulang bareng Leila? Apakah dia menyewa seorang mata-mata? Aku harus berhati-hati setelah ini.' Gerald bermonolog dalam hati.
Detak jantungnya berdetak tak karuan. Dia pergi ke dapur untuk mengambil minum lalu beristirahat sebentar. Putranya sudah dewasa, tidak akan mudah untuk membujuknya.
Darah muda Gara bergejolak. Emosinya meledak-ledak ketika mengetahui hal menyakitkan yang membuat hatinya remuk. Dalam hati dia bertekad untuk menyingkirkan wanita yang membuat ayahnya berpaling dari ibunya.
Lambat laun rasa kantuk pun datang meskipun pagi sudah hampir menjelang. Gara tertidur dengan kepala berada di atas sofa dan tubuh terduduk di karpet. Di sudut matanya terlihat sisa-sisa air mata yang keluar tanpa dia sadari ketika terlelap.
Merasa muak dengan ayahnya, Gara memilih untuk berangkat sekolah pagi-pagi. Dia tidak ingin duduk satu meja dengannya untuk sarapan.
Sebelum mengenal Nabila, saat kalut Gara akan pergi ke rumah anggota Grup Dragon. Namun, kali ini dia tidak lagi melakukannya. Gara memilih pergi ke kosan Nabila untuk menjemputnya.
"Kamu! Sejak kapan kamu di sini?" tanya Nabila dengan sedikit terkejut.
__ADS_1
Kegugupannya membuatnya kesulitan untuk mengunci pintu kamar kosnya.
"Baru saja. Naiklah!" ucap Gara sambil menyerahkan helm baru yang dibawanya.
Nabila menunduk dan melihat ke bawah. Roknya terlalu pendek dan tidak bisa membonceng dengan nyaman.
"Aku jalan kaki saja," tolak Nabila.
"Jangan bawel! Gue laper belum sarapan. Buruan naik!"
"Dih, apa urusannya sama aku." Nabila masih enggan untuk mengikuti kemauan Gara.
"Ok! Kalau lo bawel gue cium lo di depan orang-orang."
Kali ini ancaman Gara menunjukkan hasil. Nabila membulatkan matanya dan merasa kikuk saat melihat penghuni kos lain dan orang-orang yang melintas melihat ke arah mereka.
'Tidak-tidak! Keberadaan Gara sangat menarik perhatian. Aku harus segera membawanya pergi dari sini.' Terpaksa Nabila harus setuju pergi bersama Gara.
"Tunggu sebentar! Aku harus mengambil jaket," ucap Nabila dengan mukanya yang terlihat kesal.
Gara tahu jika Nabila terpaksa mengikuti kemauannya tetapi dia merasa menang. Dia berhasil menaklukkan hati wanita yang menurutnya sangat keras kepala.
'Gue penasaran dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Rasanya sudah nggak sabar lagi melihat wajah pucat Daud, Ken dan Birawa saat melihat gue berhasil dapetin Nabila.'
__ADS_1
Gara tersenyum penuh kemenangan. Sayangnya tidak ada yang bisa melihatnya karena tertutup oleh helm.
***