
Ekspresi wajah Gara berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Meskipun tidak selalu tersenyum dia terlihat lebih bersemangat menjalani rutinitasnya. Dia memiliki kebiasaan baru mengantar dan menjemput Nabila pergi ke sekolah.
Tidak terasa seminggu sudah mereka jadian. Perubahan sikap dan kebiasaannya membuat member Grup Dragon merasa kehilangan. Mereka merasa ada yang kurang saat gara tidak bersama dengan mereka.
"Ra! Sekali-kali kita ngumpul bareng dong! Lo selalu saja ngabisin waktu sama Nabil and mencampakkan kita begitu saja," gerutu Daud.
"Mulut lu kek cewek aja." Gara terlihat kesal. Dia merasa jika dunianya saat ini jauh berbeda dengan teman-temannya.
"Gue tau lu lagi bucin-bucinnya sama Nabil tapi nggak harus terus-terusan bareng sama dia juga kali."
Gara mengangkat sebelah alisnya.
"Emang gue kelihatan bucin, kah?"
Sebenarnya Gara sangat ingin menyanggah tetapi tentu saja hal ini akan membuat cinta palsunya terbongkar. Sebelum tiket dan uang saku ke konser Band Metaldie di tangannya, dia tidak boleh terpancing.
"Ya, gini, nih, kalau orang gak pernah pacaran. Contoh dong Birawa, walaupun sekarang jomblo dia sudah nakhlukin banyak cewek. Gue sama Kenzi juga pernah pacaran beberapa kali. Cuma elu yang baru punya pacar saat usia sudah hampir kadaluarsa," ledek Daud.
"Dih, enak aja lu ngatain orang kadaluarsa. Banyak kog yang naksir ama gue, cuman gue kan milih-milih."
Gara tidak ingin disebut cowok yang tidak laku.
Mereka berempat terus berolok hingga guru yang akan mengajar datang. Mendadak mereka diam dan menyiapkan buku pelajaran dengan malas. Di antara anggota Grup Dragon hanya Kenzi yang paling rajin.
Saat jam pulang sekolah, Gara menunggu Nabila di pintu gerbang seperti biasa. Senyum samar terlihat di bibirnya ketika kekasihnya berjalan menghampirinya. Leny yang semula membersamainya melambaikan tangan dan pergi menuju ke mobil jemputannya.
"Nab, kita jadi pergi ke tempat les?" tanya Gara setelah Nabila berdiri di hadapannya.
"Iya. Kamu juga ikut les di sana, kan?" tanya Nabila.
Dalam hati dia berharap jika Gara setuju untuk ikut les privat bersamanya. Sebenarnya Nabila tidak tahu prestasi akademik yang dia miliki. Dia hanya menilai dari penampilan Gara yang tampak tidak serius dalam sekolahnya.
"Gue sebenarnya malas ikut les. Pegang buku saja gue jarang," jujur Gara.
Nabila menggeleng tak habis pikir.
"Sebentar lagi kita ujian. Jangan bilang kamu mau nyontek!"
__ADS_1
Gara meringis mendengar ucapan Nabila karena merasa tebakannya itu benar.
"Sudahlah. Yuk, kita berangkat keburu sore!"
Gara menyerahkan helm dan jaket milik Nabila. Keduanya bersiap untuk naik ke atas motor.
Di kejauhan terlihat ketiga teman Gara berjalan ke parkiran. Mereka sempat melihat kepergian Gara dan Nabila.
"Njir! Mereka makin lengket aja. Sepertinya Gara emang bener-bener suka sama Nabil," ucap Birawa.
"Semoga aja dia begini bukan karena mengincar tiket konser. Kita lihat saja nanti. Konser kan masih satu bulan lagi," imbuh Daud.
"Iya, bener. Kita bisa lihat apakah dia bisa bertahan selama itu."
Kenzi hanya menjadi pendengar saja. Dia tidak menanggapi obrolan kedua temannya dan memilih menunggu mereka di atas motornya.
Mereka pulang ke rumah masing-masing karena parkiran sudah sepi.
Di tengah perjalanannya, ponsel Gara terus berdering. Sebenarnya dia mendengarnya tetapi tidak ingin berhenti sebelum sampai di tempat les. Jalanan sangat ramai dan tidak memungkinkan untuk menepi.
"Tadi kayaknya ponselmu bunyi. Siapa tahu penting," ucap Nabila mengingatkan setelah mereka sampai di depan gedung tempat les.
"Nab, kayaknya gue nggak bisa nemenin lo, deh. Bokap sama nyokap kecelakaan."
"Apa?" Nabila terlihat syok.
"Gue tinggal dulu, ya?" pamit Gara.
'Aku harus ikut. Bagaimana kalau Gara ngebut dan terjadi sesuatu yang buruk sama dia?' Nabila terlihat khawatir.
Saat Gara sudah bersiap dan menyalakan motornya, dengan cepat Nabila kembali membonceng.
"Lu ...." Gara menoleh ke belakang.
"Aku ikut!"
Gara tidak berbicara lagi karena terburu-buru. Kehadiran Nabila memberinya ketenangan. Dirinya kini mulai ragu dengan perasaan dan berharap Nabila bukan hanya sekedar pacar taruhan.
__ADS_1
Motor Gara melaju dengan kecepatan tinggi. Nabila mempererat pegangannya. Di saat genting seperti ini dia harus mengesampingkan rasa malunya.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit. Mereka pun tiba di rumah sakit tempat orang tua Gara dirawat. Masih ada beberapa polisi yang sedang meminta keterangan pada saksi kecelakaan yang mengantarkan mereka.
Gara segera bertanya di mana ruang perawatan orang tuanya. Salah seorang polisi mengantarnya ke ruangan itu sedangkan Nabila masih berdiam diri di tempatnya.
"Om, jangan kasih tahu papa kalau aku ada di sini, ya," bisik Nabila pada salah satu polisi yang dia kenal.
Polisi itu mengangguk.
"Temanmu tau kalau kamu anak pol ...." Polisi itu menghentikan karena mendengar keributan di dalam ruang perawatan.
Nabila menggeleng dengan cepat.
"Bentar, Om. Aku lihat dulu ke dalam."
Polisi yang berbicara dengan Nabila pun mengikutinya di belakang. Sesampainya di dalam, mereka melihat Gara sedang menjambak rambut seorang wanita. Mereka terlihat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Seorang polisi terlihat memegangi tubuh Gara dan memintanya melepaskan wanita itu. Awalnya Gara menolak tetapi dia pun menurut meskipun belum puas menyiksanya.
"Gue yakin, pasti wanita licik ini yang menjadi dalang dalam kecelakaan ini!" tunjuk Gara pada wajah Leila.
"Tidak, Pak. Itu tidak benar. Mana mungkin saya melakukan ini." Leila mencoba membela diri.
Nabila berjalan mendekati Gara dan memegang bahunya. Dia berusaha menenangkannya dengan mengelusnya lembut.
"Dasar pelacur! Lo pikir gue nggak tahu kelakuanmu selama ini. Lo pasti sengaja ingin membunuh mama biar bisa memiliki papa. Jangan mimpi! Lo pikir gue bakalan tinggal diam, ha?" Gara meluapkan seluruh emosinya pada Leila.
Leila terdiam. Dia tidak terima dengan ucapan Gara tetapi dia tidak tahu harus bicara apa. Hatinya sedikit lega saat polisi membawanya pergi dari ruangan itu agar tidak menimbulkan keributan.
Napas Gara tampak memburu karena memendam emosi yang tidak bisa dia lepaskan. Dia belum bisa menguasai dirinya dan mengatasi rasa sakit yang menghimpit dada.
Ada rasa segan di hati Nabila setelah mengetahui sedikit masalah di keluarga Gara. Namun, dia berusaha untuk tidak ikut campur. Dia membawa Gara menepi dan duduk di sofa bed tempat menjaga pasien.
"Nab, sekarang lu sudah tau gimana berantakannya hidup gue. Lo boleh pergi ninggalin gue kog. Gue cuma cowok brengsek yang nggak pantes buat lo pertahanin."
Gara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu menyibakkan rambutnya ke samping. Kedua tangannya berada di kedua sisi kepala dengan wajah yang menunduk ke bawah. Bulir-bulir air mata jatuh ke lantai.
__ADS_1
Baru kali ini Nabila melihat sisi rapuh seorang Gara. Cowok dingin dan angkuh yang dikenalnya itu ternyata menyimpan beban hidup yang begitu berat. Nabila tidak tahu seperti apa kehidupannya selama ini.
***