I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 43. Dugaan


__ADS_3

Sepulang sekolah, Gara tidak memiliki kesempatan untuk menemui Nabila. Hanya sebuah pesan singkat yang dia kirim untuk saling berkabar. Pekerjaannya di perusahaan menumpuk setelah dua hari dia tidak pergi ke sana.


Ada beberapa rapat dan pertemuan yang harus dia hadiri bersama Theo. Namun, setelah itu dia bisa pulang untuk mengunjungi orang tuanya. Theo mengatur jadwal seringan mungkin agar Gara tidak kelelahan.


Kira-kira pukul lima sore dia sudah sampai di rumah sakit. Semenjak Sarah dan Gerald tersadar, dia sangat bersemangat untuk pergi ke sana.


Sesuatu yang aneh terjadi ketika dia sampai di depan ruangan mereka. Gara melihat banyak sekali polisi yang berjaga.


'Aku tidak meminta personil tambahan. Bagaimana bisa ada banyak polisi di sini?' Gara merasa heran dengan apa yang terjadi.


Tidak ingin dibuat penasaran lebih lama lagi, dia lalu berjalan menghampiri salah satu anggotanya untuk bertanya.


"Selamat sore, Pak! Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Gara pada polisi yang paling dekat dengannya.


Polisi itu menatap wajahnya dengan seksama. Sepertinya baru pertama kali mereka bertemu. Polisi lain mendekatinya lalu membisikan sesuatu padanya.

__ADS_1


Polisi yang sebelumnya berbicara dengan Gara pun mengangguk. Ekspresi wajahnya berubah menjadi serius.


"Apakah kamu tahu di mana keberadaan Nabila?" tanya polisi itu.


Gara merasa terkejut dengan pertanyaannya. Setelah pulang sekolah mereka masih berkirim pesan, seharusnya sekarang dia berada di kosannya.


"Terakhir kami berkomunikasi setelah jam pulang sekolah, Pak. Mungkin saat ini dia sedang berada di kosnya," jelas Gara.


Melihat wajah Gara yang terlihat bingung, polisi itu kemudian menjelaskan apa yang terjadi. Dia adalah Gading Wibisana, ayah dari Nabila. Seseorang menghubunginya menggunakan ponsel Nabila dan mengatakan jika dia kini berada di tangannya.


Gara terkejut dengan berita yang baru di dengarnya ini. Tanpa pikir panjang dia pun ikut pergi dalam pencarian. Dia memberitahukan siapa saja yang mengenal Nabila di sekolah.


Peristiwa penyekapan Nabila di kamar mandi beberapa waktu lalu pun dia ceritakan kepada Gading. Mungkin saja ini akan menjadi petunjuk jika penculiknya adalah orang yang sama.


Gading dan beberapa orang rekannya pergi ke sekolah Nabila dan melakukan pengecekkan. Jika sebelum-sebelumnya polisi yang melakukan penyelidikan tidak menemukan hasil, Gading menemukannya.

__ADS_1


Gara yang juga ikut serta dalam penyelidikan ini terkejut setelah tahu siapa dalang dibalik penyekapan Nabila. Dengan mudah dia menemukan kontaknya dan akan dia teruskan pada Gading tetapi sebelum itu, dia ingin memastikan apakah Nabila ada di tangannya atau tidak. Gara menelepon Nayla di hadapan Gading.


"Hallo! Tumben lo nelpon gue, Ra? Apa Nabil nyuekin elo?" tanya Nayla setengah mengejek.


"Nggak perlu basa-basi. Di mana lo sembunyiin Nabil? Kalau lo nggak mau ngaku, gue pastiin lo bakal nyesel," ancam Gara.


"Nyembunyiin Nabil? Kurang kerjaan amat. Gue nggak ada, ya, acara kayak gituan!" sanggah Nayla.


Gara tidak lantas percaya dengan ucapannya.


"Siapa lagi kalau bukan elo. Lo pikir gue nggak tahu kalau elo yang menyekap dia di toilet beberapa waktu lalu?" Gara tidak bisa menahan dirinya lagi.


Nayla terdiam. Mungkin dia merasa syok karena Gara mengetahui kejahatan yang dia lakukan beberapa waktu lalu.


"Napa lo diem! Cepat katakan di mana Nabil sekarang! Jangan sampai kesabaran gue habis." Gara tidak ingin hal buruk terjadi pada Nabila.

__ADS_1


***


__ADS_2