I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 26. Suara Perut


__ADS_3

Sore itu, Gara dan Nabila pulang ke kos tepat pada waktu jam pulang kerja. Beberapa kali mereka berpapasan dengan pengguna jalan yang rata-rata tinggal di sekitar tempat kos. Sebagai anak baru Nabila tidak mengenal mereka, beruntung orang-orang yang tinggal di sana tidak banyak ingin tahu.


Jalan yang tidak terlalu panjang itu terasa lama karena Nabila ingin segera sampai. Tidak mungkin dia meminta Gara untuk mempercepat langkahnya karena membawa tubuhnya yang begitu berat. Nabila bisa merasakan jika saat ini Gara tengah berkeringat.


"Kalau kamu capek aku turun saja, Ra," ucap Nabila merasa tidak enak.


"Sudah, lo diem aja. Kita dah hampir sampai."


Apa yang dikatakan Gara memang benar, jarak kos Nabila hanya tinggal beberapa meter saja dari tempat mereka saat ini. Terlihat dua kamar yang bersebelahan dengan kamar Nabila sedang terbuka. Kemungkinan besar pemiliknya sudah pulang.


Gara akhirnya menurunkan Nabila di depan pintu kosnya dan membiarkannya membuka pintu. Tangannya masih melekat di bahu Nabila takut kalau tiba-tiba dia ambruk.


Setelah pintu terbuka, Gara masih membayangi langkah Nabila untuk berjaga-jaga.


"Aku sudah baik-baik saja, Ra. Kamu tidak perlu memperlakukanku seperti orang sakit."


Ucapan Nabila membuat Gara menatapnya tajam. "Lo bicara seperti ini karena lo nggak ngerasain gimana khawatirnya gue saat lo pingsan!"


Wajah Gara terlihat begitu kesal.


Tidak ingin masalah berlarut-larut, Nabila berusaha untuk mengambil inisiatif agar Gara tidak marah lagi. Dia meraih lengan Gara, memeluknya lalu menyandarkan kepalanya di sana. Perilaku sederhana yang membuat sebuah wanita terlihat membutuhkan pasangannya.


"Terimakasih, Ra. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu seperti apa nasibku. Mungkin aku akan tetap terkurung di kamar mandi sampai besok."


Hati Gara pun melembut. Kekesalannya menguap begitu saja.

__ADS_1


"Baru gue tinggal beberapa hari saja lo sudah begini. Sepertinya gue harus kembali ke sekolah besok." Gara mengusap rambut Nabila dengan lembut.


Rasa bersalah mendorong Nabila untuk merenggangkan pelukannya. Dia tahu saat ini Gara sedang banyak masalah yang harus diselesaikan. Tidak seharusnya dirinya menjadi salah satu beban yang harus di tanggung olehnya juga.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi. Aku akan berhati-hati di sekolah." Nabila segera berbicara agar Gara tidak berlebihan memikirkannya.


"Bahaya bukan hanya di sekolah. Semalam kamu juga menghadapinya, bukan?" tanya Gara.


Nabila menunduk tanpa menjawab apa-apa.


'Ini pasti kerjaan Pak Iman. Masalah sekecil itu saja pakai ngadu sama Gara.' Nabila mengomel dalam hati.


Sikap diam Nabila membuat Gara menoleh padanya. Sebagai pria yang acuh, dia tidak peka dengan perasaan orang lain.


"Gue hanya ingin jagain, Lo. Apa itu salah?" Suara Gara melembut.


"Kamu memang cowok yang bertanggung jawab, Ra, tapi sebaiknya kamu mengutamakan masalah keluargamu dan juga perusahaan. Apa yang aku alami hari ini hanyalah kesialan saja. Jika aku tidak menolak untuk ditemani oleh Leny, mungkin ceritanya akan lain. Besok aku akan melaporkan apa yang aku alami agar sekolah bisa menindak tegas murid yang mengerjaiku."


"Gue sudah melaporkannya pada polisi. Mereka mungkin sedang memeriksa lokasi. Gue masuk sekolah juga bukan semata-mata karena elo. Ujian sebentar lagi, gue juga ingin lulus tepat waktu. Mengenai perusahaan, gue akan ke sana sepulang sekolah." Gara terlihat tenang saat mengatakan ini.


"Aku akan selalu mendukungmu. Jangan lupa untuk menjaga kesehatanmu!" Nabila tidak tahu harus berkata apa karena Gara yang lebih tahu tentang kondisinya.


Gara mengangguk.


Keduanya saling bertatapan dengan perasaan mendalam. Nalurinya sebagai sepasang kekasih menuntunnya untuk meluapkan perasaannya.

__ADS_1


Gara mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Nabila sekilas. Merasa tidak ada penolakan, dia mengulanginya dengan durasi yang lebih lama. Namun, di tengah keromantisan mereka, hal yang tak terduga terjadi.


Suara perut lapar Nabila membuat semuanya menjadi buyar. Gara segera menarik diri dan mengakhiri ciumannya.


Pipi Nabila bersemu merah. Menurutnya ini sangat memalukan. Perutnya tidak bisa diajak kompromi dan berbunyi di saat yang tidak tepat.


"Gue juga lapar," ucap Gara kemudian. Dia tidak ingin membuat Nabila merasa malu lebih lama lagi


Tangannya merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel. Dia segera membuka google map dan mencari rumah makan terdekat yang melayani pesan antar. Setelah menemukannya, dia segera memesan makanan untuk mereka berdua.


Nabila beranjak dari duduknya untuk mengambil minum. Belum juga dia melangkahkan kaki, Gara telah menyusulnya berdiri.


"Mau ke mana?" tanyanya sambil memegang tangan Nabila.


"Aku cuma mau ambil minum saja."


"Duduklah! Biar gue aja yang ambil."


Nabila merasa diperlakukan seperti orang sakit parah yang tidak bisa bangun dari tempat tidur.


Kontrakan Nabila yang hanya sepetak kecil tidak mempersulit Gara untuk menemukan dispenser air. Gelas dan piring juga tertata rapi di sebuah rak kecil yang ada di samping dispenser.


Diam-diam Nabila mengagumi Gara dan merasa bersyukur tidak menolak cintanya waktu itu. Walaupun berasal dari keluarga berada, dia tetap terlihat nyaman berada di tempat kos sempit Nabila.


'Aku memang belum yakin dengan perasaan ini tetapi aku yakin Gara sebenarnya adalah pria yang baik.' Nabila bergumam dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2