
Cukup lama Nabila menunggu Kenzi mengantri di kasur. Dia menyiapkan sejumlah uang untuk mengganti pembayaran buku-buku yang dibelinya.
Nabila segera beranjak dari duduknya saat melihat Kenzi berjalan ke arah dengan menenteng dua kantong kertas berisi buku-buku mereka.
"Berapa total pembayaran buku milikku?" tanya Nabila.
Kenzi mengabaikan pertanyaannya dan terus berjalan menuju ke pintu keluar. Tentu saja apa yang dilakukannya membuat Nabila merasa kesal. Berapa kali dia menghentakkan kakinya di lantai saat berjalan.
'Dasar aneh. Sepertinya Grup Dragon adalah sekumpulan manusia aneh yang tergolong dalam spesies langka.' Nabila berjalan mengikuti Kenzi sambil menggerutu dalam hati.
"Ken! Kalau di tanya jawab dong!" omel Nabila ketika mereka berdua sudah sampai di parkiran.
Lagi-lagi Kenzi tidak segera menjawab. Dia malah menyodorkan buku-buku milik Nabila lalu mengambil helm dan memakainya. Tampaknya dia tidak peduli meskipun tahu jika wajah Nabila menunjukkan ekspresi kesal.
"Naiklah! Di sini banyak orang. Nanti saja kita hitung berapa." Kenzi naik ke atas motornya terlebih dahulu dan menunggu Nabila membonceng di belakang.
Walaupun dengan wajah cemberut, Nabila tetap naik ke atas motornya. Dia berusaha untuk tetap berpikir positif meskipun sikap Kenzi amat sangat menyebalkan. Bisa saja orang menjadi salah paham dan mengira sedang bertransaksi jika menghitung uang di parkiran.
Beberapa kali Kenzi bertanya pada Nabila untuk menentukan arah jalan yang harus mereka lalui menuju ke kosnya. Sebenarnya Kenzi berharap bisa membonceng Nabila lebih lama tetapi rupanya jarak kosnya memang cukup dekat. Dengan laju motor yang pelan mereka sampai kurang dari sepuluh menit.
Nabila turun dari motor Kenzi dengan hati-hati karena dia juga harus menenteng buku yang lumayan berat.
__ADS_1
"Jadi totalnya berapa?" Entah sudah yang ke berapa kali Nabila mengulang pertanyaannya.
"Nggak perlu diganti. Uang segitu nggak ada artinya buat gue. Anggap saja sebagai tanda pertemanan kita."
Setelah mengatakan itu Kenzi kembali menyalakan mesin motornya dan melaju kencang meninggalkan kepulan debu.
"Eh, aku nggak mau berhutang sama siapapun!" seru Nabil sambil melambaikan tangannya.
Teriakannya sama sekali tidak didengarkan oleh Kenzi karena mungkin dia memang tidak ingin mendengarnya. Mau kesal juga tidak ada gunanya lagi karena tidak akan ada yang melihatnya.
"Susah berurusan sama Grup Dragon yang super nyebelin. Tidak heran kalau mereka sangat kompak karena sama-sama suka bikin kesal orang." Nabila terus mengomel sambil terus berjalan menuju ke kamarnya.
Pertemuan antara Kenzi dan Nabila tidak luput dari pengawasan Gara. Setelah perundungan yang dialami Nabila tempo hari, dia secara diam-diam mengirim seseorang untuk mengikutinya dan melaporkan aktifitas Nabila.
Gara mengamati foto-foto yang dikirimkan oleh penguntit yang dikirimnya. Tidak ada yang aneh dengan foto-foto itu. Keduanya tampak berinteraksi secara wajar.
'Kenapa Kenzi masih mendekati Nabil? Apakah dia mencoba menikung gue dan ingin memenangkan taruhan? Entahlah. Gue ingin tahu lebih lanjut sebelum menyimpulkan apa yang terjadi di antara mereka.'
Walaupun Nabila dan Kenzi tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan tetapi cukup mengganggu konsentrasinya. Gara tidak bisa lagi fokus untuk bekerja.
"Pak Theo, aku pulang duluan. Sebagian sudah aku selesaikan dan sisanya akan aku kerjakan di rumah saja." Gara mengemasi berkas-berkas di mejanya secara acak.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Saya akan lembur hari ini biar besok Tuan bisa langsung menemui klien sepulang sekolah."
"Terimakasih, Pak. Jika membutuhkan sesuatu, Pak Theo bisa menghubungiku." Gara menenteng tas kerjanya dan bersiap untuk pulang.
"Baik, Tuan."
Sepanjang perjalanannya menuju ke rumah, wajah Gara terlihat dingin. Di balik sikap diamnya tersimpan perasaan yang berkecamuk di hatinya. Tangannya terus mengepal seperti akan meninju seseorang.
Pak Iman merasakan perbedaan sikap Gara tetapi dia tidak berani untuk bertanya. Jika Gara tidak memulai percakapan lebih dulu, dia memilih untuk diam. Sebagai sopir yang sudah bekerja cukup lama pada Gerald, dia tahu betul seperti apa sifat Gara.
Pernah suatu ketika Pak Iman melihat Gara berkelahi dan membuat lawannya cacat secara permanen. Saat masih terlibat dengan geng motor, Pak Iman juga pernah menjemputnya dalam keadaan mabuk berat.
'Apakah Tuan muda bersikap aneh gara-gara ada masalah sama non Nabil? Tapi rasanya tidak mungkin. Tadi saat pulang sekolah mereka masih baik-baik saja.' Pak Iman mencoba menebak-nebak.
Gara membanting pintu mobilnya dengan keras dan turun tanpa menunggu dibukakan oleh Pak Iman. Kini kemarahannya terlihat sangat jelas.
Bukan cuma pintu mobil saja, Gara juga membanting pintu kamarnya sesaat setelah dia memasukinya.
"Awas lo, Ken! Kalau sampai Nabila berubah sikap, gue hajar lo sampai mampus. Sekarang bukan lagi tentang taruhan tapi perasaan. Gue beneran sayang sama Nabil." Gara memaki-maki bayangannya di cermin dan menganggapnya seolah-olah itu adalah Kenzi.
***
__ADS_1