I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 45. Berkorban


__ADS_3

Untuk melakukan pengintaian, Gading sengaja memarkirkan mobilnya di tempat yang sedikit jauh. Mereka belum bisa memastikan di mana tepatnya Nabila di sekap.


Gading dan rekan-rekannya melakukan penyamaran dan berpencar menyusuri jalanan sedangkan Gara masih tetap dengan penampilannya seperti biasa. Selain tidak ahli dalam hal penyamaran, dia merasa yakin jika penculik Nabila akan muncul saat melihat dirinya.


Pandangan matanya tertuju pada sebuah klub malam yang ada di seberang jalan. Entah mengapa dia sangat ingin masuk ke sana.


Rekan Gading yang melihatnya diam-diam mengikutinya dari belakang. Dia takut terjadi sesuatu padanya.


Gara berusaha menyesuaikan diri dengan suasana di dalam klub. Suara bising dari musik yang berbunyi keras serta remang-remangnya lampu membuatnya harus bekerja lebih keras untuk mengenali pengunjung tempat itu.


Beberapa wanita muda berjalan ke arahnya dan mencoba menggoda tetapi Gara tidak menggubrisnya. Dia terus mencari sosok Nabila.


'Rasanya tidak mungkin Nabila dibawa ke tempat seperti ini.' Gara tidak ingin berlama-lama berada di sana.

__ADS_1


Sikapnya yang acuh dan pakaian kantornya yang rapi cukup mencolok di antara para pengunjung lainnya. Berbeda dengan rekan Gading yang berusaha menyesuaikan diri dengan menyamar sebagai pengunjung pada umumnya.


Gara berbalik dan berjalan menuju ke pintu keluar. Dia akan pergi ke tempat lain untuk melanjutkan pencarian. Namun, saat hampir mencapai pintu keluar seseorang membekapnya dan menyeretnya ke tem[at yang sedikit menepi.


Saat Gara akan mencoba melawan, orang itu mengancamnya dengan senjata tajam. Tidak ingin mati konyol di tempat itu, dia pun menurut ketika orang tak dikenal itu membawanya pergi ke sebuah ruangan.


Semua yang terjadi pada Gara tidak luput dari pengamatan rekan Gading. Dia lalu memberi sinyal bahaya pada teman-temannya agar segera datang memberi bantuan.


Gara dibawa ke sebuah ruangan dengan pencahayaan yang minim. Di dalam ruangan itu ada beberapa orang tetapi dia tidak bisa melihatnya dengan jelas.


Orang itu bertepuk tangan sekali dan lampu di ruangan itu pun menyala dengan terang. Seorang pria berwajah sedikit kebulean menatap Gara dengan sadis. Dari arah samping kiri seorang wanita yang sangat dikenalnya berjalan di hadapannya.


"Laeli!" pekik Gara terkejut.

__ADS_1


"Iya, ini aku. Lihat pacar kamu yang cantik itu. Sebentar lagi akan kujual pada pria hidung belang. Aku ingin kamu merasakan kesedihan yang aku rasakan setelah kehilangan anakku." Laeli berbicara dengan penuh dendam.


Gara melihat ke arah Nabila yang duduk tak sadarkan diri dengan tubuh terikat di kursi. Dia masih mengenakan seragam sekolahnya.


"Lo tahu gue nggak sengaja melakukannya. Bukannya lo sendiri juga nggak tahu kalau lo sedang hamil?" Gara tidak ingin disalahkan.


"Memang! Aku bisa sedikit berbelas kasihan padamu dengan tidak menyiksamu lebih lama asalkan kamu mau mengalihkan semua harta Gerald padaku. Seharusnya aku bisa memanfaatkan kehamilanku untuk mendapatkannya tapi sayangnya kamu sudah tahu jika itu bukan anak kandung Gerald." Laeli berbicara sambil memainkan kuku-kukunya.


Gara membelalakkan matanya. 'Pantas saja wanita licik ini menculik Nabila. Rupanya dia tahu kalau gue sudah mengendus rencananya.'


"Kamu pikir, aku tidak tahu kalau lo diem diem melakukan test DNA. Apa pun yang aku inginkan harus aku dapatkan, Bocah Tengik! Aku akan melepaskanmu kalau kamu mau memberikan seluruh aset perusahaan papamu padaku," ucap Laeli berbicara dengan sedikit menunduk dan menjambak rambut Gara.


Gara memikirkan bagaimana caranya untuk bisa bernegosiasi. Harta memang penting tetapi keselamatannya dan Nabila jauh lebih penting. Walaupun masih ada kemungkinan bagi Laeli untuk tetap membunuhnya, setidaknya dia bisa membebaskan Nabila.

__ADS_1


"Gue akan menuruti mau lo asal lo mau lepasin Nabila. Bebaskan dia!" Gara rela mengorbankan segalanya demi orang yang disayanginya.


***


__ADS_2