I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 41. Sebuah Jawaban


__ADS_3

Saat menemani Sarah, Gara tampak gelisah. Beberapa kali dia melihat ponselnya dan belum mendapati adanya pesan dari dokter yang menangani test DNA Laeli.


Sarah mengira hal ini karena alasan yang berbeda. Dia pikir jika Gara sedang menunggu pesan dari Nabila.


"Hmm ... anak muda yang sedang jatuh cinta memang susah. Baru semalem kalian bertemu, baru berpisah sehari saja sudah terlihat gelisah begitu," goda Sarah.


Gara sedikit terkejut dengan ucapan ibunya tetapi dia tidak mempermasalahkannya. Wajar jika seorang ibu berpikir seperti itu pada anaknya yang baru saja memiliki kekasih.


"Mama bisa aja." Gara tidak menyanggah atau mengiyakan ucapan ibunya.


Gerald yang terbangun hanya bisa menatap Gara dan Sarah dari tempat tidurnya tanpa bisa mengatakan apa-apa. Dia belum bisa menggerakkan mulut dan seluruh tubuhnya.


Banyak hal yang ditanyakan oleh Sarah kepada Gara. Selama dia tidak sadarkan diri ternyata banyak kejadian yang dilewatkannya. Cerita dari Nabila terasa kurang lengkap jika tidak mendengarnya langsung dari Gara.

__ADS_1


Meskipun belum bisa berbicara tetapi Gerald tidak memiliki masalah dengan pendengarannya. Sebagai seorang ayah dia merasa bangga dengan putranya yang telah berjuang dengan seluruh kemampuannya untuk mempertahankan perusahaan. Sementara, dia juga masih harus memikirkan sekolahnya yang hampir lulus.


Saat jam makan siang, Gara berpamitan pada Gerald dan Sarah untuk pergi makan siang. Melihat Gerald yang terbaring lemah mendadak kebenciannya menguap sudah. Sejujurnya dia masih marah dengan kelakuannya tetapi perasaan itu terkalahkan oleh rasa sayangnya.


'Semoga saja hasil test DNA menyatakan jika anak itu bukanlah anak kandung papa. Gue bisa menyesal seumur hidup jika bayi itu adalah adik kandung gue meskipun terlahir dari bangsat seperti Laeli.' Gara merasa bersalah meskipun apa yang menimpa Laeli bukanlah kesengajaannya.


Kantin rumah sakit sangat ramai siang itu. Gara berdiri mengantri untuk memesan makanan yang diinginkannya. Ketika hampir mendapatkan gilirannya, ponselnya berdering.


Takut ada pesan yang penting, Gara segera membukannya. Dan ternyata benar, pesan itu berasal dari dokter yang melakukan test DNA atas perintahnya.


'Anjirr! Kenapa gue berdebar-debar, ya. Apa pun hasilnya, gue harus tetap menerimanya. Tuhan, semoga saja aku tidak melakukan kesalahan.' Gara mencoba menenangkan hatinya di sela-sela langkahnya.


Di depan ruangan dokter, Gara berhenti sejenak untuk menenangkan perasaannya. Setelah benar-benar siap dengan apa yang akan didengarnya, dia mulai mengetuk pintu dan masuk ketika asisten dokter membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Silakan duduk, Tuan. Saya akan menjelaskan secara singkat kepada Anda." Dokter segera menyambut Gara dan memintanya untuk duduk.


"Terimakasih, Dok." Gara duduk pada kursi yang telah disediakan untuknya.


Selembar kertas berisi hasil test DNA diberikan kepada Gara. Sebagai orang awam dia tidak mengerti apa yang tertulis di dalamnya.


"Ini maksudnya gimana, Dok?" tanya Gara ketika melihat dokter sudah selesai mengenakan kacamatanya.


"Sebentar saya jelaskan."


Dokter itu menjelaskan secara detail, mengenai isi dari laporan hasil test DNA. Kesimpulan akhir dari penjelasan panjangnya menyatakan jika DNA janin Laeli tidak memiliki kecocokan dengan Gerald.


Gara akhirnya bernapas lega dan beban pikirannya sedikit berkurang. Dia meminta dokter untuk merahasiakan ini dari siapa pun dan memintanya menjadi saksi jika suatu saat diperlukan.

__ADS_1


'Ular betina itu sangat licik. Gue yakin, jika dia tidak keguguran, dia pasti ingin memanfaatkan ini untuk mencari keuntungan dari papa. Atau mungkin dia ingin meminta status yang jelas sebagai seorang istri.' Gara memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.


***


__ADS_2