I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 33. Jebakan


__ADS_3

Gara terbiasa terbangun walaupun alarm ponselnya belum berbunyi. Rutinitasnya yang padat memaksanya untuk berdamai dengan waktu.


Kesehatannya yang sempat bermasalah membuatnya ingin merubah pola hidupnya. Walaupun belum bisa terlepas dari rokok, Gara ingin menjaga fisiknya dengan berolahraga. Dia memulainya pagi ini.


Peralatan fitness yang berada di sebuah ruangan khusus masih berfungsi dengan baik. Dia memeriksanya satu persatu untuk mengetahui kelayakannya. Alat-alat olah raga mahal yang dibeli tetapi jarang digunakan.


Gara memilih menggunakan treatmill untuk melakukan pemanasan. Otot-ototnya terasa kaku karena akhir-akhir ini dia juga jarang berlatih bela diri.


Sekitar tiga puluh menit Gara berolahraga. Dia tidak bisa berlama-lama karena harus segera bersiap untuk pergi ke sekolah. Untuk sarapan paginya, dia telah menulis memo di kulkas agar disiapkan sesuai apa yang dia inginkan.


'Gue rindu sama elo tapi maaf gue nggak bisa pakai lo entah sampai kapan.' Gara menatap motor kesayangannya ketika melewatinya menuju ke mobil.


Pak Iman merasa iba pada Gara yang menatap sedih ke arah motornya. Dia tahu bahwa di balik sikap kejam dan kenakalannya, Tuan mudanya itu memiliki sisi yang lembut.


"Kita berangkat sekarang, Pak!" ucap Gara ketika dia telah sampai di depan Pak Iman.


Dua orang asisten rumah tangga berjalan di belakangnya dengan membawakan tas sekolah dan tas kantornya.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Saya sudah siap."


Pak Iman membukakan pintu untuk Gara dan membantu menata barang-barangnya. Waktu tempuh perjalanan tidak bisa diprediksi dengan pasti. Semuanya tergantung kemacetan dan ramainya pengguna jalan.


Meskipun hari masih sangat pagi, Gara seringkali datang tepat pada saat bel tanda masuk berbunyi. Berbeda ketika dia berangkat menggunakan motornya, dia bisa melintasi jalan-jalan kecil untuk mempersingkat waktu.


Ketika Gara tiba di sekolahnya, anggota Grup Dragon sudah menunggunya di depan parkiran. Mereka lebih solid kepadanya dan mendukung perjuangannya.


"Pagi, Ra!" sapa Daud mewakili teman-temannya.


"Pagi." Gara menjawab secara singkat.


"Gue mau ketemu Nabil dulu. Kalian duluan saja pergi ke kelas." Gara membuka topik memecah keheningan di antara mereka.


"Kita boleh ikut?" celetuk Daud.


Gara memberinya tatapan tidak senang yang sontak membuatnya buru-buru untuk meralat ucapannya.

__ADS_1


"Gue hanya bercanda. Kita nggak akan ganggu waktu lo sama Nabil." Daud menepuk bahu Gara lalu mengambil jalan yang berbeda.


Jalan menuju ke kelas Nabila berbeda dengan jalan menuju ke kelas mereka.


Nayla berlari-lari kecil menghampiri Gara saat dia tahu dia datang seorang diri. Dia bisa leluasa mendekatinya tanpa keberadaan Nabila di sisinya.


"Pagi, Ra! Boleh ganggu sebentar?" tanya Nayla berbasa-basi.


"Sejak kapan gue suka diganggu?" ketus Gara tanpa melihat Nayla sedikitpun.


"Galak amat! Gue cuma mau kasih lo undangan ke ultah gue. Kali aja lo mau dateng karena gue juga mengundang Nabila." Nayla memancing reaksi Gara dengan menyebutkan nama Nabila.


Usahanya berhasil. Gara menghentikan langkahnya dan mengambil kartu undangan Nayla dengan kasar. Meskipun dia tidak mengatakan apapun, Nayla sangat yakin jika Gara akan datang ke pestanya.


'Ini kesempatan gue buat ngerjain Nabila. Semua rasa sakit ini harus gue balas. Gue nggak terima kalah saing dari seorang gadis udik dan miskin sepertinya.' Nayla tersenyum penuh dendam.


Sebisa mungkin dia akan menutupi rasa bencinya dan berpura-pura baik untuk beberapa hari ini. Targetnya harus hadir tanpa kecurigaan.

__ADS_1


***


__ADS_2