
Laeli beranjak dari duduknya dan pergi tanpa membawa apapun. Dia tidak ingin lagi berada di sana. Keadaan sedang tidak berpihak padanya dan tidak mungkin baginya untuk melawan Gara.
Setelah kepergian Laeli, Gara mulai bekerja. Dengan bantuan Theo dia mulai mempelajari dan mengatur tindakan untuk mengontrol perusahaan. Usianya sudah 18 tahun sehingga sudah masuk ke dalam syarat sebagai ahli waris jika sesuatu yang buruk terjadi pada orang tuanya.
"Pak Theo, apakah gue harus terjun langsung atau bisa wakil ke el ... kamu." Gara mencoba merubah panggilan 'elu', 'gue' yang sudah mendarah daging dalam kesehariannya.
Theo tersenyum melihat usaha Gara. Dalam hati dia menyemangati tuan mudanya tersebut.
"Tuan harus ikut. Saya akan memperkenalkan Anda pada staf dan relasi perusahaan. Mereka akan mengerti karena kondisi Tuan Gerald memang tidak memungkinkan untuk bekerja," jelas Theo.
Gara mengangguk.
Sejujurnya hatinya masih merasa ragu untuk melangkah. Butuh keberanian untuk menjalankan perusahaan yang begitu besar. Banyak bidang usaha yang dikendalikan oleh perusahaan ini.
Dibalik kenakalannya, Gara sebenarnya merupakan sosok yang cerdas. Semua penjelasan dari Theo bisa dipahaminya dengan mudah. Hari itu, pekerjaan yang dijalaninya berjalan dengan lancar.
"Tuan, sore ini saya berencana untuk melihat keadaan Tuan Gerald dan nyonya ke rumah sakit. Apakah Anda mau ikut?" tanya Theo.
"Ak-aku juga akan pergi ke sana." Gara sangat berhati-hati karena belum terbiasa mengucapkan kata aku dan kamu.
Keduanya pun berkemas karen jam pulang kerja telah dekat. Beberapa berkas penting dan rahasia dimasukkan ke dalam brangkas dan sebagian lain dibawa pulang oleh Gara. Sebelumnya hanya Theo dan Gerald saja yang mengetahui kode untuk membuka brangkas, kini dia menunjukkannya juga pada Gara.
Setelah semuanya beres keduanya keluar dari kantor bersama-sama untuk pergi ke rumah sakit. Laeli melihat kepergian mereka dari dinding kaca yang ada di ruangannya. Sepertinya ada yang direncanakan dan telah menantikan saat ini tiba.
'Aku harus bergerak cepat untuk mendapatkan beberapa aset milik Gerald. Perusahaan yang aku rintis harus segera terealisasi. Kemenangan sudah di depan mata. Bocah berandal itu akan aku singkirkan setelah semuanya beres.'
Merasa keadaan sudah aman, Laeli segera bergegas ke ruangan direktur. Sebelumnya dia meletakkan sejumlah surat kepemilikan di rak bagian bawah. Sesampainya di sana, Laeli langsung menuju ke tempat tersebut.
Keadaan rak penyimpanan berkas sudah berantakan, tidak seperti ketika dia meninggalkannya terakhir kali. Untuk memudahkan pencarian, Laeli duduk berjongkok dan memeriksa satu persatu berkas yang ada di sana.
"Aku tidak mungkin lupa. Waktu itu aku meletakkannya di sini." Laeli mulai kesal saat dia tidak menemukan berkas yang dia cari.
Seluruh rak sudah diperiksa dengan baik tetapi berkas itu tidak ada lagi di sana. Rupanya sebelum kecelakaan terjadi, Sarah pergi ke ruangan Gerald dan menemukan berkas itu. Merasa berkas itu sangat penting, dia lalu menyimpannya di brankas pribadinya.
__ADS_1
"Sial! Ini pasti ulah Theo." Laeli terlihat geram.
Perusahaan telah sepi, hanya tersisa beberapa orang karyawan yang sedang lembur. Keberadaan Laeli di sana membuat mereka bertanya-tanya. Sebagian dari mereka tahu jika Laeli memiliki kedekatan istimewa dengan atasannya.
Sepertinya orang seperti Laeli sudah tidak mempedulikan rasa malu. Dia bersikap acuh seolah tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Gerald. Sebagian orang menilai bahwa apa yang dilakukannya terlalu nekat mengingat istri sah selingkuhannya berada di perusahaan yang sama.
Wajah kesalnya tidak bisa disembunyikan lagi. Laeli melajukan mobilnya menuju ke sebuah bar. Dengan cara inilah dia menghilangkan stres dan berharap menemukan sebuah solusi untuk masalahnya.
Seorang pria tampan datang menyambutnya. Dia adalah Jasson, sang pemilik bar yang juga merupakan sahabatnya. Mereka adalah teman kuliah yang menjalin persahabatan sejak lama.
"Malam, Cantik!" sapa Jasson sambil membentangkan tangannya.
"Malam," jawab Laeli membalas pelukan Jasson dan keduanya berciuman sekilas.
"Tumben lu nongol, biasanya lu selalu sibuk?" tanya Jasson berbasa-basi.
Pertanyaan Jasson hanya ditanggapi dengan senyuman misterius Laeli. Selama ini Jasson tahu apa yang terjadi padanya dan segala yang dilakukannya bersama Gerald. Laeli membawanya ke bar ini beberapa kali.
Seperti biasanya, Jasson menyediakan ruangan khusus untuk Laeli agar bisa berbicara lebih intens. Di dalam ruangan itu tersedia berbagai jenis minuman beralkohol dari berbagai merk yang biasa dikonsumsi oleh Jasson.
Laeli yang semula duduk bersandar beranjak dengan malas untuk menerima gelas bir yang diberikan oleh Jasson. Keduanya kini duduk saling berdekatan.
"Gerald kecelakaan. Gue pikir gue bisa memegang perusahaannya saat dia sekarat. Nyatanya enggak," jelas Laeli.
"Kog bisa?" Jasson mengernyitkan dahinya.
"Anaknya yang berandalan itu datang ke perusahaan dan mengacaukan segalanya. Asisten Theo juga mendukungnya. Kamu tahu kan, Theo tidak mudah untuk disogok."
Kini Jasson mulai mengerti akan penyebab kemurungan Laeli. Namun, dia belum memiliki solusi yang tepat untuknya.
Laeli menatap jengah ke arah Jasson yang hanya diam saja. Dia lalu menenggak habis minuman di gelasnya dan mengisinya kembali. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika dia mabok, ada Jasson yang akan mengurusnya.
"Jangan diem aja, Jass! Kasih solusi lah buat masalah ini," rengek Laeli.
__ADS_1
Jasson tampak menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya dengan kepala mendongak ke atas. Matanya terpejam saat berpikir. Ini tidak berlangsung lama kemudian dengan cepat dia kembali menegakkan tubuhnya.
Pergerakkan Jasson membuat Laeli merasa heran. Dia menatapnya dengan penasaran.
"Gue ada ide!" seru Jasson.
Laeli tampak pasrah saat Jasson menariknya mendekat dan membisikinya sesuatu. Bola matanya terlihat membulat sempurna setelah mendengar rencana Jasson. Hatinya merasa ragu untuk melakukan ide gila sahabatnya itu.
"Lu gila, Jass! Jangan bilang ini hanya akal-akalan lo aja buat mengambil keuntungan dariku!" Laeli menatap Jasson dengan tatapan menyelidik.
Orang yang ditatap malah cengingisan. Wajahnya yang tidak menunjukkan sebuah keseriusan membuat Laeli terlihat semakin kesal. Dengan gemas dia mencubit lengan Jasson untuk meluapkan kekesalannya itu.
"Auw! Auw! Sakit ... Ahh! Galak bener. Piss!" Jasson mengacungkan dua jarinya meminta perdamaian.
"Dasar tukang julit!" ucap Laeli dengan wajah marah tetapi terlihat menggemaskan.
"Sumpah, gue serius! Kalau nggak mau ya sudah." Kini Jasson pura-pura jual mahal.
Laeli tidak menanggapi ucapan Jasson dan memilih untuk kembali menikmati minumannya. Dalam diamnya dia memikirkan ide dari Jasson dan mempertimbangkan banyak hal.
'Sepertinya ide ini tidak buruk. Jujur aku tidak memiliki perasaan apa pun pada Jasson tetapi demi kekayaan Gerald aku harus melakukannya. Untuk mendapatkan sesuatu yang besar memang dibutuhkan pengorbanan.' Laeli tampak menimbang-nimbang.
Untuk mengurangi rasa gugupnya, Laeli meminum alkohol hingga setengah mabuk. Sebisa mungkin dirinya harus mempertahankan kesadarannya dan membuat kesepakatan dengan Jasson.
"Ok, gue setuju ide lo," jawab Laeli mantap.
"Nah, gitu dong. Kita santai dulu. Gue bisa lihat dari wajah lo kalau saat ini kamu tegang. Relax aja. Bayangin kalau gue adalah orang yang lo sayang."
"Hmm." Laeli mengangguk pelan.
Di rumah sakit,
Theo dan Gara sedang berada di kamar perawatan Gerald dan Sarah. Hingga detik ini, kondisi keduanya masih kritis. Mereka belum sadarkan diri meskipun sudah banyak mengalami perkembangan.
__ADS_1
Banyak sekali pesan yang masuk ke ponsel Gara tetapi dia mengabaikannya. Dia tidak tahu jika Nabila dan anggota Grup Dragon sedang menuju ke sana untuk menjenguk orang tuanya.
***