I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 30. Berangan-angan


__ADS_3

Di tempat lain, Kenzi sedang bersantai di balkon kamarnya. Dia berdiam di sana hingga hari gelap. Pemandangan yang biasa dia lihat setiap hari terasa berbeda dan begitu istimewa.


Angan-angannya melambung. Kenzi membayangkan jika saat ini sedang bersama Nabila dan berdiri menikmati malam. Kebersamaan mereka akhir-akhir ini membuat mereka semakin dekat dan membuatnya tertarik.


'Sorry, Ra. Jika lo cuma menganggap Nabila hanya sebatas cewek taruhan, gue nggak rela. Menurutku Nabila adalah cewek yang pantas untuk diperjuangkan. Gue nggak akan ngebiarin dia sedih dan sakit hati setelah lo putusin sehabis taruhan berakhir.'


Kenzi tidak merasa jika dirinya telah mengkhianati Gara karena setahunya hubungan keduanya hanya sebatas taruhan. Meskipun tidak ingin menembaknya dalam waktu dekat, Kenzi bertekad akan terus mendekati Nabila.


Sebelum turun untuk makan malam, Kenzi mengambil ponselnya dan melihat potret Nabila di galeri. Rupanya diam-diam dia mengambil gambarnya. Posenya sangat tidak beraturan tetapi cukup untuk mengobati rasa rindunya.


Setelah merasa puas, Kenzi meletakkannya dan turun untuk bergabung bersama keluarganya. Di rumahnya sedang ada tamu yang secara tidak sengaja melihatnya keluar kamar. Kenzi menyabet buku yang ada di atas meja dan berjalan mondar-mandir di lantai dua rumahnya.


'Bukankah itu mamanya Nabil? Oh, tidak! Semoga saja dia tidak mengenaliku.' Kenzi sedikit mengangkat buku yang dia baca agar wajahnya tidak terlihat jelas.


"Jeng, itu putramu? Wah, sudah besar, ya!" tanya Rasti.


"Iya, Jeng. Sudah delapan belas tahun. Sebentar lagi lulus SMA. Aku panggilkan, ya?" Hera beranjak untuk memanggil Kenzi.


Rasti ikut beranjak dan memegang tangannya. Sebelum Kenzi keluar dia sudah berpamitan untuk pulang. Tidak mungkin dia tinggal lebih lama lagi karena sopirnya sudah menunggu di luar.

__ADS_1


"Tidak perlu, Jeng Hera. Lain kali saja. Suamiku sebentar lagi juga akan pulang kerja, tidak enak kalau aku masih keluyuran di luar," tolak Rasti secara halus.


"Baiklah kalau begitu. Lain kali bawa putrimu main-main kemari, siapa tahu mereka berjodoh." Hera berbicara sambil tersenyum.


Guyonan yang sebenarnya juga harapan. Rasti adalah saudara jauh suaminya. Menjodohkan anak-anak mereka akan membuat hubungan kekeluargaan di antara mereka kembali erat.


"Jeng Hera ini ada-ada saja. Anak muda jaman sekarang mah susah. Kebanyakan mereka berteman dengan orang-orang yang ketemu lewat sosial media. Ya, sudah aku permisi dulu. Assalamualaikum," pamit Rasti.


"Wa'alaikum salam. Eh, siapa tahu nyantol. Kita bisa jadi besan." Hera menutup mulutnya yang sedang tertawa kecil.


Keduanya berjalan sambil terus melempar candaan. Hera mengantar Rasti sampai ke depan pintu dan menunggunya hingga tak terlihat lagi. Senyumnya memudar sesaat setelah kepergiannya lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya.


"Mana anak nggak sopan itu. Sepertinya mau main-main sama mamanya. Sudah lihat ada tamu bukannya turun dan menyapa malah pura-pura membaca buku," omel Hera sambil berjalan menuju ke ruang tengah.


Kenzi bersiul-siul sambil berjalan menuruni tangga. Dia tahu jika mamanya sedang kesal tetapi dia tidak menganggapnya serius. Dengan bersikap sedikit manis maka sikapnya akan berubah dengan cepat.


"Malem mamaku sayang." Kenzi merentangkan tangannya bersiap untuk memeluk Hera.


Hera menggeser tubuhnya dan membuang muka.

__ADS_1


"Jangan mencoba merayu-rayu mama! Sudah dibilang kalau ada temen mama suruh menyapa dan salim, kamu malah pura-pura nggak lihat." Hera mengungkapkan kekesalannya.


Kenzi meringis memamerkan deretan gigi putihnya. Dia sudah bisa menebak jika mamanya akan bicara seperti itu.


"Maaf. Suer, tadi Ken beneran lagi fokus menghapal. Kalau ikut mama ngobrol bisa hilang semua hapalan sore ini," jelas Kenzi begitu fasih.


"Alesan. Awas kalau lain kali diulangi!" ancam Hera.


"Janji, Ma!" Kenzi mengacungkan kedua jarinya sebagai tanda perdamaian.


Keduanya akhirnya tidak memperpanjang masalah ini dan pergi bersama-sama ke ruang makan. Kenzi duduk sambil menikmati olahan yang sudah terhidang sedangkan mamanya sibuk menghangatkan beberapa lauk. Papanya tidak pulang malam ini karena ada urusan pekerjaan di luar kota.


Selama berada di ruang makan Kenzi sering kali senyum-senyum sendiri. Semuanya tidak luput dari perhatian Hera. Sebagai seorang ibu dia tentu hafal betul tabiat anaknya.


"Ehemm!" Hera berdehem cukup keras.


Kenzi masih tetap dengan lamunannya. Tangannya mengaduk-aduk makanan di piringnya dan tidak segera menyendoknya. Bayangan wajah Nabila membuatnya merasa enggan untuk melepaskan lamunannya.


Merasa diabaikan, Hera kembali berdehem lebih keras lagi. Namun, lagi-lagi tidak membuat Kenzi tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


'Nih, anak kenapa, ya? Apa jangan-jangan dia sedang jatuh cinta? Tapi mana mungkin ada cewek yang mau sama kulkas dua pintu macam dia.' Hera mencoba menebak-nebak.


***


__ADS_2