
Nabila membonceng dengan posisi menyamping. Tidak ingin roknya tersibak, dia menutupinya dengan tas.
"Pegangan yang erat, Bil. Kalau lo jatuh, gue juga yang repot!" seru Kenzi.
"Iya." Nabila memegang bahu Kenzi.
Tampaknya apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh Kenzi. Kenzi meraih tangan kanan Nabila dengan cepat lalu melingkarkannya di pinggang.
Apa yang dilakukan oleh Kenzi sedikit mengejutkannya. Dia mencoba untuk menerima ini tetapi bukan karena pasrah. Motor Kenzi telah melaju sesaat setelah dia melingkarkan tangannya, akan sangat berbahaya jika dia melepaskan pegangannya dan membuatnya kehilangan keseimbangan.
'Mentang-mentang satu geng, nih, anak sama ngeselinnya kayak Gara. Tapi Ken sedikit lebih ramah dan pengertian. Ah, bicara apa aku ini.' Nabila segera mengabaikan pendapatnya tentang Kenzi.
Toko buku yang mereka tuju tidak terlalu jauh dari sekolah. Mereka sampai di sana dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Meskipun sedang mendung, toko terlihat ramai oleh pengunjung.
Setelah memarkirkan motornya, Kenzi mengajak Nabila untuk masuk ke toko buku. Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan keduanya. Kebetulan dia sedang membeli kue di sebelah toko buku.
Toko buku yang mereka kunjungi penuh sesak dengan pengunjung. Rupanya hari ini toko mengadakan banyak diskon. Nabila pun menjadi kalap dan memborong banyak buku.
'Gue tahu lo bakalan seneng saat gue ajak pergi ke sini, Bil.' Kenzi tidak mengalihkan pandangannya dari Nabila dan tersenyum.
Sebenarnya Kenzi sengaja membawa Nabila datang ke sini karena dia tahu jika Nabila sangat senang membaca. Kemarin dia datang ke sana seorang diri untuk membeli buku kemudian mendapatkan brosur promo tentang diskon hari ini.
"Buku yang mau kamu beli mana, Ken?" tanya Nabila saat melihat Ken sedang melamun.
"Eh, itu, gue sedang mencarinya." Kenzi tampak gugup, secara reflek tangannya menggaruk tengkuknya spontanitas.
"Belum nemu?" tanya Nabila lagi.
__ADS_1
Kenzi menggeleng. Dia tidak tahu harus menjawab apa karena buku yang dia butuhkan sudah dibelinya kemarin.
"Baiklah! Setelah aku selesai nanti aku bantu kamu." Nabila berbalik dan kembali memilih buku.
Kenzi tidak ingin jauh darinya. Dengan berlagak seperti sedang mencari buku, dia mengamati Nabila secara diam-diam. Wajah cantiknya begitu menarik dan membuatnya terpesona.
Nabila mengincar sebuah buku yang berada di rak yang cukup tinggi. Dia terlihat kesulitan untuk mengambilnya. Secara mengejutkan, Kenzi datang dan mengambilkan buku yang diinginkan Nabila. Tubuhnya yang jangkung membuatnya begitu mudah untuk mencapai tempat yang cukup tinggi.
Posisi berdiri mereka sangat dekat. Tubuh bagian depan Kenzi menyentuh tubuh bagian belakang Nabila. Setelah mendapatkan buku, Kenzi segera menarik tubuhnya ke belakang untuk menjauh.
Awalnya Nabila berpikir jika bukunya diambil oleh orang lain tetapi setelah berbalik dan mendapati jika Kenzi yang mengambilnya, dia merasa lega.
'Cewek ini tidak waspada sama sekali. Mengapa dia diam saja saat gue mendekatinya? Apa karena dia tahu jika itu gue?' Kenzi bertanya-tanya dalam hati.
"Terimakasih," ucap Nabila sambil merebut buku yang masih berada di tangan Kenzi.
"Sama-sama." Kenzi berusaha bersikap normal meskipun sebenarnya sedang berangan tentang kekasih sahabatnya itu.
"Sudah." Kenzi menunjukkan sebuah buku yang ada di tangannya.
Nabila mengangguk tanpa ingin tahu buku apa yang dibeli oleh Kenzi. Keduanya lalu berjalan menuju ke kasir untuk membayar. Di tengah perjalanannya, Nabila dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menarik tangannya.
Matanya terbelalak saat melihat orang tersebut. Dia tidak menyangka jika akan bertemu dengannya di sini.
"Mama!" pekik Nabila.
Ucapannya yang cukup keras membuatnya menjadi pusat perhatian. Tangannya secara reflek langsung menutup mulutnya.
__ADS_1
"Selamat sore, Tante!" Dengan sopan Kenzi mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan mama Nabila.
"Selamat sore." Rasti tersenyum ramah pada Kenzi.
Nabila tidak ingin mamanya merasa salah paham dan berpikir jika Kenzi adalah teman spesialnya. Ada beberapa guru di sekolah yang mengenal baik mamanya, dia yakin pasti salah satu dari mereka memberitahukan perihal kedekatannya dengan Gara.
"Dia teman sekolah Nabil, Ma. Kebetulan kami ketemu di sini." Nabila berbohong pada mamanya.
Rasti hanya tersenyum. Sebenarnya dia tahu jika Nabila sedang berbohong karena dia melihat mereka masuk bersama. Namun, dia tidak mempermasalahkan hal itu, putrinya adalah orang yang sangat tertutup dan mungkin saja saat ini dia merasa malu.
"Ya, sudah. Kapan-kapan ajak teman-temanmu main ke rumah. Sudah lama kamu tidak pulang." Rasti berhambur memeluk Nabila penuh kerinduan.
"Iya, Ma. Aku ke kasir dulu, ya, Ma. Antriannya panjang soalnya."
"Hmm." Rasti mengangguk. "Mama tidak bisa berlama-lama di sini, teman mama menunggu di mobil. Jaga dirimu baik-baik, Sayang."
"Pasti, Ma."
Keduanya kembali berpisah. Dengan berat hati Rasti melepaskan Nabila tinggal jauh darinya. Meskipun begitu, dia tetap mengawasinya dari jauh secara diam-diam tanpa sepengetahuannya.
'Selamet, selamet. Untung mama tidak nanya macem-macem. Bisa amsyong deh aku.' Nabila menghembuskan napas lega saat melihat mamanya keluar dari toko buku.
"Kemarikan buku lo! Lo tunggu saja sambil duduk!" perintah Kenzi.
"Tap-tapi ...," ucap Nabila terputus karena Kenzi sudah merebut keranjangnya.
"Sudah! Lo duduk sana, gih!"
__ADS_1
Nabila akhirnya menurut karena takut kembali menjadi pusat perhatian. Berada di tempat umum memang sangat rentan untuk itu.
***