
Ting!
Sebuah pesawat masuk ke ponsel Gara. Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam, tidak biasanya ada orang yang mengganggunya di jam-jam segini. Merasa sangat penasaran, dia segera mengambil ponsel untuk memeriksanya.
Semangat, Ra. Jangan tidur terlalu larut! Kamu juga harus memikirkan kesehatanmu.
Pesan singkat Nabila diakhiri dengan emoticon love.
Gara yang semula berwajah masam mendadak tersenyum. Ucapan Nabila terasa begitu manis baginya. Perhatian kecil ini membuatnya melupakan kekesalannya.
Sebelumnya Gara sangat tersiksa oleh rasa curiga dan cemburunya. Pekerjaannya menjadi terbengkalai. Dalam beberapa jam dia telah menghabiskan beberapa bungkus rokok.
Kini semuanya telah berlalu. Gara terlihat sumringah saat berbalas pesan dengan Nabila. Di dalam pesannya Nabila tidak menutupi pertemuannya dengan Kenzi.
Walaupun hatinya merasa nyeri ketika mendengar kekasihnya menyebut nama pria lain, Gara lega karena Nabila jujur tentang apa yang dilakukannya saat sedang tidak bersamanya.
Dia kembali meletakkan ponselnya setelah Nabila berpamitan untuk tidur.
'Sorry kalau gue bohongin elu, Nab. Gue nggak suka menunda pekerjaan. Gue harus menyelesaikannya malam ini juga.' Gara kembali fokus dengan pekerjaannya dan berbohong pada Nabila kalau dia juga akan segera tidur.
Perubahan yang signifikan dalam hidup Gara. Sebelum ini, dia menghabiskan waktunya untuk hura-hura dan berkeliaran dengan bebas. Sementara sekarang, sedikitpun dia tidak bisa bersantai.
__ADS_1
Urusan pekerjaannya selesai hampir tengah malam. Sebenarnya dia sudah sangat mengantuk tetapi masih harus terjaga. Tugas sekolahnya belum tersentuh sama sekali.
'Aneh. Dulu aku merasa begitu sulit dengan tugas-tugas ini, tapi sekarang terasa begitu mudah. Sebenarnya apa yang membuatku begitu bodoh?' Sebelah sudut bibir Gara terangkat menghasilkan senyum sinis yang menertawakan dirinya sendiri.
Kurang dari satu jam dia telah berhasil menyelesaikan pekerjaan sekolahnya. Pikirannya begitu segar saat dia mengerjakan sesuatu dengan serius. Mungkin selama ini dia terlalu menyepelekan masalah sekolahnya.
Tidak ada penyesalan di hati Gara karena semuanya belum terlambat. Sekarang dia sangat yakin jika dirinya akan lulus dengan hasil yang memuaskan.
Banyak sekali ilmu-ilmu baru yang dia peroleh dari Theo. Administrasi perkantoran dan manajemen perusahaan berkaitan dengan pelajaran di sekolahnya. Secara tidak disengaja dia telah menguasai semuanya sebelum guru mengajarkan.
Tidak ingin terlambat bangun esok pagi, Gara segera menyimpan tugas-tugasnya dan beristirahat. Matanya tidak bisa dikondisikan lagi. Dalam waktu singkat, dia telah berpindah ke alam mimpi.
Laeli dan Jasson terlihat semakin intens. Keduanya sering menghabiskan waktu berdua di apartemen Laeli. Mereka mulai melibatkan perasaan satu sama lain.
Baik Jasson maupun Laeli sama-sama berambisi untuk merebut harta milik Gerald. Keduanya sepakat tetap akan melanjutkan hubungan mereka setelah Laeli berhasil mendapatkan bagiannya.
Beberapa persen saja cukup untuk membuat mereka memulai hidup baru. Saat ini mereka sedang berbahagia karena Laeli telah berhasil dengan rencana pertamanya.
"Walaupun anak kita lo jadikan senjata untuk menyerang Gara, lo tetap harus menjaganya baik-baik. Gue nggak rela kalau harus kehilangan dia." Jiwa kebapakan Jasson muncul setelah tahu Laeli mengandung benihnya.
"Tentu saja, Honey. Mana mungkin aku membahayakan anak kita. Aku janji, setelah berhasil mendapatkan harta Gerald, kita akan memulai hidup baru di luar negeri." Laeli memeluk tubuh Jasson dengan tangan yang memainkan jarinya di atas dada kekasihnya itu.
__ADS_1
"Gue ikutin kemauan lo selama tidak membahayakan diri lo. Tanpa harta Gerald gue bisa kasih makan kalian tapi gue nggak keberatan jika lo berusaha mendapatkan harta itu. Lakukan semuanya dengan rapi dan cepat selagi Gerald belum sadar secara penuh."
Laeli mengangguk.
"Aku akan bergerak setelah ini. Bocah ingusan itu tidak akan tahu tentang hal-hal seperti ini. Dia pasti percaya jika aku mengatakan bahwa anak yang dikandung adalah adik kandungnya." Laeli tersenyum jahat sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Bagus. Besok lo harus pergi ke rumah sakit." Jasson merapatkan tubuhnya pada Laeli dan memberinya kecupan kecil di kepalanya.
"Tentu saja. Tetapi aku akan pergi ke perusahaan dan memeriksa sekali lagi berkas penting yang aku sembunyikan. Aku masih belum yakin jika berkas itu raib begitu saja." Laeli masih terlihat kesal jika mengingat kebodohannya.
Jika berkas itu ada di tangannya, dia tidak perlu hamil untuk mendapatkan harta Gerald. Dia masih berharap bisa menemukan berkas itu di ruangan Gerald.
"Lo akan berurusan dengan Gara." Jasson terlihat khawatir.
"Kamu tenang saja. Gara sekarang datang ke perusahaan setelah pulang sekolah. Theo terlalu sibuk. Aku akan masuk ke ruangan Gerald saat keduanya tidak ada," jelas Laeli.
"Cerdas!" Jasson tersenyum bangga.
Keduanya saling berciuman yang berujung sebuah cumbuan mesra. Dengan tubuh yang masih sama-sama polos, mereka kembali mengulang percintaannya malam itu. Mereka memadu kasih hingga sama-sama tak berdaya.
***
__ADS_1