
Nabila tidak menjawab ucapan Gara. Orang-orang yang mengelilinginya terlihat sangat beringas. Dia tidak tahu apakah mereka adalah orang yang sama yang mengejar Gara semalam atau bukan.
Keenam pria itu turun dari motornya tanpa melepas helm. Salah satu diantaranya berjalan menghampiri Gara dan memberinya isyarat untuk turun. Nabila pun ikut turun dan berdiri di belakangnya, dia tidak ingin meninggalkannya begitu saja meskipun keadaan terasa mencekam.
'Aku pernah berlatih ilmu beladiri tapi sekalipun belum pernah menghadapi lawan secara nyata. Walaupun mungkin tidak bisa mengalahkan mereka, setidaknya aku bisa bertahan jika mereka menyerangku.' Nabila mulai terlihat waspada.
"Ra! Lo nggak bisa keluar gitu aja dari Club! Keluar berarti berkhianat!" seru salah seorang pria yang tidak terlihat jelas wajahnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah Gara.
"Sorry. Gue udah nggak bisa lagi. Rahasia kalian aman. Sebaiknya kita hidup dengan jalan masing-masing." Gara tetap terlihat tenang.
Seorang anggota lain berjalan mendekati Nabila dan menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Cantik juga. Jadi, lo berubah gara-gara cewek ini?" Tangannya berusaha untuk mencolek dagu Nabila tetapi tidak berhasil karena Nabila menghindar dengan cepat.
"Bukan urusan lo," ketus Gara.
Jawabannya yang mengambang membuat yang lainnya merasa penasaran. Mereka terus menduga-duga karena selama ini Gara terkenal dingin pada wanita.
"Semua yang berhubungan dengan lo adalah urusan kami juga. Jika dia yang menjadi penghalang bagimu untuk tetap bergabung di club makan lo harus putusin dia sekarang juga!" gertak anggota Club Dr. Macine yang pertama berbicara.
__ADS_1
"Keputusan gue nggak ada hubungannya dengannya." Gara terlihat waspada ketika seseorang berjalan mendekati Nabila. "Jangan sentuh dia!"
Beberapa anggota Club Dr. Macine tertawa. Salah seorang di antara mereka maju dengan cepat dan menarik lengan Nabila. Hal tak terduga ini membuat Nabila belum siap dan tidak bisa langsung melawan.
Saat Gara ingin maju dan menyusulnya, seseorang datang dengan pukulan ke arahnya. Beruntung Gara bisa menghindar meskipun saat ini pikirannya tengah terbagi.
Kekhawatiran Gara membuat Nabila bersemangat. Meskipun dia tidak menganggap hubungan keduanya serius tetapi dia berniat untuk membantunya. Dua orang yang menahannya terlihat lengah, ini adalah sebuah kesempatan yang bagus untuknya.
Pegangan di tangan Nabila terlalu erat, dia akan kesulitan jika ingin melepaskan diri dengan menariknya. Dia harus mencari cara lain.
'Aku harus mengumpulkan keberanianku untuk melawan mereka.' Nabila melirik ke arah dua pria disampingnya secara bergantian.
Mula-mula Nabila menggerakkan kakinya dan melakukan tendangan ke samping. Gerakan itu begitu cepat dan secara bergantian membuat dua pria yang menahannya merintih kesakitan.
Apa yang dilakukannya mengundang perhatian Gara dan empat anggota club yang sedang berkelahi. Mereka terkejut saat melihat Nabila berhasil lepas. Bukan itu saja, Nabila terus menyerang keduanya tanpa memberikan kesempatan bagi mereka untuk membalas.
"Sial! Wanita itu ternyata bisa beladiri," ucap salah seorang anggota club yang sedang melawan Gara.
Gara tersenyum melihat aksi yang dilakukan oleh Nabila. Dia kembali bersemangat dan bangkit dari keterpurukannya. Tidak ingin terlihat memalukan, dia pun kembali menghajar anggota club yang telah memberinya beberapa pukulan.
__ADS_1
'Nggak salah gue jadiin elo pacar,' gumam Gara dalam hati saat melihat Nabila datang menghampirinya untuk membantu.
Dua lawannya berhasil dia lumpuhkan dan kini dia ingin membantu Gara. Tubuh kecil Nabila tampak begitu gesit memainkan jurus-jurusnya. Melihat beberapa anggotanya terluka cukup parah, anggota Club Dr. Macine pun akhirnya memilih mundur.
Nabila dan Gara saling berpandangan dengan napas yang memburu. Keringat membasahi wajah dan tubuh keduanya. Mereka tampak kelelahan setelah selesai bertarung.
"Maaf dah melibatkan elo dalam bahaya. Lagi-lagi gue berhutang," ucap Gara setelah bisa menguasai dirinya kembali.
"Tidak perlu meminta maaf. Sudah malam, sebaiknya kamu pulang sekarang. Orang tuamu pasti akan kebingungan mencarimu."
Kalimat terakhir Nabila membuat Gara tersenyum sinis tapi dia tidak ingin membahasnya.
"Gue anterin lo sampai kosan." Gara naik ke atas motornya.
Nabila menghampirinya tetapi bukan untuk membonceng. Dia menyerahkan jaket Gara dan berbalik.
"Kosku sudah dekat. Berhati-hatilah!" Nabila berbicara sambil lalu.
Gara mengepalkan tangannya dan memukul tangki motornya dengan pelan namun penuh emosi. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
__ADS_1
***