
Nabila berusaha melewati Gara tetapi tidak berhasil. Motor Gara melintang di hadapannya dan menghalangi jalan.
"Ikut gue! Ada yang ingin gue omongin sama lo," ucap Gara sambil membuka kaca helmnya.
Walaupun tidak terbuka secara penuh tetapi Nabila bisa mengenali pemilik mata dan suara itu. Tersimpan keraguan di hatinya, apakah harus ikut atau menolak ajakan Gara.
"Sorry, aku harus pulang ke kosan."
Gara meraih tangan Nabila dan menggenggamnya erat saat melihatnya akan berlalu.
"Sebentar saja. Jangan sampai kita menjadi pusat perhatian orang-orang yang melintas," bisik Gara merendahkan nada suaranya.
Nabila menghela napas kasar. Dengan malas dia mengangguk lalu berjalan menuju ke jok belakang untuk membonceng. Genggaman tangan Gara terlepas secara perlahan seiring dengan langkahnya.
Rok sekolah Nabila sedikit tersibak ketika dia membonceng. Gara yang melihatnya kebingungan menutupi pahanya yang terbuka dari spion.
"Pakai ini!" seru Gara sambil menyerahkan jaketnya.
"Tap-tapi ...." Nabila tampak ragu-ragu menerimanya.
Gara tidak berkata apa-apa lagi dan menyalakan mesin motornya. Dia tidak terburu-buru menjalankannya sebelum Nabila selesai melilitkan jaketnya di pinggang untuk menutupi pahanya.
Mereka lalu berputar arah dan memulai perjalanannya. Nabila tidak tahu ke mana Gara akan membawanya pergi. Kota ini sangat baru baginya, dia merasa asing dan tidak tahu arah.
__ADS_1
Dengan satu helm, tidak mungkin bagi Gara untuk membawanya melewati jalan raya. Dia berkendara melalui jalan-jalan kecil dan gang sempit menuju ke tempat tujuannya.
Setelah sekitar lima belas menit berkendara, keduanya sampai di sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Gara menghentikan motornya di sebuah jembatan yang penuh dengan coretan grafiti.
Sungai di bawahnya tidak terlalu bersih tetapi udara di tempat itu cukup segar. Ada banyak pepohonan dan lahan kosong di kanan kiri jembatan.
Nabila turun dari motor Gara dan berjalan menghampiri pagar jembatan. Pandangannya turun ke bawah dan melihat derasnya air sungai yang sesekali membawa sampah.
Gara menyusulnya lalu berdiri di sampingnya. Tangan kanannya merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sekotak rokok beserta koreknya. Apa yang dilakukannya tidak luput dari perhatian Nabila hingga kepulan asap berhembus dari mulut Gara.
"Terimakasih sudah menolongku semalam," ucap Gara memulai percakapannya.
"Hmm." Nabila mengangguk.
"Lo tinggal sendirian di kota ini?" tanya Gara lagi.
"Iya. Orang tuaku harus bekerja."
Gara mengangguk-angguk sembari memikirkan pertanyaan selanjutnya. Sejujurnya dia tidak pandai berbasa-basi.
"Lo sudah punya pacar belum?"
Pertanyaan Gara membuat Nabila terkesiap. Secara reflek dia memberikan tatapan tak mengerti pada Gara.
__ADS_1
'Nih, orang apa-apaan, sih? Kenal juga baru, bisa-bisanya dia bertanya tentang hal yang bersifat pribadi,' omel Nabila dalam hati.
"Mau nggak jadi pacarku?"
Ucapan sebelumnya saja sudah membuat Nabila syok kini ditambah lagi dengan pernyataan cinta yang tiba-tiba dari Gara. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan pria aneh di hadapannya itu.
"Lo pasti bingung dan berpikir ini gila. Jujur gue nggak berpengalaman nembak cewek dan lo yang pertama."
'Ya Tuhan, jangan sampai aku pingsan di sini. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Astaga, rasanya ngeri-ngeri sedap seperti sedang bermain paralayang.' Nabila terlihat gugup.
Kegugupannya semakin bertambah saat Gara memegang kedua bahunya dan membuat mereka saling berhadapan.
"Aku ... aku ...," ucap Nabila gugup.
"Nggak usah terburu-buru menjawabnya. Gue tunggu sampai lo tahu jawabannya." Gara melepaskan tangannya lalu berjalan menuju ke ujung pagar dan duduk di atas cor beton yang datar.
Nabila terpaku di tempatnya. Baru kali ini dia bertemu dengan orang yang menurutnya sangat aneh. Dia melihat Gara begitu santai menikmati rokok di tangannya.
'Sumpah aku benar-benar tidak tahu harus bilang apa. Apa aku berbohong saja kalau sudah punya pacar, ya? Tapi bagaimana kalau Gara tahu yang sebenarnya dan berbuat yang tidak-tidak. Penampilannya sangat menakutkan ditambah lagi sikapnya terlihat begitu dingin. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?'
Nabila menggigit bibirnya sambil terus berpikir. Dia tidak menyangka jika akan menerima banyak hal yang mengejutkan di awal kepindahannya ke kota ini.
***
__ADS_1