
Laeli tersenyum penuh kemenangan. Dia menatap ke arah Jasson seolah meminta pendapatnya. Pria itu pun mengangguk.
"Baiklah, Anak Manis. Aku akan melepaskan gadis ini tapi setelah kamu menyerahkan semuanya." Laeli tidak lantas percaya dengan ucapan Gara.
"Nggak! Lepaskan dia dulu! Lo tahu keadaan gue, gue nggak mungkin bisa melawan dan keluar dari sini dengan selamat jika mengkhianati elo!" Gara mencoba bernegosiasi.
Dia teringat jika ada polisi yang berkeliaran di luar klub. Gading pasti akan langsung mengenali Nabila dan menyergap mereka. Atau mungkin saat ini mereka sudah tahu jika saat ini dia sedang ditawan bersama Nabila.
"Bagaimana, Jass?" tanya Laeli.
"Tidak masalah. Buang saja gadis ini di jalan! Terserah nasibnya gimana setelah itu yang penting kita sudah melepaskannya." Jasson tersenyum sadis.
"Jahat!" Gara menatap penuh emosi tetapi sebenarnya dia menutupi rasa bahagianya.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan Nabila karena di luar ada beberapa polisi yang akan menolongnya.
Laeli memerintahkan dua orang untuk melepaskan ikatan Nabila dan dua orang lainnya untuk mengikat Gara. Mereka memapah tubuh Nabila dengan sedikit menyeretnya karena dia tidak sadarkan diri.
Gara memejamkan matanya dan berdoa semoga Nabila bisa segera bertemu dengan ayahnya. Namun, belum selesai penjahat itu mengikat tubuhnya, terdengar suara gaduh di luar ruangan dan pintu dibuka dengan keras.
Gading datang bersama beberapa personil polisi. Mereka adalah orang-orang baru. Kemungkinan besar, saat Gara sedang bernegoisasi dengan Laeli mereka sudah mengetahuinya dan mencari bala bantuan.
Laeli, Jasson dan anak buahnya tidak bisa berkutik lagi. Mereka ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Harapannya untuk merampas harta orang tua Gara hanya tinggal kenangan.
__ADS_1
Gading melepaskan ikatan Gara dan membawanya keluar dari ruangan itu. Klub sudah sepi. Mungkin para pengunjung yang berada di sana pergi saat rombongan polisi datang.
"Bagaimana keadaan Nabila, Pak?" tanya Gara khawatir.
"Dia sudah aman. Mari kita susul ke mobil dan membawanya ke rumah sakit biar segera ditangani." Gading memapah Gara yang sebenarnya tidak apa-apa.
Di luar klub ada banyak mobil polisi. Gara terkejut saat melihatnya tetapi dia merasa tenang. Dia tidak peduli apa yang akan dilakukan pada klub dan para pelaku kejahatan.
"Pak, kita bawa Nabila ke rumah sakit yang sama dengan tempat orang tua saya di rawat. Di sana akan lebih aman untuknya. Rumah sakit itu telah bekerjasama dengan perusahaan kami sejak lama," jelas Gara.
"Boleh-boleh saja. Kebetulan rumah sakit itu tidak terlalu jauh dari sini. Lagi pula, Nabila bukan orang yang lemah, dia tidak akan kenapa-kenapa."
Gara mengangguk. Dia tidak menyangka jika dibalik kehidupan Nabila yang sederhana, dia merupakan putri seorang kepala polisi.
Nabila melihat ke setiap sudut ruangan dan mendapati ayahnya sedang mengobrol bersama Gara. Keduanya terlihat akrab dan membuatnya keheranan.
'Itu, kan, papa sama Gara. Sejak kapan mereka saling mengenal? Bagaimana bisa mereka menjadi dekat?' Nabila bertanya-tanya dalam hati.
Cukup lama Nabila tersadar tetapi dia tidak memanggil ayahnya dan Gara hingga keduanya melihatnya.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Gading sambil beranjak dari duduknya.
Gara mengikutinya berjalan di belakangnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi, Pa? Bagaimana aku tiba-tiba berada di sink?" tanya Nabila masih dengan suara yang lemah.
"Ceritanya panjang. Sebentar lagi mamamu juga akan segera datang kemari." Gading tidak ingin menceritakan apa yang terjadi padanya sebelum dia mengingatnya sendiri.
Nabila lalu menoleh ke arah Gara. Mereka saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keberadaan Gading membuatnya merasa segan.
'Putriku sudah beranjak dewasa. Sepertinya aku harus memberinya kesempatan untuk berbicara dengan pacarnya. Aku tidak boleh menjadi orang tua yang kolot. Gara adalah anak yang baik.'
"Papa pergi keluar cari minum dulu." Gading berpamitan pada Nabila.
"Tapi, Pa." Nabila terlihat tidak ingin ditinggal tetapi Gading mengabaikan dan hanya mengerlingkan sebelah matanya.
Gara tampak mengulum senyumnya. Walaupun terlihat samar, dia terlihat sangat bahagia. Dia lalu berjalan mendekati Nabila dan duduk di samping tempat tidurnya.
"Nab, gue udah bilang sama bokap lo. Kita bisa melanjutkan hubungan kita untuk lebih serius," ucap Gara sambil tersenyum-senyum.
"Apa? Jadi, kamu bilang kalau kita pacaran? Mampus, deh, aku!" Nabila tampak syok.
Gara mengangguk.
"Pak Gading nggak keberatan, kog," jawab Gara dengan santai.
Nabila meringis. Setelah ini dia harus siap-siap untuk diinterogasi oleh papa dan mamanya. Selama ini dia sangat tertutup kepada mereka berdua tentang hal yang bersifat pribadi.
__ADS_1
*** End ***