I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 21. Kunjungan


__ADS_3

Pengamanan untuk Gerald dan Sarah sangat ketat. Pihak rumah sakit telah bekerja dengan kepolisian untuk ini atas permintaan Gara. Keadaan ini membuat Nabila dan yang lainnya tertahan di depan pintu kamar perawatan.


Di kejauhan terlihat dua orang pelayan Gara datang untuk berganti sif jaga. Salah satu di antara mereka mengenal anggota Grup Dragon karena beberapa kali telah bertandang ke rumah Gara.


"Tuan Ken, Tuan Daud, dan ...." Dia tampak mengingat-ingat nama Birawa.


"Birawa, Bik."


"Ah, iya, Tuan Birawa." Pelayan Gara mengangguk-angguk dan tersenyum.


"Bik, kita ingin menjenguk Tante Sarah dan Om Gerald, nih. Apakah beneran nggak boleh masuk?" tanya Daud.


Pelayan Gara tampak diam berpikir. Dalam hal ini dirinya tidak memiliki wewenang untuk menjawab sama sekali. Segala keputusan ada di tangan Gara yang kebetulan juga ada di sana.


"Saya kurang tahu, Tuan. Sebentar, saya tanyakan dulu pada Tuan Gara." Pelayan Gara berbalik untuk masuk ke dalam ruangan perawatan.


Teman-teman Gara saling berpandangan. Mereka tidak menyangka jika dia ada di sini sementara pesan-pesan yang mereka kirim sejak kemarin tidak satu pun dia buka. Ada pun pesan yang dikirim oleh Nabila juga tidak direspon sama sekali.


"Jadi, Gara ada di sini?" Birawa tampak kesal mendapatkan perlakuan seperti ini.


"Jangan berpikiran negatif! Bayangin jika kamu berada di posisinya saat ini," ucap Nabila membela.


Meskipun ingin mendebat tetapi Birawa berusaha menahan dirinya mengingat mereka sedang berada di rumah sakit. Di saat yang sama pergantian sif penjaga sedang berganti. Kebetulan Nabila mengenali salah seorang polisi yang kemarin dijumpainya.


"Nabil minta ijin untuk masuk ke dalam, Om. Mau ketemu Gara."


"Boleh." Polisi itu mengijinkan Nabila masuk ke ruang perawatan menyusul pelayan yang sudah masuk terlebih dahulu.


Ketiga teman Gara mengikutinya di belakang tetapi polisi itu menghadangnya. Mereka terlihat tidak terima tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Di dalam ruangan terlihat Gara sedang mengobrol bersama Theo. Kemungkinan pelayannya belum memberitahukan kedatangannya bersama Grup Dragon. Hal ini terlihat jelas dari keterkejutannya ketika melihat Nabila masuk ke dalam ruangan.


"Nabil! Kapan kamu datang?" tanya Gara sambil berjalan menyongsong ke arahnya.


Theo ikut berdiri menyambut Nabila.


Nabila masih tidak percaya dengan penglihatannya saat mendapati Gara terlihat begitu rapi. Mendadak dia melupakan semua yang ada di sekitarnya dan merasa masuk ke dalam dunia yang berbeda di mana hanya ada dirinya dan Gara.


"Hei! Lu terpesona sama ketampanan gue, ya?" Gara kembali berucap.


Nabila tampak malu-malu setelah tersadar dari kebengongannya.

__ADS_1


"Ih, apa-apaan!" sanggah Nabila.


Gara mengulurkan tangannya dan mencubit pipi Nabila dengan gemas. Jika sudah bersama, mereka lupa akan keadaan di sekitarnya.


"Kenapa nggak ngabarin dulu kalau mau datang? Kan, aku bisa jemput kamu." Gara membelai pipi Nabila dan menatapnya penuh perasaan.


Ucapan Gara menyadarkan Nabila akan sesuatu. Mendadak wajahnya terlihat serius. Dia teringat akan ketiga teman Gara yang menunggu di luar.


"Eh, aku sudah mengirim pesan dan ... itu, em, di luar ada teman-teman kamu juga."


Dunia mereka berganti pada kenyataan. Nabila terlihat canggung saat melihat Theo dan pelayan Gara sedang menatap mereka.


"Oh, ya!" Gara merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.


Ternyata memang benar, ada banyak sekali pesan yang masuk. Sejak kemarin dia belum membuka ponselnya. Tidak ingin membuat teman-temannya menunggu lebih lama, Gara pun pergi keluar untuk menjemput mereka.


Satu persatu teman-temannya memeluknya secara bergantian sebagai bentuk dukungan mereka. Mereka turut berempati terhadap musibah yang menimpa orang tua Gara.


"Yang sabar, Ra." Kenzi berbisik seraya menepuk bahu Gara.


Mereka kemudian berjalan mendekat ke arah Gerald dan Sarah yang terbaring lemah dengan berbagai alat kesehatan yang menempel di tubuhnya. Hanya doa yang mereka panjatkan untuk kesembuhan mereka.


"Thanks semuanya dah nyempetin datang menjenguk bokap nyokap," ucap Gara kemudian.


Gara menanggapinya dengan senyuman.


Theo memasuki ruangan dengan membawa sekeranjang minuman dingin dan camilan.


"Tuan, saya membawakan minum untuk Anda dan teman-teman," ucap Theo sambil meletakkan minuman di atas meja.


"Makasih, Pak." Gara lalu berbalik melihat ke arah teman-temannya.


"Minum dulu, gaes. Kalian pasti haus," ujarnya lagi.


"Sorry ngerepotin. Kita jadi nggak enak," jawab Daud.


"Nggak kog."


Mereka berlima duduk bersama dan meminta Gara untuk menceritakan kejadian naas yang menimpa orang tuanya. Mereka tidak bisa berlama-lama di sana karena rumah sakit membatasi jam besuk pasien. Setidaknya pertemuan singkat ini bisa membuat Gara merasa lebih tegar menghadapi masalahnya.


Setelah sekitar tiga puluh menit berada di sana, Daud dan kawan-kawan pun berpamitan. Theo juga memiliki urusan yang harus dia kerjakan. Malam ini dia memiliki janji dengan penyidik yang menangani kecelakaan Gerald.

__ADS_1


"Nab, please lo di sini bentar, ya," mohon Gara ketika melihat Nabila berjalan di belakang Daud dan yang lainnya.


Nabila mengangguk. Rasanya tidak kuasa dia menolak permintaan Gara.


"Kalian duluan aja. Aku mau di sini bentar." Nabila meminta Daud dan yang lainnya pulang lebih dulu.


"Ok!" jawab Kenzi mewakili yang lain.


Kini hanya tinggal mereka berdua saja di ruangan itu selain orang tua Gara. Wajah lelah Gara membuat Nabila merasa prihatin. Di usianya yang masih sangat muda, Gara harus menghadapi masalah sebesar ini.


Gara merebahkan kepalanya di pangkuan Nabila.


"Nab, gue tidur bentar, ya. Jam tujuh lo bangunin!" perintah Gara.


"Iya ... tidurlah!" Nabila terlihat pasrah.


Masih butuh waktu sekitar dua jam untuk mencapai jam tujuh. Waktu yang cukup lama untuk menahan diri tidak bergerak sama sekali. Bisa dibayangkan kaki dan punggung Nabila akan terasa kaku dan juga kram.


Beruntung semua itu tidak terjadi karena sebelum jam tujuh dokter sudah datang untuk memeriksa orang tua Gara. Namun, kedatangan mereka yang mendadak membuat Gara terbangun dengan paksa dan menimbulkan rasa pusing di kepalanya.


"Dok, tolong periksa aku sekalian. Tiba-tiba saja kepala rasanya pusing." Gara berbicara kepada dokter yang sedang memeriksa orang tuanya.


"Baik, Tuan. Tunggu sebentar!" Dokter tersenyum dengan sabar.


Gara menelungkup di pangkuan Nabila sambil menggenggam rambutnya kuat-kuat sedangkan Nabila membantu memijit kening dan pelipisnya.


"Sebaiknya kamu beristirahat di rumah saja. Aku akan mengantarmu setelah ini," ucap Nabila.


Gara mengangguk. Kepalanya benar-benar terasa sangat pusing saat ini.


Dokter memberikan resep obat jalan untuk Gara. Mereka segera pergi dari rumah sakit dengan diantar oleh Pak Iman.


Di dalam mobil, Gara terlihat manja pada Nabila. Pak Iman tidak menyangka jika pria dingin dan berandalan itu telah memiliki kekasih. Rasa herannya kian bertambah saat melihat Nabila yang terlihat begitu anggun dan kalem menjadi pasangannya.


'Dunia ini memang aneh. Cewek secantik dan sekalem ini mau jadi pacar berandalan macam Tuan Gara.' Pak Iman mengomentari keduanya dalam hati.


Pesaing bisnis orang tua Gerald terus mengawasi gerak-gerik Gara. Diam-diam mereka membayar seseorang untuk mengikuti mobil mereka. Baik Gara maupun Pak Iman belum menyadari jika saat ini mereka menjadi target pengintaian.


Sepanjang perjalanan, tidak banyak yang mereka obrolkan. Gara terlihat menahan rasa sakit di kepalanya. Obat yang diminum belum menunjukkan reaksinya.


Nabila terkesiap ketika mobil yang dia tumpangi memasuki sebuah kompleks perumahan elite. Selama menjadi kekasihnya, Gara tidak banyak bercerita tentang keluarganya. Ini kali pertamanya dia menginjakkan kaki di rumahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2