I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 16. Ada Rasa


__ADS_3

"Kamu yang maksa aku buat jadi pacarmu, apakah kamu juga akan memaksaku untuk melupakanmu? Jangan lupa, aku memiliki perasaan yang tidak bisa kamu permainkan sesuka hati kamu."


Ucapan Nabila membuat Gara terkesiap. Tiba-tiba dia ingat tentang taruhan yang dilakukannya bersama teman-temannya. Hatinya merasa bersalah pada Nabila.


'Nggak seharusnya gue mempermainkan perasaan wanita sebaik Nabil. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur. Sepertinya gue beneran suka sama dia.' Gara bermonolog dalam hati sambil menatap Nabila dengan perasaan yang tidak menentu.


"Gue cuma takut aja kalau lo nyesel," ucap Gara lirih.


Nabila tidak berkata-kata lagi. Dia menyandarkan kepalanya di pundak Gara dengan tangan yang merangkul lengannya.


"Aku tau pernyataan cinta kamu begitu mengejutkan tapi aku menghargai keberanian dan kejujuran kamu karena cinta memang tidak memiliki alasan. Meskipun kamu badung, aku tetap ingin bertahan dan menjadikanmu cowok yang aku impikan."


Perasaan bersalah kembali memporak-porandakan hati Gara. Nabila terlalu baik untuknya. Suatu saat dia akan jujur mengatakan tentang taruhan yang dia buat bersama teman-temannya.


"Nabil, jangan pernah tinggalin gue." Gara memegang tangan Nabila dengan erat.


Mereka lalu duduk saling berhadapan dan saling menatap satu sama lain. Di tengah kesedihannya, Gara menemukan secercah kebahagiaan. Kehadiran Nabila membuat hatinya yang rapuh sedikit terobati.


Untuk beberapa saat mereka larut dalam gelombang perasaan yang membuat keduanya melupakan semua hal yang ada di sekelilingnya. Suara pintu terbuka menyadarkan keduanya dari ketenangan. Seorang dokter dan dua orang perawat datang untuk memeriksa orang tua Gara.


Nabila menarik kepalanya yang semula bersandar di bahu Gara. Dia lalu menggeser tubuhnya untuk sedikit menjauh. Wajahnya sedikit memerah ketika dokter dan perawat yang datang tersenyum melihat dirinya dan Gara.


"Permisi, saya mau memeriksa pasien. Apakah Anda keluarganya?" tanya dokter.


"Saya anaknya, Dok." Gara berdiri dan berjalan mendekat menghampiri dokter dan perawat.


"Baik. Saya akan menanyakan beberapa keterangan tentang orang tua Anda."


"Baik, Dok." Gara mengangguk.


Mereka memeriksa ayah dan ibu Gara secara bergantian. Mereka berdua belum sadarkan diri meskipun hasil pemeriksaan secara keseluruhan terlihat baik-baik saja.


Sarah mengalami luka di kepala sedangkan Gerald mengalami cidera di kaki kirinya. Mengenai kondisi fisik mereka secara spesifik, dokter belum mengetahuinya secara jelas. Diagnosis baru bisa dilakukan jika pasien telah sadar dan mengeluhkan sesuatu.


"Kita doakan yang terbaik. Semoga mereka baik-baik saja," ucap Nabila setelah dokter dan perawat pergi dari ruangan itu.


"Amin .... Besok gue akan pergi ke perusahaan dan memeriksa keamanan di sana. Mungkin nggak bisa jemput elu."

__ADS_1


"Tidak masalah." Nabila tersenyum penuh arti.


Waktu berlalu begitu cepat dan malam telah turun. Gara telah meminta asisten rumah tangganya untuk datang dan bergantian menjaga orang tuanya. Banyak hal yang harus dilakukannya selama mereka sakit.


Sekitar pukul delapan malam, dua orang asisten datang. Gara kemudian berpamitan untuk pergi mengantarkan Nabila. Setelah itu dia akan pulang ke rumah dan menyiapkan segala keperluannya untuk besok.


Langit mendung tak berbintang. Udara yang berhembus membawa titik-titik air yang sangat halus. Diperkirakan hujan akan segera turun dalam waktu dekat.


Benar saja, ketika mereka hampir sampai di tempat kost Nabila, hujan deras mengguyur mereka. Gara tidak berhenti untuk berteduh karena memang sudah sangat dekat. Keduanya tiba dengan basah kuyup.


"Kita kehujanan. Bagaimana ini?" Nabila terlihat bingung.


Hari sudah malam. Rasanya tidak enak jika meminta Gara berteduh tetapi derasnya hujan juga tidak mungkin untuk dilawan.


"Boleh gue ikut masuk?"


Nabila mengangguk. Teras rumah tidak teduh lagi. Hujan terlalu lebat sehingga sangat dingin ketika berada di luar.


"Baju kamu basah. Sepertinya kamu harus memakai bajuku yang agak besar." Nabila pergi ke lemari dan mencari baju yang cocok untuk Gara.


Setelah baju olahraga berwarna pink menjadi pilihannya. Hanya baju ini yang memiliki ukuran paling besar di antara yang lainnya.


"Maaf, cuma ini yang agak besar. Tapi kamu harus segera mandi dan mengganti pakaianmu." Nabila menyodorkan baju dan handuk untuk Gara.


Jauh dari perkiraan Nabila, Gara langsung menerima baju itu. Dia sangat menghargai niat baiknya meskipun tidak menyukainya.


Saat Gara mandi, Nabila buru-buru mengganti bajunya dengan yang kering dan menyeduh coklat hangat untuk mereka berdua. Rencananya setelah mandi dia akan membuat mie instan juga.


"Ada coklat panas di atas meja. Kamu bisa meminumnya untuk menghangatkan badan. Aku mandi dulu," pamit Nabila. Dia ingin cepat-cepat ke kamar mandi karena tidak sanggup untuk menahan tawa melihat penampilan Gara.


"Ok."


Gara mengambil cangkir berisi coklat panas di atas meja. Ada dua cangkir di sana dan salah satunya sudah kosong.


Secangkir coklat panas di tangan Gara sudah habis tetapi Nabila belum juga kembali.


'Gue bingung mau ngapain. Celana ini terlalu ketat. Rasanya nggak nyaman banget.' Gara pergi ke tempat tidur Nabila dan mengambil selimutnya.

__ADS_1


Di luar hujan masih sangat deras sehingga tubuhnya menggigil kedinginan. Masih ada beberapa luka terbuka di tubuhnya yang belum kering. Gara menganggap luka-luka itu sebagai hal yang tidak penting.


"Jangan tidur dulu! Habis ini kita bikin mie instan," ucap Nabila sambil menggantung baju basah mereka di pojok ruangan.


"Gue ngantuk. Lo aja yang makan." Gara menyembunyikan tubuhnya di balik selimut dan hanya menampakkan kepalanya saja.


"Hmm." Nabila tidak percaya jika Gara tidak lapar.


Nabila mengambil dua buah pop mie dan menyeduhnya dengan air panas. Aroma wanginya menyebar ke seluruh ruangan. Sudah pasti Gara akan tergoda setelah menciumnya.


'Heran aku. Kenapa Gara nggak juga merespon. Alamat aku harus menghabiskan dua porsi sendirian.' Nabila tidak berhasil membuat Gara tergoda dengan mie buatannya.


"Gara! Yakin kamu nggak mau coba sesuapan," ucap Nabila tidak menyerah.


Gara membuka selimutnya dan berbalik ke arah Nabila. "Apaan, sih? Berisik banget."


Nabila tersenyum menanggapi omelan Gara.


Akhirnya Gara bangun dengan malas dan berjalan mendekati Nabila. Dia sudah disambut oleh sesuap mie yang telah ditiup oleh Nabila. Dengan ragu-ragu dia membuka mulutnya karena sebelumnya dia jarang sekali makan mie instan.


Perasaan akrab mulai terasa di lidah Gara. Dia pun akhirnya terpancing untuk makan mienya sendiri dan merebutnya dari tangan Nabila.


"Aku sudah menyedihkannya untukmu. Kembalikan punyaku!" Nabila berusaha untuk merebutnya kembali tetapi Gara menggeser tubuhnya dan menghalanginya.


"Lo ambil aja punyaku. Gue suka yang ini."


Nabila pun akhirnya menyerah dan mengalah untuk Gara. Dalam hati dia menahan tawa saat melihat betapa lucunya kekasihnya itu terbalut baju berwarna pink.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tetapi hujan belum kunjung reda. Gara terlihat bingung setelah selesai dengan makanannya.


"Nab, lo ada selimut serep enggak? Biar gue tidur di lantai dulu. Kayaknya hujan nggak bakal reda dalam waktu dekat."


Sejujurnya Nabila tidak terbiasa tinggal sekamar dengan seorang pria. Sebelumnya Gara menginap di sana dalam keadaan terluka dan keduanya tidak saling mengenal. Berbeda dengan keadaan mereka saat ini yang telah menjalin hubungan.


Seperti paham akan kekhawatiran Nabila, Gara pun berinisiatif untuk menenangkannya.


"Gue tau kalau gue pria brandal. Tapi gue bukan pria mesum yang suka mengencani wanita. Lo nggak usah takut. Kehormatan lo sama berharganya dengan hidup gue."

__ADS_1


Ucapan Gara membuat Nabila terpukau. Tidak seharusnya dia berpikir yang tidak-tidak tentangnya dan menilai orang dari penampilan luarnya saja.


***


__ADS_2