I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 35. Terbongkar


__ADS_3

Sebenarnya Kenzi tidak memiliki suatu hal untuk dikatakan. Meskipun sudah dipersilakan dia terlihat diam dan berpikir untuk menyiapkan kata-kata.


"Gue mau tanya sama kalian apakah sudah memikirkan untuk melanjutkan kuliah di mana? Bagaimana kalau kita kuliah di universitas yang ada di kota ini saja?" Kenzi terlihat begitu konyol dengan pertanyaannya.


Gara menatapnya dengan jengah. Pertanyaan garing itu membuatnya semakin yakin jika Kenzi datang hanya untuk mengganggunya. Sepertinya dia tidak bisa lagi menahan diri untuk terus bersabar.


Tangan Gara menepuk bahu kiri Kenzi dan sedikit mencengkeramnya. Sorot matanya yang tajam membuat nyali lawan bicaranya menciut.


"Nggak perlu berputar-putar dengan pertanyaan nggak penting. Jujur saja sama gue, lo suka kan sama Nabil?" Pertanyaan menohok yang sulit untuk dielakkan.


Laju darah Kenzi terasa berdesir. Pertanyaan menjebak yang diajukan oleh Gara membuatnya terpojok. Beberapa saat dia terdiam dan berpikir.


"Sikap diam lo sudah cukup membuat gue tahu bahwa lo memang suka sama Nabil."


Nabila terkejut dengan pernyataan Gara. Ketegangan di antara mereka berdua membuat suasana mulai memanas. Terlebih lagi Kenzi tidak menyangkal atau mengiyakan tuduhan dari Gara.


'Sepertinya aku harus menjadi penengah dalam masalah ini. Mereka berdua tidak boleh bertengkar di sini dan menjadi pusat perhatian.' Nabila bermonolog dalam hati.


"Tenanglah, Ra! Kasih kesempatan Kenzi buat menjelaskan semuanya. Kita sudah hampir lulus sekolah tidak ada salahnya dia bertanya tentang hal ini." Nabila berusaha untuk menenangkan Gara.


Kini Gara beralih menatap ke arah Nabila. Meskipun apa yang dikatakannya cukup masuk akal tetapi dia tidak lantas percaya begitu saja. Sebagai teman yang sudah mengenal Kenzi sejak lama, dia tahu betul seperti apa dirinya.


"Lo nggak tahu apa-apa, Nab. Gue lebih tahu seperti apa Kenzi lebih dari siapapun," tegas Gara.


Nabila memutar tubuhnya dan memberi Kenzi tetapan penuh rasa penasaran. Dia tidak akan percaya begitu saja jika tidak mendengarnya secara langsung. Seandainya semua yang dikatakan oleh Gara benar maka dia harus menjaga jarak dengan Kenzi mulai hari ini.


Butuh pertimbangan untuk mengungkapkan sebuah kejujuran. Semakin dia berbohong maka akan semakin sulit baginya untuk mendapatkan hati Nabila. Walaupun pada akhirnya dia harus menghadapi kemarahan Gara dan mempertaruhkan persahabatan mereka, Kenzi akan tetap mengatakan isi hatinya yang sebenarnya.


"Ok! Gue akan jujur sama lo." Kenzi menatap tajam ke arah Gara dan Nabila secara bergantian.


Ketegangan di antara mereka semakin terasa. Nabila terlihat harap-harap cemas menantikan ucapan dari Kenzi. Sejujurnya dia belum siap untuk menghadapi suasana seperti ini.

__ADS_1


"Sejujurnya gue ... gue emang suka sama Nabil. Ini ungkapan dari hati gue yang paling dalam dan gue tulus sama perasaan ini."


Mata Nabila membelalak tak percaya. Apa yang ditakutkannya akhirnya terjadi juga. Dirinya kini harus dihadapkan pada situasi yang sulit.


Bugh!


Sebuah tinju melesat menghantam wajah Kenzi. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Kenzi tidak siap dengan pukulan Gara sehingga membuatnya terhuyung.


Wajah Gara memerah menahan marah. Sebuah pukulan belum puas untuk meluapkan rasa sakit hatinya. Perasaan dikhianati mendorongnya untuk menyiapkan pukulan keduanya.


Jika terus berlanjut, keduanya akan berurusan dengan guru bimbingan konseling. Tidak ingin keadaan semakin kacau, Nabila segera menghentikan Gara dengan berdiri di hadapannya.


"Hentikan, Ra! Kalian bisa membicarakan ini baik-baik. Jangan berpikir jika aku akan berpaling darimu hanya karena mendengar Ken menyatakan perasaannya!" Nabila mencoba meyakinkan Gara


"Gue nggak nyangka aja orang yang gue anggap teman tega melakukan ini padaku. Di saat gue terpuruk seperti ini, dia tega membuatku semakin terpuruk." Gara menatap ke arah Kenzi penuh kebencian.


Genderang perang telah ditabuh. Sudah terlambat bagi Kenzi untuk menyesal. Terlanjur kacau, dia tidak ingin mundur lagi.


Satu-satunya hal yang dipikirkannya adalah Nabila. Bagaimana pun caranya dia harus tetap mendapatkannya.


Ungkapan Kenzi membuat Nabila bertanya-tanya. Kini dia dihadapkan dengan masalah yang lebih kompleks lagi. Tiba-tiba hatinya merasa sangat nyeri.


"Jangan membuatku bingung! Bicaralah yang jelas!" Nabila berbicara dengan suara berat.


Kenzi mulai mendapatkan kesempatan. Dia yakin jika setelah ini Gara tidak akan bisa berkutik.


"Tanyakan saja pada pria yang mengaku menyayangimu ini, apakah dia benar-benar menyayangimu atau hanya memanfaatkanmu!" Kenzi berbicara dengan setengah meledek.


Gara terdiam. Taruhan itu memang benar dan dia tidak bisa mengelak. Namun, dia juga tidak pernah membohongi Nabila tentang perasaannya.


'Gue belum siap dengan semua ini. Apakah Nabila akan memaafkanku dan percaya dengan semua yang aku katakan? Kenzi, lo benar-benar bangsat! Sampai kapan gue nggak akan pernah maafin lo!' Gara mengepalkan tangan kuat-kuat dan mencoba berdamai dengan hatinya.

__ADS_1


"Gue emang pria brengsek, Nab. Tapi gue nggak pernah main-main dengan semua yang gue katakan sama lo. Soal taruhan itu memang benar adanya tetapi gue tidak pernah menganggap itu ada."


Penjelasan Gara terdengar seperti suara petir yang menyambar tubuhnya. Harga dirinya terasa seperti dipermainkan oleh Gara dan Kenzi.


"Semuanya sudah cukup jelas. Terimakasih kalian sudah mempermainkan perasaanku. Semoga ke depannya kalian tidak melakukan hal seperti ini. Selamat tinggal!"


Nabila tidak tahan lagi berada di tengah-tengah mereka. Rasa kecewa bercampur sakit hati membuatnya tidak berdaya. Walaupun tidak menitikkan air mata, batinnya menjerit dan tidak sanggup untuk menerima.


Gara tidak bisa menahan dirinya lagi. Baru beberapa langkah Nabila pergi dari tempat itu, dia kembali menghajar Kenzi. Keduanya terlibat baku hantam dan saling berteriak.


Semuanya terdengar jelas di telinga Nabila tetapi rasa sakit hati mengalahkan kepeduliannya. Langkahnya yang pelan dan terlihat linglung menggambarkan betapa hancurnya perasaannya saat ini.


Daud dan Birawa berlari dari kejauhan. Mereka berpapasan dengan Nabila dan terlihat bingung dengan sikapnya. Keduanya tidak sempat menyapa dan memilih untuk pergi melerai Kenzi dan Gara.


Birawa memegang tubuh Gara sedangkan Daud memegangi Kenzi. Perkelahian telah berhenti tetapi adu mulut masih terus terjadi. Gara mengungkapkan penyesalannya dan menganggap Kenzi sebagai penghianat.


Nabila mendengar semuanya tetapi hatinya masih terlalu sakit untuk percaya. Dalam sekejap Gara bisa membuatnya jatuh cinta dan juga membuatnya hancur.


'Sumpah demi apapun, aku tidak menyangka jika aku hanya dianggap sebagai permainan. Apakah mereka pikir aku sebuah piala yang harus diperebutkan? I'm Not A Game.' Hati Nabila benar-benar sakit mengingat semua perlakuan Gara dan teman-temannya.


Ini pertama kalinya bagi Nabila terlambat masuk ke kelas setelah jam istirahat. Guru mata pelajaran sudah mengajar ketika dia tiba.


Nabila berdiri di depan pintu hingga guru datang menghampirinya.


"Dari mana saja kamu? Jam pelajaran sudah dimulai sepuluh menit yang lalu," tanya Siska guru pelajaran matematika yang saat ini mengajar di kelasnya.


"Maaf, Bu. Saya dari kamar mandi. Bolehkah saya masuk dan mengikuti pelajaran?" tanya Nabila.


"Strap aja, Bu! Dia pasti habis pacaran sama berandal sekolah. Beri dia hukuman, Bu!" seru Nayla seperti menemukan celah untuk membalas sakit hatinya pada Nabila.


Siska menatap tajam ke arah Nayla dan membuatnya terdiam. Nabila adalah murid baru di sana dan ini pertama kalinya dia melakukan pelanggaran. Dia berpikir sejenak untuk menentukan sikap.

__ADS_1


***


__ADS_2