I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 9. Brokenhome


__ADS_3

Prang! Prang!


Terdengar suara benda pecah di ruang makan. Gara segera berlari dan melihat apa yang terjadi. Rupanya ibunya terhuyung-huyung dan jatuh dengan posisi bersandar.


Para pelayan di rumahnya tampak berlarian menuju ke ruang makan dan membantu nyonya rumahnya untuk berdiri. Tanpa pikir panjang lagi, Gara segera menghampirinya dan mengangkat tubuh ibunya.


"Bantu aku menyiapkan kotak P3K!" seru Gara sambil membawa ibunya dengan cepat.


"Baik, Tuan."


Seorang pelayan mengikutinya dan membantu untuk membukakan pintu. Sementara yang lain mengambil kotak P3K dan menyiapkan minuman untuk ibu Gara.


Gara memberikan pertolongan pertama untuk ibunya dengan menggosokkan minyak angin di telapak tangan dan kakinya. Setelah itu dia meletakkan minyak angin yang terbuka di depan hidung ibunya.


"Bantu pijit kakinya!" perintah Gara pada salah seorang pelayan.


"Baik, Tuan."


Perlahan tubuh Sarah yang semula dingin mulai menghangat. Aroma minyak angin yang menyengat membuatnya menggeliat dan mendapatkan kembali kesadarannya.


Samar-samar Sarah mulai bisa melihat orang-orang yang mengelilinginya. Seulas senyum menghiasi wajah pucatnya ketika melihat putranya sedang duduk di hadapannya.


"Kamu sudah pulang, Sayang?" tanyanya lirih.


"Sudah, Ma. Apa yang mama rasakan saat ini? Kita ke dokter, ya, Ma?" Gara memegang tangan Sarah.

__ADS_1


Wajahnya terlihat sangat sedih melihat kondisi ibunya.


Sarah menggeleng lalu berkata, "Tidak perlu, Sayang. Mama hanya kelelahan saja. Beberapa hari ini mama lembur, jadi kemungkinan hanya kurang tidur."


"Mbak tolong minumnya!" Gara meminta pelayan untuk mengambilkan minum yang sudah mereka siapkan sebelumnya.


Sarah mencoba bangun dan tidur dengan setengah duduk agar bisa minum. Seorang pelayan membantunya hingga dia merasa nyaman.


"Terimakasih. Kalian boleh kembali beristirahat." Sarah mengucapkan terimakasih pada para pelayannya dan meminta mereka beristirahat mengingat hari sudah gelap.


"Baik, Nyonya. Jika membutuhkan sesuatu, Nyonya bisa memanggil kami."


Sarah mengangguk dan menatap kepergian para pelayannya. Kini di ruangan itu tinggal dirinya dan Gara saja.


Tidak ada gunanya berkomentar panjang lebar, rasanya percuma saja. Sudah sering dia memperingatkan Gara untuk lebih rapi dan tidak berkelahi tetapi dia tetap mengulanginya. Sarah hanya bisa menghela napas dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Apakah mama membutuhkan sesuatu?" tanya Gara memecah kebisuan di antara mereka.


"Mama baik-baik saja. Kamu istirahatlah."


Gara tidak tega meninggalkan ibunya sendirian dalam keadaan sakit. Dia tidak tahu apakah ayahnya akan pulang hari ini atau tidak. Kedua orang tuanya sama-sama sibuk dan jarang memiliki waktu untuk berkumpul.


"Aku akan menelepon papa dan memintanya untuk pulang."


Sarah memegang tangan Gara saat putranya itu akan mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Papamu sedang sibuk. Dia juga harus menghandle beberapa pekerjaan mama."


Sorot mata Gara berubah. Tidak ada lagi kelembutan yang sebelumnya dia tunjukkan untuk Sarah. Menurutnya, kedua orang tuanya lebih mementingkan pekerjaan dan harta ketimbang kesehatan dan keluarganya.


"Ok! Kalau begitu urus saja diri kalian sendiri!" ketus Gara.


Sikapnya kembali berubah menjadi dingin. Dia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ibunya begitu saja. Percuma dia peduli dan memberi perhatian padanya, toh ibunya lebih mementingkan perusahaan ketimbang diri dan keluarganya.


Sarah menatap nanar kepergian Gara. Dia merasa telah gagal menjadi seorang ibu dan berpikir semua yang dilakukannya sudah benar.


"Semua yang kami lakukan itu demi dirimu, Sayang. Kami tidak ingin kamu hidup susah di masa depan." Sarah bergumam lirih tanpa ada seorang pun yang mendengarnya.


Di kamarnya, Gara melemparkan tasnya ke atas sofa lalu pergi ke kamar mandi. Rasa perih yang dihasilkan ketika air menyentuh luka-lukanya menjadi pengingat jika dirinya masih hidup. Selama ini dia merasa terabaikan dan tidak dipedulikan oleh orang tuanya.


Hatinya terasa kosong dan jauh dari kasih sayang. Segala fasilitas yang dia miliki tidak bisa menggantikan kehadiran mereka. Gara tumbuh menjadi pria yang bandel demi mendapatkan perhatian orang tuanya tetapi sepertinya mereka tidak peduli.


Malam itu, Gara tidak bisa tidur. Biasanya dia pergi ke Club Dr. Macine dan melakukan balapan untuk melampiaskan kekalutannya. Namun, dia sudah bertekad untuk tidak kembali ke sana lagi setelah melihat beberapa temannya menjadi pemakai barang haram.


'Jujur gue kesepian setelah keluar dari Club Dr. Macine tapi gue nggak mau terjerumus seperti mereka. Oh, iya, bagaimana kalau aku menelepon Nabila.'


Gara menepuk jidatnya. Bagaimana bisa menelepon sementara dia belum memiliki nomor ponselnya. Dia pun memilih untuk pergi ke balkon dan menghisap rokoknya.


Dari tempatnya berada saat ini, dia bisa melihat ke pintu gerbang. Dia baru bisa tidur dengan nyenyak jika papanya sudah pulang dan menemani ibunya.


***

__ADS_1


__ADS_2