I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 22. First Kiss


__ADS_3

Gerbang rumah Gara terbuka secara otomatis ketika mobil yang mereka kendarai tiba di depan pintu. Pak iman sudah membawa remote yang terkoneksi dengan gerbang sehingga memudahkannya untuk masuk. Satpam yang berjaga tidak selalu sigap saat mobil mereka datang sehingga Gerald mengantisipasinya dengan remote yang bekerja secara otomatis.


Mobil Gara memasuki halaman yang begitu luas. Garasi yang terbuka menampakkan deretan mobil mewah yang berjajar rapi. Hingga mobil berhenti, Nabila masih tertegun dengan pemandangan di sekelilingnya.


Rumah mewah Gara mengukuhkan bukti bahwa keluarganya sangat kaya. Wajah Nabila terlihat tidak nyaman. Kehidupan mereka jauh berbeda dan teringat betapa konyolnya dirinya saat membawa Gara menginap di kontrakan kecil miliknya.


"Kita turun sekarang, Nab," ucap Gara menyadarkan Nabila yang masih terbengong.


Pak Iman sudah membukakan pintu sejak beberapa detik yang lalu. Nabila yang syok tidak menyadarinya hingga Gara menegurnya.


"Ah, I-iya, maaf." Nabila turun lebih dulu lalu membantu Gara keluar.


Merasa ada kesempatan untuk bermanja, Gara pun memanfaatkannya. Tangannya memeluk bahu Nabila dan berpura-pura lemah. Sebenarnya rasa sakit di kepalanya sudah mereda.


Kaki Nabila gemetar saat melangkah memasuki kediaman Gara. Ruang tamu yang begitu luas membuatnya terpana. Gara terus membawanya berjalan seolah tahu akan keragu-raguan Nabila.


"Kamarku ada di atas," ucap Gara di sela-sela langkahnya.


Nabila tidak menjawab. Semua yang dia lihat terasa begitu mengejutkan. Dia merasa sangat kecil di hadapan Gara.


Langkah kaki mereka berhenti di depan sebuah pintu. Gara membukannya tanpa melepaskan rangkulannya di bahu Nabila. Lagi-lagi Nabila dipaksa untuk mengagumi kemewahan yang ada di depannya.


'Astaga! Ini kamar atau rumah. Luasnya mungkin sepuluh kali lipat dibanding dengan kamarku di rumah.' Nabila berdecak dalam hati.


"Nab, kepalaku agak pusing." Gara kembali berakting.


"Ah, iya. Aku akan membantumu berbaring." Nabila yang sebelumnya melamun terlihat gelagapan.


Dengan telaten dia memapah Gara ke tempat tidur dan menurunkannya dengan hati-hati. Gara telah berbaring dengan benar tetapi tidak juga melepaskan Nabila. Keduanya saling bertatapan dan terjebak dalam gelombang yang sulit dimengerti.


"Nab, please jangan tinggalin gue." Suara Gara terdengar parau.


Arah pandangan matanya merayap turun dan melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat. Dalam posisi membungkuk, dada Nabila terlihat jelas karena dua kancing bagian atas terbuka. Gara menelan ludahnya dengan perasaan yang tidak menentu.


'Shitt! Bagaimanapun juga gue adalah pria normal. Lo bikin gue panas dingin aja, Nab.' Gara bermonolog dalam hati.


Dengan gerakan cepat dia menarik tubuh Nabila dan membawanya ke dalam pelukannya. Nabila tidak bisa menghindar dan terpelanting ke atas ranjang di samping Gara.

__ADS_1


"Nab, gue sayang sama lo," bisik Gara dalam posisi yang sangat dekat dengan Nabila.


Baru kali ini dia merasakan tubuhnya bergetar begitu hebat hingga detak jantungnya terasa oleh Nabila. Tidak ada kata-kata yang terlontar dari bibir Nabila tetapi dia tidak melakukan perlawanan. Nabila pasrah ketika Gara memeluknya dengan erat.


Gara semakin kalap dan terbawa suasana romantis yang tercipta di antara keduanya. Wajahnya kian mendekat ke wajah Nabila hingga bibir mereka saling bersentuhan. Merasa tidak ada penolakan, dia melanjutkan sentuhan itu menjadi sebuah ciuman.


'Ini adalah ciuman pertamaku. Bagaimana bisa aku melepaskannya untuk seorang berandal macam Gara. Atau jangan-jangan aku sudah jatuh cinta padanya?' Nabila berperang dengan hati yang tidak sejalan dengan tubuhnya.


Hati kecilnya menolak untuk disentuh tetapi tubuhnya begitu menikmatinya. Selama masih dalam batas kewajaran, Nabila tidak akan memberontak.


Cukup lama mereka berciuman hingga Gara melepaskannya. Hatinya merasa begitu damai setelah mengungkapkan isi hatinya pada Nabila. Meskipun tidak ada jawaban, Gara yakin jika Nabila juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


"Maaf, gue terbawa perasaan. Lo boleh menamparku karena telah menciummu tanpa ijin." Sorot mata Gara menunjukkan sebuah penyesalan.


Nabila mengangkat tangannya dan mengayunkannya ke depan. Gara memejamkan matanya dan pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Nabila. Ternyata yang dilakukan oleh Nabila tidak seperti yang dia pikirkan.


Tangan Nabila menyentuh lembut pipi Gara lalu melingkarkannya ke leher. Gara membuka matanya dan menatapnya gemas. Sebuah kecupan mendarat di kening Nabila diikuti dengan pelukan erat.


"Nab, kapan kita lulus SMA?" Gara melontarkan pertanyaan konyolnya.


Gara tersenyum penuh arti lalu berkata, "Gue pengen lamar elo."


"Hahaha! Aku tahu kamu senang bercanda, Sayang. Tapi jangan kelewatan!" Nabila terus terkekeh menanggapi pernyataan Gara.


"Jadi lu pikir gue main-main? Hmm ... gue serius, Nab. Lo pikir gue bisa tahan lama-lama pacaran? Bisa-bisa gue gila karena nggak bisa tidur mikirin elo," jujur Gara.


Nabila tidak menyangka jika Gara ingin hubungan mereka berlabuh di pelaminan. Usia mereka kini masih sangat muda, banyak hal yang harus mereka pertimbangkan sebelum membina rumah tangga. Sebuah pernikahan merupakan hubungan yang rumit dan penuh liku-liku, tidak sesimpel ketika seseorang mengatakan 'Aku cinta kamu' dan sebaliknya.


"Ra, menikah itu bukan hanya sekedar pelampiasan hasrat saja. Banyak hal harus kita penuhi baik kebutuhan jasmani maupun rohani. Belum lagi jika ada anak, masalah akan semakin kompleks," jelas Nabila.


"Gue tahu. Sebisa mungkin gue akan jadi ayah yang baik buat anak istriku nanti." Gara tidak ingin menyerah untuk meyakinkan Nabila.


Tidak ada gunanya berdebat tentang masalah ini. Nabila memilih diam dan menjalani hubungan seperti air mengalir. Apa yang akan terjadi besok, dia tidak ingin memikirkannya sekarang.


"Kita jalani saja. Kita tidak tahu kedepannya seperti apa. Kali aja muncul bidadari yang sangat cantik dan kamu lebih milih dia."


"Jadi, lo pengen gue cepet mati, Nab?"

__ADS_1


"Kog, mati, sih? Mana ada aku bilang begitu!" Nabila memanyunkan bibirnya tidak terima dengan tuduhan Gara.


"Nab, yang namanya bidadari itu adanya di surga, kalau di dunia cuma elo yang bikin gue jatuh cinta."


"Gombal!" seloroh Nabila.


"Sttt! Diam bentar! Gue pengen meluk elo." Gara meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


Seperti terhipnotis, Nabila pun mematuhi ucapannya. Lengan tangan kiri Gara menjadi bantalannya dengan wajah yang menyentuh dada. Aroma tubuh Gara yang sangat harum membuatnya betah berlama-lama dipeluk.


Kecanggungan yang sebelumnya tercipta kini berubah menjadi suasana akrab dan semakin dekat.


'Gara anteng atau tertidur, ya?' Nabila mendongak menatap Gara yang terpejam.


Dengan gerakan perlahan dia menggeser tubuhnya dan terduduk. Jam dinding sudah menunjukkan angka sembilan. Meskipun tidak tahu di mana pintu keluar, dia harus tetap pulang malam ini.


"Mau ke mana?" tanya Gara mengejutkan Nabila.


"Aku mau pulang, Ra. Beristirahatlah dengan baik."


Sebenarnya Gara tidak rela Nabila pergi tetapi dia tidak ingin memaksa. Bagaimana pun juga dia adalah seorang wanita, tentu nama baiknya akan tercoreng ketika seseorang mengetahui jika dirinya menginap di sini.


"Gue anter," ucap Gara.


Nabila menggeleng dengan cepat.


"Kamu harus beristirahat."


"Hmmh!" Gara mendengus. "Baiklah, gue akan meminta Pak Iman buat nganter elo tapi gue ingin meminta sesuatu sebelum elo pergi."


Nabila mengeryitkan dahinya tidak mengerti dengan syarat yang dimaksud oleh Gara.


"Beri gue sebuah ciuman."


Pipi Nabila tampak memerah setelah mendengar permintaan Gara. Ciuman yang pertama masih begitu membekas dan kini mereka akan mengulanginya.


***

__ADS_1


__ADS_2