I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 38. Di Rumah Sakit


__ADS_3

Sore itu jalanan kota sangat macet. Mobil yang membawa Gara terjebak di antara mobil-mobil lain yang berjajar untuk mendapatkan jalan.


Wajah Gara terlihat tidak sabar. Setelah mendengar kabar tentang orang tuanya dia ingin segera melihat keadaan mereka. Rasa sayangnya pada ayah dan ibunya melebihi rasa kesal dan benci dengan perilaku ayahnya sesaat sebelum terjadi kecelakaan.


Nabila yang masih merasa kesal dan sakit hati, tidak banyak berbicara. Sebenarnya dia ingin menenangkan Gara namun sebisa mungkin dia tahan. Dia berpikir jika menyapa duluan dan memberi perhatian maka Gara akan merasa besar kepala.


'Tahan ... tahan ... tahan! Buat apa aku merasa kasihan sama cowok tengil ini? Dari dulu dia memang tidak sabaran.' Nabila memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil.


Agar pertahanannya tidak runtuh, sebisa mungkin dia tidak melihat ke arah Gara secara langsung. Namun apa daya, wajah Gara seakan muncul di mana-mana. Tanpa sengaja dia melihatnya dari spion mobil.


Melihatnya begitu sedih, Nabila menjadi tidak tega. Dia memutar tubuhnya menghadap ke arah Gara dan dengan ragu-ragu menyentuh tangannya.


"Semua pasti akan baik-baik saja," ucapnya sambil menetap Gara dengan penuh perhatian.


"Terima kasih." Gara mengangguk dan tersenyum.


Ucapan Nabila laksana oase di tengah padang pasir yang mampu menumbuhkan harapan di hati Gara. Setelah pertengkaran hebat di antara keduanya ini pertama kalinya dia melihat kepedulian Nabila.


'Gue harus berterima kasih pada Tuhan karena telah mengembalikan orang yang aku sayangi.' Hati Gara menghangat ketika memandang wajah Nabila yang tidak segalak sebelumnya.


Jika sebelumnya dia kesal dengan kemacetan kini justru malah sebaliknya. Gara ingin berlama-lama berada di samping Nabila yang mulai mencair. Walaupun tidak ada percakapan yang berarti di antara keduanya, hatinya sudah merasa sedikit tenang.


Pak Iman kembali melajukan mobilnya selagi jalanan cukup lengang.


Tanpa mereka sadari mobil yang mereka kendarai telah memasuki halaman parkir rumah sakit. Ketiganya turun dari sana dan berjalan cepat menuju ke ruang perawatan Gerald dan Sarah.


Ada sebuah mobil yang cukup menarik perhatian Gara. Dia tidak tahu secara pasti siapa pemiliknya tetapi dalam ingatannya di pernah melihatnya beberapa kali.


'Sepertinya gue merasa familiar dengan mobil ini tapi gue nggak ingat siapa pemiliknya. Ah, masa bodoh! Gue harus melihat keadaan mama dan papa sekarang juga.' Gara kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti beberapa saat.


Nabila sempat melihat kejanggalan sikap Gara ketika melihat sebuah mobil. Namun, dia tidak ingin bertanya.

__ADS_1


Polisi yang berjaga di depan pintu ruang perawatan Gerald dan Sarah membukakan pintu untuk mereka. Hari ini tidak ada polisi yang mengenal Nabila sehingga dia bisa langsung masuk begitu saja.


Ada beberapa dokter dan merawat di ruangan itu. Mereka terlihat sedang mengobrol dengan seseorang.


Saat melihat kedatangan Gara, mereka menghentikan obrolan dan berbalik untuk menyambutnya.


"Selamat sore, Tuan Gara!" sapa dokter setelah melihat siapa yang datang.


"Selamat sore," jawab Gara singkat.


Pandangannya kini fokus pada wanita yang dihadapan dokter. Suara gigi gerahamnya yang gemeretak pun terdengar oleh Nabila. Hatinya yang semula tenang kini kembali bergejolak bahkan lebih besar dari sebelumnya.


Negara tidak lagi mempedulikan keberadaan dokter dan para perawat yang berdiri mengelilingi Laeli. Dia berjalan penuh amarah pergi mendekati selingkuhan papanya itu. Pertemuan yang sama sekali tidak pernah diharapkan olehnya.


"Heh, wanita binal! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Gara dengan penuh amarah.


Sarah melambaikan tangannya karena tahu sikap panggilannya tidak akan berarti ketika gara sedang marah dan berteriak. Sementara itu, Gerald yang sedang terpengaruh oleh obat tidur sangat sulit untuk membuka matanya meskipun dia ingin terjaga.


Untuk kali ini, Gara sedikit berbaik hati pada Laeli dengan membiarkannya. Segera dia berlari menghampiri meja perawatan Sarah. Kerinduan yang dipendamnya berapa hari ini dia tumpahkan.


Matanya berkaca-kaca meskipun tidak menangis.


"Mama sudah baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir." Sarah menempelkan telapak tangannya di pipi Gara.


Nabila berjalan menghampiri Gara untuk melihat keadaan orang tuanya dari dekat. Kehadirannya mengundang rasa penasaran Sarah. Wanita paruh baya itu mengalihkan perhatiannya padanya.


Gara memutar tubuhnya dan mengikuti arah pandang Sarah. Saat melihat Nabila ada di sana, dia segera meraih tangannya dan membawanya ke hadapan Sarah.


"Perkenalkan pacar Gara, Ma. Namanya Nabila. Dia yang selalu menyemangati Gara dan membuat hidup Gara menjadi lebih baik," ucap Gara dengan perasaan bangga.


Sarah tersenyum pada Nabila. Tangannya meraih tangan Nabila dan mengelusnya.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali. Terima kasih sudah mau menerima Gara dengan segala kenakalannya." Sarah tahu betul seperti apa kelakuan Gara dan menganggap Nabila begitu spesial.


"Terima kasih kembali, Tante. Bagaimana keadaan tante sekarang?" tanya Nabila masih sedikit canggung.


"Sudah lebih baik. Hanya saja tubuhku masih merasa lemas. Dokter bilang tidak ada cidera yang berarti, tinggal pemulihan saja," jelas Sarah dengan napas yang belum teratur.


"Sebaiknya mama jangan banyak berbicara dulu! Masih ada banyak kesempatan untuk bersama Nabil. Benar kan, Nab?" Gara melirik ke arah Nabila.


"Iya," jawab Nabila singkat.


Walaupun hatinya masih sakit dan belum sepenuhnya memaafkan Gara, dia tidak mungkin menunjukkannya di hadapan Sarah.


Dokter dan perawat berpamitan untuk keluar dan memberi kesempatan pada Gara untuk berbicara dengan pasien. Berbeda dengan Laeli, bukannya segera pergi dari sana, dia malah berdiri menentang badai dengan tetap tinggal.


Gara meliriknya jengah. Kesabaran kembali menguap nyaris tak bersisa. Sorot matanya yang tajam tidak cukup membuat Laeli merasa segan.


"Ngapain lo masih berdiri di sana? Nunggu gue gampar!" teriak Gara tidak peduli lagi dengan keadaan di sekitarnya.


Sarah menggeleng. Baru saja dia melihat putranya terlihat sangat manis, sayangnya hanya berlangsung beberapa saat saja.


"Sayang ... biarkan tante Laeli di sana! Mama nggak papa kog," ucap Sarah terlihat begitu sabar.


Seperti mendapatkan angin segar, Laeli memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati Sarah. Dia berjalan menghampirinya dan menunjukkan empatinya.


"Bu Sarah ... terima kasih sudah sangat baik sama saya. Kebetulan sekali ada hal penting yang ingin saya sampaikan." Laeli menunjukkan wajah sedihnya.


"Jangan dekat-dekat dengan mamaku! Najis!" Gara menarik tubuh Laeli dengan kasar dan mendorongnya hingga terjerembab.


Laeli terjatuh dalam keadaan terduduk. Dia meringis kesakitan dan memegang area perut bagian bawah.


Walaupun merasa iba, Nabila tidak berani untuk membantunya berdiri. Apa yang dilakukannya akan memancing kemarahan Gara dan bisa saja membuatnya semakin brutal.

__ADS_1


Laeli bangun dan berdiri dengan susah payah. Di lantai bekas tempatnya terjatuh menggenang darah segar yang cukup banyak. Wajah Laeli terlihat kebingungan karena saat ini dia tidak sedang datang bulan.


***


__ADS_2