I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 39. Laeli Pingsan


__ADS_3

Bola mata Laeli membulat sempurna. Dia lupa kapan terakhir kali datang bulan. Jika tidak salah dia sudah terlambat kira-kira dua minggu.


'Apakah aku sedang mengandung anak Jasson? Jika itu benar betapa bodohnya diriku yang tidak menyadarinya sejak awal. Jangan sampai aku kehilangan aset yang sangat berharga ini.' Laeli terlihat panik.


Rasa nyeri yang amat sangat menghunjam perut bagian bawahnya. Berharap kandungannya bisa diselamatkan, dia berjalan cepat meninggalkan ruangan. Darah terus mengalir mengikuti panjang kakinya.


Tubuhnya sempoyongan dan segera berpegangan pada pintu. Tepat saat kedua kaki melangkah keluar, Laeli limbung dan jatuh tak sadarkan diri.


Polisi yang berjaga di luar pintu berteriak memanggil perawat yang kebetulan lewat. Setelah itu tidak diketahui lagi bagaimana keadaan Laeli.


Gara tidak peduli dengan apa yang terjadi padanya dan tidak ingin tahu seperti apa kelanjutannya. Dia tidak paham mengapa seorang wanita bisa mengeluarkan darah. Setahunnya hanya karena datang bulan.


Lain halnya dengan Nabila, dia merasa jika sesuatu hal yang aneh terjadi pada Laeli. Tidak ingin Gara dipersalahkan dia harus segera memberitahunya. Meskipun masih belia dia sudah bisa membedakan antara datang bulan dengan keguguran.


"Ra! Sepertinya tante Laeli sedang hamil dan mengalami pendarahan," ucap Nabila.


Sarah yang sejak tadi terdiam mulai memasang wajah tegang. Status Laeli masih lajang. Jika apa yang dikatakan oleh Nabila benar maka apa yang terjadi padanya patut untuk dipertanyakan.

__ADS_1


"Wanita brengsek itu belum menikah." Gara berbicara dengan nada kesal.


Syarat kebencian masih terlihat jelas di wajahnya. Tiba-tiba dia menyadari sesuatu dan menatap apabila dengan wajah yang sama tegang dengan ibunya.


'Tidak mungkin jika papa yang melakukannya. Gue harus segera pergi untuk memeriksanya. Wanita busuk itu bisa saja memanfaatkan keadaan ini untuk memeras keluarga gue.' Gara tiba-tiba menemukan sebuah ide.


"Nab, tolong jaga mama sebentar. Gue pergi dulu," pamit garap tanpa menunggu jawaban persetujuan dari Nabila.


Nabila mengangguk. Hatinya merasa sedikit tenang karena berpikir jika Gara memiliki kepedulian pada Laeli. Apapun yang akan terjadi setelah ini, dia tidak akan disalahkan sepenuhnya.


"Semoga kamu bisa bersabar menghadapi sifat Gara. Sebenarnya dia anak yang baik. Perhatian yang kurang dari kamilah yang membuatnya menjadi seperti ini. Ketika kami menyadarinya semuanya sudah terlambat. Sangat sulit untuk merubah dirinya menjadi seorang pria yang santun dan penuh kelembutan." Sarah mengungkapkan penyesalannya pada Nabila.


"Tante tenang saja. Gara sudah banyak berubah. Selama om dan tante dirawat di rumah sakit, Gara menjalankan perusahaan di sela-sela kegiatan sekolahnya." Nabila menceritakan apa yang terjadi saat Sarah mengalami koma.


"Benarkah? Ini adalah berita yang sangat mengejutkan. Aku merasa bersyukur dibalik peristiwa ini, Gara menjadi pribadi yang lebih baik." Sarah menggenggam tangan Nabila dengan erat untuk meluapkan kebahagiaannya.


"Benar, Tante. Dia tidak memiliki waktu untuk pergi nongkrong ataupun bermain-main di luar."

__ADS_1


Ucapan Nabila semakin membuat Sarah merasa sangat bahagia. Mereka terus bercerita tentang Gara. Keakraban pun terjalin di antara keduanya walaupun ini baru kali pertamanya mereka bertemu.


Sudah hampir 1 jam Gara pergi meninggalkan Nabila dan Sarah. Akan tetapi, belum ada tanda-tanda bahwa dia akan segera kembali. Nabila beberapa kali melihat ponselnya namun belum ada pesan dari Gara.


Perawat datang untuk memeriksa keadaan Sarah dan memastikan jika dia tidak memiliki keluhan. Meskipun sudah membaik, dia tetap harus beristirahat. Untuk membuatnya tertidur dengan cepat, perawat itu menyuntikan obat melalui infus.


"Tante beristirahatlah. Aku akan menemanimu di sini," ucap Nabila setelah perawat yang memeriksa Sarah pergi.


"Iya, Sayang." Sarah mengangguk dan tersenyum pada Nabila.


Tidak butuh waktu lama bagi Sarah untuk bisa tidur dengan nyenyak. Obat yang masuk ke tubuhnya bekerja dengan sangat cepat. Sarah tidak bisa menahan dirinya lagi walaupun sebenarnya masih ingin mengobrol bersama Nabila.


Pandangan matanya perlahan-lahan menjadi kabur. Sesekali Sarah masih berbicara dengan suara yang kian melemah. Semakin lama suara itu semaki melemah dan menghilang seiring matanya yang sayu terpejam.


"Selamat tidur, Tante." Nabila membetulkan tangan dan selimutnya.


Nabila melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah delapan malam. Sudah lebih dari satu jam Gara pergi meninggalkannya. Rasa khawatir mulai menghinggapi hatinya dan beberapa pertanyaan berputar-putar di kepalanya.

__ADS_1


'Apa yang terjadi pada Gara? Apakah tante Laeli mengalami pendarahan parah? Atau mungkin seseorang menuntutnya untuk bertanggung jawab atas kesalahannya yang mendorong tante Laeli hingga mengalami kecelakaan ini?' Nabila tampak gelisah dalam duduknya.


***


__ADS_2