I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 36. Berjuang


__ADS_3

"Untuk kali ini kamu saya maafkan. Silakan bergabung bersama teman-teman kamu tetapi lain kali jika kamu ulangi maka kamu akan mendapatkan hukuman." Bu Siska tidak ingin terkesan buruk di mata Nabila.


"Terima kasih, Bu saya janji hal seperti ini tidak akan terulang lagi." Nabila merasa lega akhirnya dia bisa kembali duduk di kelas untuk mengikuti pelajaran.


Banyak sekali pertanyaan yang berputar-putar di kepala Leny tetapi dia tidak mungkin bertanya sekarang juga. Dia harus bersabar menunggu dan ini sudah jam terakhir, sebentar lagi mereka akan pulang. Tidak biasanya Nabila terlambat masuk ke kelas walaupun sering kali bersama Gara di jam istirahat.


Pelajaran di jam terakhir terasa sangat singkat. Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi, murid-murid berkemas lalu pergi meninggalkan kelas.


"Len, bolehkah aku meminjam buku catatan kamu? Aku belum mencatat pelajaran yang terlewat sebelum aku masuk ke kelas," ucap Nabila dengan penuh harap.


"Boleh. Ini kamu bawa saja! Oh, iya, ada yang mau aku tanyakan sama kamu. Tidak biasanya kamu terlambat masuk ke kelas, apakah terjadi sesuatu saat jam istirahat?" tanya Leny tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya lagi.


Nabila terdiam. Dia tidak tahu harus memulai cerita dari mana. Masalah yang terjadi antara dirinya dan Grup Dragon sangat rumit dan membuatnya merasa sangat sedih.


"Aku tidak bisa menceritakannya sekarang, Len. Maaf." Wajah Nabila terlihat sendu.


Sebagai seorang sahabat Leny tahu mungkin saat ini Nabila sedang bersedih. Dia tidak bisa memaksanya untuk bercerita hingga hatinya terbuka. Meskipun ada rasa kecewa tetapi Leny bisa menghargai keputusan Nabila.


"Baiklah, aku mengerti. Kalau kamu butuh teman curhat aku akan siap mendengarkan. Jangan pernah menganggapku orang lain dan merasa sungkan." Leny memegang tangan Nabila untuk memberinya semangat.


"Terima kasih, Len. Kamu memang sahabatku yang selalu mengerti aku." Nabila mencoba tersenyum meskipun perasaannya saat ini sangat kacau.


Satu persatu murid di kelas itu telah pergi. Hanya tinggal Leny, Nabila dan dua orang teman lainnya. Mereka pun segera beranjak untuk pergi meninggalkan kelas.


Nabila dan Leny berjalan dengan santai. Ketika mereka sampai di persimpangan koridor yang menghubungkan tiga jurusan yang berbeda menuju ke pintu keluar, keduanya bertemu dengan grup Dragon di sana. Nabila berpura-pura tidak melihatnya dan terus menarik tangan Leny untuk berjalan lebih cepat.


'Sudah kuduga. Sepertinya Nabila memang sedang ada masalah dengan Gara,' gumam Leny dalam hati.


Gara dan ketiga temannya berusaha untuk mengejar mereka dan tidak ingin kehilangan sejak Nabila. Namun, sepertinya Nabila benar-benar tidak memberikan mereka kesempatan untuk bicara. Dia terus berjalan tanpa mempedulikan panggilan Gara.


Murid-murid yang sedang melintas menatap ke arah mereka dengan heran. Beberapa waktu lalu mereka terlihat begitu mesra tetapi sekarang Nabila terlihat sangat marah pada Gara. Akan tetapi, apapun yang terjadi diantara mereka tidak ada yang berani menegur atau ikut campur.


"Nabil tunggu! Gue bisa jelaskan semuanya! Gur mohon dengerin gue!" seru Gara dengan napas terengah-engah akibat berlari.

__ADS_1


Nabila tidak bergeming dan terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun pada Gara. Rasa sakit yang dia torehkan tidak semudah itu bisa menghilang. Setiap kali melihat wajahnya maka rasa sakit itu kembali membara.


Daud dan Birawa tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka menatap tajam ke arah Kenzi yang dianggap sebagai biang masalah. Seharusnya dia tidak membeberkan rahasia tentang taruhan pada Nabila.


"Sekarang lo puas melihat Gara berantakan? Sebenarnya hati lo ada di mana?!" hardik Daud sambil mencengkeram kerah baju Kenzi.


Gigi gerahamnya saling beradu menandakan saat ini dia sedang sangat marah. Persahabatan mereka kini berada di ambang kehancuran. Apa yang dilakukan oleh Kenzi membuat mereka saling berselisih.


"Gue nggak tahu kalau Gara beneran suka sama Nabil." Kenzi tetap tidak ingin disalahkan.


Sampai detik ini keinginan untuk mendapatkan Nabila masih ada. Apa yang dilakukan oleh Gara baginya belum cukup untuk membuktikan jika dia benar-benar mencintainya. Bisa saja dia seperti itu karena takut kehilangan hadiah taruhan, pikirnya.


Daud menghela dan menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk meluapkan kekecewaannya. Percuma saja dia menuntaskan emosi dengan mengajar Kenzi. Apa yang dilakukannya tidak akan bisa mengembalikan keadaan.


Birawa pun menyesalkan apa yang telah dilakukan oleh Kenzi. Jika boleh jujur dia pun sebenarnya juga memiliki perasaan terhadap Nabila. Namun, dia tidak bisa berbuat seenaknya karena Nabila masih terlibat hubungan dengan Gara yang merupakan sahabatnya.


Setelah emosinya sedikit reda, Daud melepaskan cengkramannya di kerah baju Kenzi dengan sedikit mendorongnya. Dorongan yang tidak terlalu kuat itu membuat tubuh Kenzi terhuyung.


Birawa dan Daud berjalan mendahului kenzi menuju ke parkiran motor. Mereka juga ingin tahu seperti apa keadaan Gara dan Nabila. Namun, ketika mereka tiba di parkiran Gara dan mobil jemputannya sudah tidak terlihat lagi.





"Lepaskan aku! Apakah belum puas kamu mempermainkan perasaanku?" seru Nabila sambil berusaha untuk melepaskan diri.



Rupanya Gara memaksanya untuk masuk ke dalam mobilnya saat keluar dari gerbang sekolah. Bukannya tidak bisa melawan, Nabila tidak ingin menjadi pusat perhatian murid-murid yang berada di sekitarnya saat itu. Selama ini yang mereka tahu dia adalah kekasih Gara jadi tidak akan ada yang membantunya ketika dia dipaksa ikut ke mobil.


__ADS_1


Gara tidak bergeming dan terus memeluk tubuh Nabila dengan erat. Hari ini dia tidak ingin pergi ke kantor dan memilih untuk membawa Nabila ke rumahnya. Sifat pemaksanya mendorongnya untuk membuat Nabila kembali percaya padanya dan segera melupakan masalah ini bagaimana pun caranya.



"Gara please, lepaskan aku! Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Aku tidak ingin menjadi wanita yang dijadikan bahan taruhan. Aku bukan barang atau piala yang bisa diperebutkan seenaknya. Jika kamu tidak benar-benar mencintaimu seharusnya kamu tidak memberiku harapan." Nabila berbicara dengan setengah berteriak dan tangisnya pun pecah.



Walaupun memiliki sifat yang kasar tetapi Gara tidak tahan ketika melihat seorang wanita menangis. Terlebih lagi dia yang menjadi penyebab kesedihannya. Hatinya terasa seperti teriris dan terluka sangat dalam melebihi luka yang ditorehkannya pada Nabila.



"Lo tahu gue nggak pandai untuk berbicara manis. Gue nggak pernah mempermainkan lo, Nab. Gue beneran sayang sama lo," aku Gara.



Nabila tersenyum sinis. "Lalu kenapa kamu mengikuti taruhan itu? Kalian semua sama saja."



"Nggak! Waktu itu mereka yang memaksa," jujur Gara.



"Dan kamu tidak bisa menolak!" ketus Nabila.



Gara terdiam. Apa yang dikatakannya memang benar. Di hadapan sahabatnya dia tidak sanggup untuk menolak apa yang mereka minta.



Kesalahan fatal ini juga dia lakukan karena mereka. Gara baru tersadar jika setelah ini dia harus berani berkata 'tidak' dan teguh pada pendiriannya dalam hal-hal tertentu. Dia merasa seluruh kebahagiaannya telah menghilang tak bersisa.

__ADS_1



\*\*\*


__ADS_2