
Hingga senja turun, Nabila dan Gara masih sama-sama larut dalam kediamannya.
'Sepertinya butuh sedikit gertakan untuk membuat cewek ini segera mengambil keputusan. Dia terus saja berdiri mematung. Apa nggak kesemutan kakinya? Perutku juga sudah keroncongan.'
Gara bermonolog dalam hati sambil terus melirik ke arah Nabila. Matahari sudah hampir tenggelam. Suasana tempat itu akan gelap gulita mengingat lokasi yang sedikit jauh dari pemukiman penduduk.
"Nab! Gimana jawaban lo? Aku mau dengar sekarang. Kalau lo tetap diam itu artinya lo mau jadi pacarku."
Nabila membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Gara. Sayangnya dia benar-benar tidak bisa mengambil keputusan untuk saat ini dan memilih diam.
"Fix! Kita jadian hari ini. Lo nggak bisa nerima cinta cowok lain selama gue masih ingin jadi pacar lu."
Setelah mengatakan itu, Gara segera berlalu dan mengambil motornya yang terparkir tidak jauh dari tempat Nabila berdiri. Mau gengsi juga percuma, yang ada Nabila malah akan tersesat jika tidak membonceng Gara.
Perjalanan mereka masih diiringi dengan kebisuan. Nabila tidak tahu akan dibawa ke mana lagi oleh Gara. Mereka melewati jalan yang berbeda dengan jalan yang mereka lalui ketika berangkat ke jembatan.
Malam telah turun dan lampu-lampu telah menerangi seluruh kota. Masih dengan seragamnya, Gara dan Nabila turun di depan sebuah rumah makan sederhana.
Pengunjung yang sedang makan di sana melihat ke arah mereka berdua. Mereka saling berbisik membicarakan keduanya. Namun, Gara terlihat tidak peduli dan terus berjalan menuju ke sebuah meja kosong.
__ADS_1
'Cowok tengil ini ternyata tahu jika aku sedang lapar. Sebenarnya pria macam apa dia?' Nabila melirik ke arah Gara yang sedang mencari-cari keberadaan pelayan rumah makan.
Dia melambaikan tangan ke arah seorang pria yang datang membawa nampan kosong. Sebelum pria itu sampai, Gara menyodorkan kertas menu ke arah Nabila.
Meskipun tidak mengatakan apapun, Nabila tahu jika Gara memintanya untuk memesan makanan yang diinginkannya. Tidak banyak pilihan menu di sana dengan harga yang cukup terjangkau.
"Mau pesan apa, Mas, Mbak?" tanya pelayan ketika sudah tiba di hadapan mereka.
"Soto sama es jeruk." Gara mengatakan pilihannya.
"Baik. Kalau mbaknya?" Pelayan beralih menatap Nabila sambil mengingat pesanan Gara.
"Samain aja, Mas."
"Baik. Pesanan akan segera datang." Pelayan membungkukkan badannya sebelum pamit untuk undur diri.
Tidak ada kemesraan layaknya pasangan yang baru jadian di antara Nabila dan Gara. Dari mulai memasuki rumah makan hingga selesai keduanya sama-sama terdiam.
Setelah selesai makan, Gara segera mengantar Nabila ke kosnya. Sayangnya, hal yang tak terduga terjadi. Beberapa pengendara motor mengikuti mereka.
__ADS_1
'Sial! Kenapa mereka masih mengejarku? Sudah gue bilang gue nggak mau lagi ikut balap liar lagi. Shitt!' Gara mengumpat dalam hati.
"Pegangan yang erat! Gue mau tambah kecepatan," ujar Gara.
Nabila memegang bahu Gara. Namun, karena Gara mengendarai motornya terlalu kencang, dia pun memindahkan tangannya ke pinggang. Gara tersenyum senang di tengah ketegangan yang sedang terjadi.
Club Dr. Macine masih mengejarnya. Mereka berjumlah enam orang dengan empat motor. Sepertinya mereka tidak ingin membiarkan Gara lolos begitu saja.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Gara tidak peduli dengan terpaan angin yang menghantam keras tubuhnya. Jaket kulit miliknya masih melekat di pinggang Nabila.
Meskipun belum berhasil menghindari Club Dr. Macine tetapi Gara merasa sedikit lega karena mereka sudah dekat dengan kos Nabila. Dia bisa melepaskan Nabila dengan aman dan leluasa menghadapi para anggota Club Dr. Macine.
'Tinggal satu tikungan lagi,' gumam Gara dalam hati.
Tanpa diduga, rupanya salah seorang anggota Club Dr. Macine ternyata menyelinap ke jalan lain. Kini dia berhasil memotong jalan dan menghadang Gara. Tidak ada pilihan bagi Gara selain berhenti mengingat motor rivalnya tengah melintang di hadapannya.
"Kita sudah nggak ada urusan lagi. Kompensasi yang gue berikan udah lebih dari cukup," ujar Gara pada penghadangnya.
Penghadangnya tidak bergeming mendengar ucapannya. Tidak lama kemudian tiga motor lain menyusul dan membuatnya terkepung.
__ADS_1
"Nab, jika ada kesempatan, lo harus pergi," bisik Gara pada Nabila.
***