
Gara membawa motornya dengan kecepatan rendah. Banyak orang yang lalu lalang di jalan yang dia lalui. Tempat kos Nabila memang berlokasi di daerah yang mayoritas berisi pelajar dan karyawan yang menyewa tempat tinggal di sana.
"Aku biasa sarapan di ujung jalan itu. Kita berhenti di sana, ya!" Nabila menunjukkan sebuah tempat.
"Nggak! Kita sarapan di kantin sekolah saja. Di sana lebih higienis."
Gara sengaja memilih tempat itu agar bisa menunjukkan kebersamaannya dengan Nabila. Jika perlu, seluruh sekolah harus tahu jika mereka telah berpacaran.
"Apa kata murid-murid di sekolah saat melihat kita berangkat bareng? Terlebih lagi para penggemarmu." Nabila merasa jika sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.
"Siapa pun yang berani mengganggumu akan berurusan denganku."
Walaupun Gara berkata seperti itu tetapi Nabila tidak yakin bisa mengandalkannya. Jurusan akademik mereka berbeda dengan jarak ruang kelas yang cukup jauh. Sebagai murid baru, Nabila juga belum begitu paham dengan keadaan sekolah beserta kebiasaan para penghuninya.
Merasa tidak ada menangnya berdebat dengan Gara, Nabila memilih untuk diam. Perjalanan mereka sangat singkat mengingat jarak ke sekolah yang tidak begitu jauh.
Baru sedikit murid yang datang ketika motor Gara memasuki gedung sekolah. Jam baru menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit. Waktu yang masih terlalu pagi untuk pergi ke sekolah.
__ADS_1
Kehadiran Gara yang membonceng seorang cewek mengundang perhatian murid yang sudah datang ke sekolah. Wajah Nabila yang tertutup helm membuat mereka merasa penasaran. Mereka berdiri terpaku menunggu Nabila membuka helm yang dia kenakan.
"Nggak usah pedulikan mereka!" Tanpa aba-aba, Gara menarik tangan Nabila dan membawanya berjalan melewati murid-murid yang terpaku menatap keduanya.
Nabila terkatung-katung mengikuti langkah Gara yang cepat. Tidak ada kesempatan baginya untuk berlama-lama di tempat yang dia pijak.
Di sepanjang perjalanannya menuju ke kantin sekolah, Nabila terus diam. Napasnya tampak memburu karena harus mengimbangi langkah kaki Gara yang panjang.
Kantin masih sepi ketika keduanya tiba di sana. Gara membawa Nabila duduk di meja favoritnya yaitu meja yang berada di dekat pintu masuk kantin. Dia dan Grup Dragon selalu duduk di sana setiap kali pergi ke kantin ini.
"Eh, Mas Gara. Selamat pagi, Mas. Hari ini mau sarapan apa?" tanya seorang wanita muda pelayan kantin.
Ini pertama kalinya Nabila pergi ke kantin ini sehingga dia tidak hafal menu-menu yang dijual di sini. Tidak ingin terlihat memalukan, dia memilih untuk menyamakan pesanan dengan Gara.
"Eh, anu, samain aja, Mbak." Pipi Nabila bersemu merah karena malu saat Gara terus menatapnya.
"Baik, Mas, Mbak. Tunggu sebentar!"
__ADS_1
Setelah kepergian pelayan kantin, Gara dan Nabila kembali terlihat canggung. Mereka tidak terlihat mesra seperti layaknya pasangan yang baru saja jadian.
Gara mengeluarkan sebatang rokok dan menghisapnya saat menunggu pesanan datang. Dia terus menatap ke arah Nabila tanpa mengeluarkan kata-kata.
'Gue nggak tahu pacaran itu gimana. Pasti para cecunguk itu nggak akan percaya begitu saja dengan hubunganku bersama Nabila. Mereka pasti nggak akan melepaskan golden tiket dengan begitu mudah.'
Tidak ada ketulusan di hati Gara. Dia memacari Nabila semata-mata hanya demi mendapatkan golden tiket dan memenangkan taruhan demi gengsi.
Pesanan mereka telah datang. Gara membayar sarapan yang mereka pesan dan memberikan kembaliannya pada pelayan kantin.
'Ternyata berandal kecil ini punya sedikit kedermawanan.' Nabila tersenyum kecil sebelum menikmati makanannya.
Di tengah makan mereka terdengar suara gaduh percakapan antara beberapa orang. Pemilik suara-suara itu tidak asing bagi Gara. Seulas senyum samar yang hampir tak terlihat mengembang di wajahnya.
Lain halnya dengan Gara, Nabila tidak menyadari akan kedatangan Grup Dragon lainnya. Sebuah babak permainan baru akan segera dimulai di mana dia dan Gara akan menjadi pemeran utamanya. Kepolosannya membuatnya tidak peka jika dirinya tengah dipermainkan oleh Gara dan teman-temannya.
Gara tidak menghabiskan makanannya dan memilih menghabiskan rokoknya. Bayangan demi bayangan kemenangan membuatnya begitu senang sehingga napsu makannya menghilang. Suara teman-temanya semakin dekat dan hampir sampai di kantin itu.
__ADS_1
***