
"Sabar, Bi. Kita nggak usah nyari ribut sama Nabil." Kenzi tidak ingin menimbulkan perpecahan di antara sahabat-sahabatnya.
"Iya, bener. Kita tidak tahu seperti apa kondisi Gara saat ini. Gue tahu Nabil emang ngeselin tapi kita masih butuh informasi dari dia," imbuh Daud.
Kesal bercampur malu menyelimuti hati Birawa. Dia menanti waktu dan kesempatan untuk membalas Nabila. Di balik sikap diamnya, dia menyimpan dendam yang berapi-api.
'Ok, gue ngalah kali ini tapi rasa malu ini nggak akan gue lupakan. Awas saja kamu Nabil, sekali ada celah gue bakalan bales semua perlakuan lo!' Birawa bermonolog dalam hati sambil mengangguk pada kedua temannya.
Merasa tidak ada yang perlu mereka lakukan lagi di sana, Kenzi mengajak kedua temannya untuk pergi ke kelas. Mereka sepakat akan pergi menemui Nabila lagi di jam istirahat. Jam pelajaran sebentar lagi akan dimulai, ketiganya tidak sempat lagi untuk pergi ke kantin.
Di kediaman Gara,
Sekitar pukul delapan pagi, Gara baru terbangun dari tidurnya. Itu pun dia masih merasa sangat mengantuk karena terlambat tidur. Namun, hari ini dia harus tetap beraktifitas dan pergi ke perusahaan orang tuanya.
Keadaan ayah dan ibunya belum bisa dipastikan. Saat ini keduanya belum sadarkan diri. Dalam kerasnya bisnis, musibah yang mereka alami tentu akan menjadi celah bagi sebagian orang untuk mengambil keuntungan atau pun menghancurkan bisnis mereka.
Secara pengalaman Gara memang belum banyak tetapi dia tidak akan membiarkan usaha yang dirintis oleh kedua orang tuanya hancur berantakan. Hanya dia harapan satu-satunya yang bisa diandalkan untuk mengatasi masalah ini.
__ADS_1
Pelayan yang tinggal di rumah menyediakan sarapan untuk Gara ketika melihatnya telah terbangun. Gara tidak memiliki selera khusus dalam hal makanan sehingga para pelayan tidak merasa bingung untuk menyiapkannya.
"Mbak, tolong ambilkan berkas yang diserahkan oleh polisi dari mobil papa kemarin!" perintah Gara.
"Baik, Tuan."
Pelayan itu kembali datang beberapa menit kemudian dengan membawa berkas yang diinginkan oleh Gara. Ada lima buah map dengan konsep yang berbeda. Namun, Gara lebih tertarik pada sebuah agenda milik ibunya.
Sarapan di hadapannya sudah hampir habis separuhnya tetapi Gara tidak ingin melanjutkannya. Tulisan tangan ibunya membuatnya tidak bisa lagi untuk bersantai. Dia segera beranjak dari duduknya dan membawa seluruh berkas ke dalam mobil.
Pak Iman, sopir yang bekerja pada kedua orang tuanya tampak terkejut saat melihat penampilan Gara. Tuan mudanya tidak lagi mengenakan pakaian layaknya berandalan atau berseragam sekolah tetapi dia memakai setelan jas yang sangat rapi.
Ucapkan Gara membuat Pak Iman terkejut. Dia terlihat gelagapan dan membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa. Terselip rasa tidak percaya karena ini pertama kalinya dia melihat sisi berbeda dari tuan mudanya.
"Ba-baik, Tuan."
Masih dengan keheranannya, Pak Iman pun bersiap untuk mengemudikan mobilnya. Apapun yang dilakukan oleh Gara saat ini tentu sudah dipikirkannya. Terbersit setitik rasa bangga di hati Pak Iman tentang perubahan dari anak majikannya ini.
__ADS_1
'Semoga saja Tuan Gara benar-benar berubah. Di balik musibah yang menimpa tuan dan nyonya terselip hikmah yang membuat Tuan Gara menjadi pribadi yang lebih baik.' Pak Iman bermonolog dalam hati.
Sebagai orang yang sudah bekerja cukup lama pada orang tua Gara, Pak Iman tahu betul seperti apa kenakalan Gara selama ini. Meskipun belum tampak seperti apa usaha yang dilakukannya tapi dia yakin jika Gara mampu mengatasi semuanya.
Dari spion terlihat Gara sedang mempelajari berkas di tangannya. Cepat atau lambat dia pasti akan menjadi pewaris bisnis Gerald dan Sarah dan momen ini adalah awal karirnya.
Membaca di dalam mobil membuatnya pusing. Gara pun menyerah dan akan memulai semuanya dengan keyakinannya. Dia percaya bisa menggantikan pekerjaan ayahnya dengan benar.
"Pak, jam kerja kantor biasanya mulai pukul berapa?" tanya Gara.
"Biasanya pukul delapan sampai setengah sembilan, Tuan," jawab Pak Iman.
"Hmmm." Gara mengangguk.
Mobil yang membawa mereka akhirnya sampai di perusahaan. Saat ini waktu menunjukkan pukul sembilan lewat lima menit. Sebagian karyawan perusahaan terkejut saat melihat kedatangan mobil milik Sarah. Mereka tidak tahu jika bossnya akan sadar secepat ini.
Beberapa orang tengah bersantai di jam kerja karena berpikir tidak ada yang akan menegur mereka. Gerald dan Sarah tidak mungkin datang hariini, pikir mereka. Namun, wajah mereka menjadi pucat ketika melihat kedatangan mobil bossnya dan menunggu dengan penuh harap siapa yang akan keluar dari sana.
__ADS_1
Betapa terkejutnya mereka saat melihat kedatangan Gara. Mereka tahu jika bossnya memiliki seorang putra tetapi tidak tahu jika sudah sebesar ini. Para karyawan itu segera bersikap serius dan kembali ke pekerjaannya masing-masing.
***