I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 13. Jealous


__ADS_3

Ruang kelas yang semula gaduh mendadak menjadi hening saat Gara dan Nabila memasuki ruang kelas. Semua mata melihat ke arah mereka dan merasa heran.


"Di mana tempat dudukmu?" tanya Gara.


"Di sana." Nabila menunjuk ke sebuah bangku kosong di samping Leny.


Keduanya lalu berjalan menuju ke tempat yang ditunjuk. Sebelum melepaskan tangan Nabila, Gara mengecupnya terlebih dahulu. Apa yang dilakukannya kembali membuat siapa pun yang melihatnya meleleh.


"Gue pergi dulu," pamit Gara.


Bibir Nabila terasa kelu, dia tidak sanggup menjawab ucapan Gara dengan kata-kata. Sebuah anggukan kepala saja rasanya sudah begitu berat. Saat ini dirinya menjadi pusat perhatian seisi kelas meskipun Gara sudah pergi.


Teman sekelas Nabila saling berbisik menggunjingkannya. Mentalnya saat ini benar-benar diuji. Entah apa yang mereka pikirkan tentang dirinya yang tiba-tiba memiliki kedekatan dengan salah satu member Grup Dragon.


Setelah sadar dari keterkejutannya, Leny setengah berdiri untuk menggapai Nabila dan menariknya duduk.


"Apa yang sudah aku lewatkan? Bagaimana bisa kamu bisa sedekat itu dengan Gara?" Leny ingin segera mendengar penjelasan dari Nabila.


"Entahlah. Ceritanya panjang." Jawaban Nabila jauh dari yang diharapkan oleh Leny.


Di kelas itu, ada seorang siswi yang menjadi penggemar berat Gara. Namanya Nayla. Sejak tadi dia berusaha untuk menahan diri dari rasa kecemburuannya.


"Sepertinya hidupmu akan sulit setelah ini. Aku rasa penggemar Gara tidak akan membiarkanmu memilikinya dengan begitu mudah."


"Aku tahu." Nabila menatap kekhawatiran di wajah Leny. Meskipun keduanya baru saja saling mengenal, dia terlihat tulus.

__ADS_1


Obrolan mereka harus terhenti ketika bel tanda masuk telah berbunyi.


Di tempat lain,


Gara berjalan menuju ke kelasnya. Di jalan dia berpapasan dengan ketiga temannya yang telah selesai sarapan dari kantin. Mereka lalu berjalan bersama ke kelas.


"Lu pakai ajian apa? Bagaimana bisa cewek galak itu bisa luluh sama lu?" Birawa masih tidak percaya dengan keberhasilan Gara.


"Gue tembak langsung. Mungkin dia suka cowok yang to the poin kayak gue." Gara tidak menjelaskan secara rinci tentang proses pacaran mereka.


'Gue harus pintar bersandiwara. Tiket konser sudah di depan mata. Mereka harus yakin jika Nabila beneran nerima gue.' Gara berhati-hati menjawab pertanyaan teman-temannya.


"Lo nggak curang, kan? Segala bentuk suap menyuap dan status palsu dianggap pelanggaran." Daud pun tidak tinggal diam.


Semua sudah diperkirakan oleh Gara. Teman-temannya pasti tidak akan semudah itu percaya.


Terpaksa Gara harus serius dengan statusnya sebagai pacar Nabila. Sejujurnya dia tidak tertarik untuk menjalin hubungan tanpa cinta. Kehidupan keluarganya membuatnya tidak percaya dengan sebuah ikatan.


Melihat wajah Gara yang dingin, nyali ketiga temannya menciut. Mereka tidak berani lagi bertanya atau menyinggung Gara. Di antara anggota Grup Dragon, Gara lah yang paling dominan.


Saat jam istirahat, Nabila dan Leny bersiap untuk keluar dari kelasnya. Mereka membawa buku yang akan dipelajari untuk mengisi waktu istirahat. Namun, ketika berada di pintu keduanya dihadang oleh Nayla dan dua temannya.


"Mau ke mana?" tanya Nayla dengan wajah masam.


"Mau ke taman. Ayo kalau mau ikut!" ajak Nabila santai. Dia tidak tahu jika Nayla menyukai Gara sejak lama tetapi tidak pernah direspon.

__ADS_1


"Apa? Nggak salah ngajak gue barengan sama lu?" Nayla menunjukkan wajah mengejek.


Kedua temannya ikut memandang sinis pada Nabila. Mereka menganggapnya sebagai orang kampung yang tidak tahu diri.


"Ya sudah, beri aku jalan kalau begitu." Nabila melirik ke arah Leny yang sudah lebih dulu berada di luar kelas.


Leny tidak bisa membantunya. Nayla termasuk murid yang disegani di kelas. Dia adalah putri seorang tentara.


"Enak saja. Gue lepasin lo asal lo putusin Gara hari ini juga!"


Nabila menatap Nayla tidak percaya. Dia baru tahu jika sikapnya yang kurang bersahabat padanya ternyata karena Gara.


Wajah Nayla mendadak menjadi pias dan memucat ketika dia melihat keluar kelas. Seseorang menatapnya tajam dan membuatnya salah tingkah. Keberaniannya menguap begitu saja.


'Semoga saja Gara tidak mendengar apa yang barusan aku katakan pada cewek udik ini.' Nayla berharap sesuatu yang mustahil.


"Dasar nggak tahu malu!" Gara menyenggol bahu Nayla saat meraih tangan Nabila dan membawanya keluar.


Tidak terima dengan perlakuan Gara, Nayla pun mengejarnya dan menarik ujung lengan bajunya.


"Lo nggak bisa nyuekin gue gitu aja, Ra! Apa, sih, istimewanya cewek ini? Harusnya lu milih gue daripada orang yang baru lo kenal!"


Gara menatapnya tajam lalu turun ke bawah dan melihat ke arah tangan Nayla yang masih memegang ujung bajunya.


"Lepasin! Nggak perlu ngatur hidup gue! Dan ingat, Nabil adalah cewek gue, sekali lagi lo gangguin dia, gue nggak akan lepasin elo!"

__ADS_1


Nayla tidak berkutik saat menghadapi kemarahan Gara.


***


__ADS_2