
Nabila pulang ke kos dengan diantar oleh Pak Iman. Apa yang terjadi hari ini masih terbawa dalam pikirannya. Di sepanjang perjalanannya dia terus melamun memikirkan kehidupan cintanya.
'Aku tidak menyangka pertemuan tidak sengaja antara aku dan Gara di malam itu akan berlanjut seperti ini. Kehidupan kami jauh berbeda dan tidak tahu sampai kapan hubungan ini bisa bertahan. Aku tidak berharap banyak karena takut kecewa.'
Dengan segala kesadarannya, Nabila mencoba berpikir rasional. Kalangan elite dan putri seorang abdi negara tidaklah sepadan. Sebisa mungkin Nabila berusaha untuk sadar diri dengan status sosialnya.
Mobil mewah yang mengantarnya terasa begitu nyaman hingga dia tidak menyadari jika mereka telah sampai di depan gang menuju kosnya. Jalanan yang sempit tidak memungkinkan mobil untuk masuk.
"Non, kita sudah sampai," ucap Pak Iman sambil membukakan pintu.
"Ah, iya, Pak."
Nabila pun turun dari mobil dan memeriksa barangnya. Setelah yakin tidak ada yang tertinggal, dia pun segera bergeser.
"Terimakasih, Pak. Maaf merepotkan malam-malam."
Wajah lelah Pak Iman menampakkan senyuman tulus. Pria paruh baya itu mungkin telah terbiasa bekerja hingga larut malam dan melakukan tugas yang sewaktu-waktu bisa berubah.
"Sudah menjadi tugas saya, Non. Maaf tidak bisa mengantar sampai ke depan pintu."
"Tidak masalah, Pak. Sekali lagi terimakasih. Aku permisi dulu," pamit Nabila.
"Selamat malam, Non."
Tempat tinggal Nabila memang rawan kejahatan. Baru beberapa langkah Nabila berjalan meninggalkan Pak Iman, tiba-tiba terdengar suara gaduh. Terlihat tiga orang preman menghalangi Pak Iman untuk meminta uang.
Tidak ingin membiarkan Pak Iman dipalak, Nabila pun kembali ke mobil Gara. Namun, bukannya senang, Pak Iman malah terlihat khawatir padanya.
"Non, pergi saja! Tidak apa-apa aku kehilangan uang saya."
Pak Iman terlihat pasrah dan mengambil dompet dari saku celananya. Saat dia akan membukanya, Nabila merebutnya dan menyembunyikannya di balik punggungnya. Apa yang dilakukannya membuat Pak Iman ketakutan karena tiga preman itu kini mengincar dompet di tangannya.
"Rupanya kamu ingin main-main dengan kami, ya!" seru salah seorang preman.
Dua orang yang lainnya saling berbisik dan mengatakan sesuatu. Sepertinya mereka lebih tertarik pada Nabila ketimbang uang di tangannya.
__ADS_1
"Kalian bisa-bisanya nyari uang dengan cara seperti ini. Memalukan!" ejek Nabila.
"Kurang ajar!" Pria itu mengepalkan tangannya dan bersiap untuk menyerang tetapi dua temannya membisikkan sesuatu.
"Boss, kita main halus saja. Lumayan lah dia bisa kita manfaatkan."
Pria yang sedang emosi itu tampak berpikir. Rupanya dia juga tertarik saat melihat Nabila yang terlihat begitu cantik.
"Sebenarnya aku tidak ingin menyakitimu, Cantik. Baiklah aku tidak akan mengambil uang itu tetapi aku ingin kamu menemani kami makan malam di kafe," ucap preman sambil menunjuk ke sebuah kafe yang ada di ujung jalan.
Nabila tersenyum. Dia merasa ada kesempatan untuk mengerjai para preman tersebut.
"Tangkap ini, Pak!" seru Nabila pada Pak Iman.
Pak Iman pun menerima dompetnya kembali. Bukannya senang, perasaannya malah tambah kacau. Dia takut jika sesuatu yang buruk menimpa kekasih majikannya itu.
"Buruan pergi, Pak!" seru Nabila tidak ingin membahayakan Pak Iman lagi.
Pak Iman tidak bergeming dari tempatnya sebelum Nabila pulang dengan aman.
Tangan preman hendak merangkul bahu Nabila tetapi sebelum mencapainya, Nabila menarik tangan itu dan memuntirnya. Tubuhnya mungkin tidak sebesar para preman tetapi tenaga dan kemampuan beladirinya cukup untuk membuat mereka babak belur.
"Arrggh!" Preman menjerit kesakitan.
Kedua preman yang lain tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Menyesal pun tidak ada gunanya. Kini mereka harus bertanggung jawab dan membantu temannya untuk melawan Nabila.
Perkelahian pun tak terelakkan lagi. Nabila terlihat kesulitan untuk melawan ketiga preman tetapi masih bisa menguasai keadaan. Pemandangan ini membuat Pak Iman merasa ngeri. Beberapa kali dia menutup wajahnya dan mengintip pertarungan dari sela-sela jarinya.
Setelah berjibaku selama beberapa menit, Nabila akhirnya berhasil mengalahkan para preman dan membuatnya terkapar dengan cidera yang berbeda-beda. Kemenangan Nabila membuat Pak Iman merasa lega.
"Pulanglah sekarang, Pak. Daerah ini tidak aman," ucap Nabila dengan napas ngos-ngosan setelah berkelahi.
"Ba-baik, Non."
Tidak ingin sesuatu yang buruk kembali terjadi, Pak Iman pun menuruti kata-kata Nabila. Hampir saja dia membahayakan nyawa orang lain.
__ADS_1
Setelah kepergian Pak Iman, Nabila terlihat menghubungi seseorang. Dia meminta polisi untuk menangkap tiga preman yang berhasil dilumpuhkannya. Jika tidak dipenjarakan, takutnya akan semakin banyak korban dan meresahkan pengguna jalan di malam hari.
Polisi terdekat segera datang dan membawa ketiga preman. Mereka tidak meminta Nabila untuk pergi bersamanya karena mereka tahu jika dia adalah putri dari seorang kepala polisi. Para preman itu baru sadar jika mereka telah salah memilih lawan.
Beberapa luka memar di tubuh Nabila terasa begitu perih saat dia selesai mandi. Dia segera mengobati luka-lukanya sendiri sebelum beristirahat. Semua rasa sakit itu terabaikan ketika dia mengingat momen manis yang dilakukannya bersama Gara.
Perasaan cinta membuat seseorang merasakan kebahagiaan, kesedihan dan keraguan dalam satu waktu. Setiap kali mengingat nama Gara, jantung Nabila selalu berdebar. Terlepas dari sifat berandalnya, pemuda itu memang memiliki pesona yang sulit untuk ditolak oleh kaum hawa.
Perlahan mata Nabila pun terpejam dengan memeluk segala kenangan manisnya hari ini.
Di pagi hari,
Gara dan Nabila menjalankan aktifitasnya masing-masing. Hingga beberapa hari ke depan, Gara belum bisa pergi ke sekolah. Perusahaan orang tuanya lebih penting saat ini.
'Gue harus memikirkan cara agar bisa sekolah dan mengurus perusahaan secara seimbang. Ujian kelulusan sebentar lagi, jika terus absen gue pasti nggak akan lulus tahun ini.'
Gara mengacak-acak rambutnya mengekspresikan pikirannya yang kacau. Di usianya yang masih muda, dia dituntut untuk bisa mengatasi masalah yang begitu pelik. Namun, tidak ada gunanya mengeluh karena hanya akan membuatnya semakin tidak karuan.
Hari masih sangat pagi, Gara mengambil laptopnya dan mulai mengatur jadwal. Jika tidak dikelola dengan baik maka selamanya dia akan terombang-ambing dalam pusaran masalah yang tidak ada habisnya. Beberapa jadwal rapat dan pertemuan yang masuk dalam agenda dia atur ulang agar tidak bertabrakan dengan jam sekolah.
"Sepertinya gue nggak akan bisa lagi bersenang-senang di akhir pekan." Gara mendengus kesal dengan solusi yang didapatkannya.
Kerja keras yang dilakukannya bukan tanpa alasan dan tujuan. Sudah saatnya bagi dirinya untuk memikirkan masa depan, terlebih lagi setelah mengenal Nabila. Keinginannya untuk menikah begitu menggebu-gebu hingga membuatnya begitu bersemangat.
Gara mengambil ponselnya dan memandangi foto Nabila yang diambilnya secara diam-diam beberapa waktu lalu.
"Lo satu-satunya alasan yang membuat gue tetap kuat menjalani ini semua, Nab."
Tampaknya Gara memang sudah benar-benar jatuh hati pada wanita yang pernah menyelamatkannya itu. Namun, senyumnya perlahan memudar ketika dia teringat akan taruhan konyol yang dilakukannya bersama Grup Dragon. Entah sampai kapan rahasia ini akan terjaga dan apa yang akan terjadi jika Nabila sampai mengetahuinya.
Rasa sesal menghimpit hati Gara. Tidak seharusnya dia mengikuti permainan teman-temannya. Bisa dibayangkan betapa hancurnya hati Nabila jika tahu bahwa dirinya dianggap seperti sebuah piala yang diperebutkan.
'Semoga saja di masa depan Nabila percaya dengan kata-kata gue. Jujur gue nggak ada nyali untuk mengatakan rahasia ini.'
Gara kembali mengacak-acak rambutnya. Untuk kali ini disertai dengan emosi dan rasa penyesalan.
__ADS_1
***