
Pak Iman mendengarkan pertengkaran keduanya tanpa berani ikut campur. Sedikit banyak dia mengerti seperti apa permasalahan di antara mereka. Sebenarnya dia merasa iba pada majikannya tetapi kesalahan yang dilakukannya tidak bisa dianggap ringan.
Hati wanita memang penuh dengan misteri. Terkadang dia begitu lembut dan kadang bisa menjadi keras seperti batu.
'Kasihan sekali Tuan Muda. Baru beberapa saat menikmati kebahagiaan, dia harus berhadapan dengan masalah lagi. Dalam waktu yang hampir bersamaan, masalah bertubi-tubi datang menghampirinya. Semoga dia kuat dan menjadikan ini sebagai pembelajaran hidup yang membuatnya semakin dewasa.' Pak Iman turut terbawa dalam suasana.
Dari kaca spionnya, Pak Iman melihat wajah Gara yang sedang terpuruk. Cercaan demi cercaan yang diucapkan oleh Nabila membuatnya terpojok. Sepertinya dia sedang memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya dengan begitu hati-hati.
Nabila masih terisak begitu dalam sedangkan Gara dalam kebisuannya. Mereka sama-sama tersiksa dengan konteks yang berbeda. Nabila dengan lukanya dan Gara dengan penyesalannya.
"Nab, gue sangat menyesal. Sungguh gue beneran sayang sama elo. Jika lo mau pembuktian, gue bahkan rela mati agar lo percaya bahwa perasaan ini tidak ada kebohongan." Gara berbicara dengan suara parau.
Kata-kata itu begitu menyentuh dan membuat hati Nabila bergetar tetapi dia tidak bisa semudah itu memaafkan. Sejujurnya dia juga mulai menyayangi Gara dan tidak sanggup kehilangannya. Namun, untuk menyatukan hatinya yang hancur, dia membutuhkan waktu dan pembuktian.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, Ra. Kamu sudah menghancurkan hatiku di saat aku mulai mencintaimu. Sepertinya kamu lebih mementingkan persahabatanmu ketimbang diriku. Mungkin lebih baik kita jalani hidup masing-masing agar kamu tenang dengan kehidupanmu dan aku tenang dengan kehidupanku." Nabila ingin mengakhiri semuanya.
"Jangan tinggalin gue! Gue memang nggak punya sesuatu yang bisa gue banggain tapi apakah salah jika gue mengharapkan sebuah kebahagiaan. Atau mungkin gue memang nggak pantas buat dapetin itu dan terus terpuruk." Gara merenggangkan pelukannya pada Nabila.
Wajahnya tidak mampu menyembunyikan kesedihan. Hatinya tidak rela melepaskan Nabila tetapi dia tidak memiliki hak untuk membuatnya tetap tinggal. Perlahan dia menggeser tubuhnya menepi dan menatap kosong ke luar jendela.
Dengan posisinya saat ini, Nabila bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah Gara. Hati kecilnya merasa iba tetapi egoismenya masih berkuasa. Hingga detik ini dia belum bisa menentukan langkah seperti apa hubungan mereka ke depannya.
Di tengah keheningan, suara ponsel Gara berdering. Terlihat nama Daud di layar kaca. Dia tidak mengangkatnya.
__ADS_1
Tidak lama berselang, Birawa yang menelepon. Gara juga tidak ingin berbicara dengannya dan mengabaikannya. Panggilan terus masuk bergantian dan membuatnya merasa kesal.
Merasa bosan dengan sikap acuh Gara, panggilan berhenti dengan sendirinya. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit berikutnya, ponsel Gara kembali berdering.
Kesabaran Gara mulai habis. Dia membuka ponselnya untuk menonaktifkannya tetapi urung dilakukannya. Sebuah nomor tanpa nama yang memanggil membuatnya merasa penasaran.
Setelah menimbang-nimbang beberapa saat akhirnya Gara memutuskan untuk mengangkatnya. Dia tidak langsung berbicara dan menyalakan loudspeaker agar Nabila bisa ikut mendengarnya.
"Hallo! Selamat sore! Saya Ana, perawat yang menjaga Tuan Gerald dan Nyonya Sarah. Hallo! Apakah Tuan bisa mendengar saya?" Suara di seberang terdengar begitu jelas.
Semula Gara berpikir jika orang yang meneleponnya adalah Daud san Birawa tetapi ternyata bukan lagi mereka. Amarahnya yang hampir meledak menjadi surut. Tanpa pikir panjang dia pun akhirnya dia pun segera bicara.
"Selamat sore. Saya mendengarnya," jawab Gara singkat.
"Baik, Tuan Anggara. Apakah Anda bisa pergi ke rumah sakit sekarang? Nyonya dan Tuan telah sadar. Ada beberapa hal yang ingin disampaikan oleh dokter kepada Anda." Perawat itu kembali berbicara.
"Saya akan segera tiba," jawab Gara singkat.
"Baik, Tuan. Selamat sore!"
"Selamat sore."
Panggilan telepon pun berakhir. Gara menutup dan menyimpan teleponnya kembali. Sebelum berbicara pada Pak Iman, dia terlebih dahulu ingin berbicara pada Nabila terlebih dahulu.
__ADS_1
"Nab, gue ke rumah sakit dulu. Tapi sebelum itu, gue akan mengantar lo ke kos. Maaf jika gue nggak bisa kasih kebahagiaan buat lo karena gue sendiri juga nggak mempunyai itu. Gue akan tetep sayang sama lo walaupun elo menganggap ini hanya sebuah permainan. Terimakasih sudah menemaniku selama ini. Lo bebas untuk memilih akan tetap bersama gue atau menjalani hidup lo sendiri. Gue nggak akan memaksa." Gara berkaca-kaca ketika mengatakan hal ini.
Sebesar apa pun perasaannya untuk Nabila, kesalahannya memang sulit untuk dimaafkan. Dan sebesar apapun keinginannya untuk tetap bersama, tidak bisa dipaksakan. Sadar akan hal itu, Gara memilih untuk memberikan kebebasan pada Nabila dan percaya pada takdir.
Nabila tidak bisa menjawab ungkapan perasaan Gara. Di satu sisi dia sangat peduli dan ingin menemaninya tetapi di sisi lain dia tidak bisa memaafkannya begitu saja. Hatinya berperang untuk menentukan keputusan yang akan diambilnya hari ini.
"Aku memang belum bisa memaafkanmu tetapi aku ingin ikut pergi ke rumah sakit," ucap Nabila dengan nada yang masih terdengar ketus.
Walaupun ini bukan keputusan final dan hubungan keduanya masih menggantung, Gara tetap mengganggap ini sebagai hal yang baik. Perjuangannya kembali di mulai. Mulai hari ini dia akan berusaha memperbaiki diri dan mengejar cinta Nabila kembali.
"Terima kasih. Gue nggak akan menyerah untuk membuat lo kembali percaya sama gue." Gara tersenyum tipis dan terlihat samar.
Nabila masih bersikap dingin. Dia memalingkan wajahnya ke samping seolah tidak peduli meskipun hal yang terjadi adalah sebaliknya.
Gara meminta Pak Iman untuk memutar arah dan mengantarnya ke rumah sakit.
'Akhirnya Non Nabila dan Tuan Gara tidak jadi putus. Tidak bisa aku bayangkan akan seperti apa Tuan Gara nantinya jika hal itu sampai terjadi.' Terlintas kembali dalam ingatannya saat Gara frustasi dengan keadaan dan membuatnya begitu akrab dengan minuman dan dunia malam.
Pak Iman berharap itu tidak akan pernah terulang lagi. Jika ada kesempatan, dia ingin berbicara secara pribadi dengan Nabila untuk mengatakan ini semua. Dia sangat yakin jika Nabila adalah gadis yang baik walaupun dia belum tahu dari mana asal usulnya.
Suasana kembali hening. Tidak ada percakapan lagi di antara mereka. Baik Gara maupun Nabila memilih untuk diam dan mengembara dengan pikiran mereka masing-masing.
'Kamu membuatku pusing, Ra. Aku tidak tahu apakah terus bersamamu adalah keputusan yang benar. Hatiku tidak sampai untuk meninggalkanmu di saat kamu terpuruk seperti ini. Walaupun sangat marah, aku tidak akan setega itu padamu.' Nabila belum merasa yakin dengan keputusannya.
__ADS_1
***