I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 12. Pembuktian


__ADS_3

Nabila masih asyik dengan sarapannya. Dia tidak tahu jika Grup Dragon sedang menuju ke sana. Di hadapannya, Gara juga terlihat sangat santai dengan rokoknya.


"Apa rencanamu hari ini?" tanya Gara pada Nabila.


Nabila menghentikan sendoknya yang telah berada di depan mulutnya. Sejenak dia berpikir untuk menjawab pertanyaan Gara.


"Tidak ada. Banyak hal yang harus aku persiapkan untuk menghadapi ujian. Aku belum menemukan tempat les privat yang cocok untuk membantuku belajar." Setelah mengatakan ini, Nabila melanjutkan makannya yang tinggal sedikit.


Sebelum semakin banyak murid yang datang, dia ingin segera pergi dari kantin. Namun, sepertinya sudah terlambat. Ken, Daud, dan Birawa sudah sampai di depan kantin dan melihatnya sedang bersama Gara.


Tiga pria berandalan sekolah itu berhenti dan menatap Gara dan Nabila secara bergantian. Pemandangan ini sulit untuk dipercaya. Mereka terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar di kepala mereka.


Gara yang semula duduk membelakangi mereka mulai sadar dengan kehadiran ketiganya. Terlebih lagi raut wajah Nabila yang mulai berubah. Dia pun segera memutar tubuhnya menghadap ke pintu.


"Lu pada ngapain bengong? Apa gue kelihatan seperti hantu?" ledek Gara sambil tersenyum miring.


Ucapannya menyadarkan ketiga temannya dari lamunannya. Mereka lalu berjalan menghampiri Gara dan Nabila.


"Dia ... barengan sama lu, Ra?" tanya Birawa penasaran.


"Hmm." Gara mengangguk.


Birawa, Daud dan Kenzi saling berpandangan. Lagi-lagi mereka dibuat tidak percaya dengan pengakuan Gara. Rasanya mustahil jika Gara berhasil meluluhkan hati Nabila secepat ini.


"Duduklah! Sampai kapan kalian mau berdiri kayak patung selamat datang?" Gara merasa sangat puas melihat wajah pucat ketiga temannya.


Hanya ada empat kursi yang melingkari meja. Merasa dirinya bukan anggota Grup Dragon, Nabila memilih untuk mengalah dan berdiri. Sudah saatnya dia pergi dari sana.

__ADS_1


"Mau ke mana?" tanya Gara.


"Aku pergi ke kelas dulu." Nabila merapikan seragam dan tasnya sebelum pergi.


"Tunggu! Gue anter."


Ucapan Gara terdengar seperti perintah yang mau tidak mau harus ditaati. Meskipun belum tahu betul seperti apa sifatnya sebenarnya tetapi sedikit banyak Nabila bisa menebaknya. Gara tidak suka penolakan.


Daud beranjak dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan Gara.


"Tunggu! Ada yang perlu gue tanyakan sama lu."


Gara mengangguk.


Birawa yang semula duduk pun ikut berdiri. Dia menggeser tubuhnya ke sebelah Kenzi yang tengah berdiri di belakang Daud.


"Siapa Nabila bagi elu?" Daud tidak bisa berbasa-basi lagi.


"Menurut lo?" Gara malah balik bertanya.


"Nggak mungkin kan kalau kalian jadian," nyinyir Daud.


"Apanya yang nggak mungkin? Kita memang dah jadian kemarin."


Jawaban Gara membuat ketiga temannya menjadi syok. Mereka tidak menyangka jika Gara telah berhasil memenangkan hati Nabila. Namun, mereka tidak lantas percaya begitu saja.


"Sorry, bukannya gue nggak percaya sama lo tapi kurasa kamu sedang halu." Birawa ikut mengolok Gara. Dalam hati dia tidak rela jika Gara memenangkan taruhan secepat ini dan harus kehilangan uang yang cukup banyak untuk patungan membeli golden tiket dan biaya transportasi.

__ADS_1


Gara tidak ingin menjawab keraguan teman-temannya dengan kata-kata. Mereka akan berpikir jika itu hanyalah omong kosong saja. Tanpa meminta ijin terlebih dulu pada Nabila dia mendaratkan kecupannya di pipinya.


Tubuh Nabila seperti terkena sengatan listrik yang membuatnya bergetar. Ini pertama kalinya dia dicium oleh seorang pria selain ayahnya. Ingin rasanya dia memaki-maki Gara yang telah begitu lancang tetapi hal ini bertentangan dengan perasaannya.


Bukan hanya Nabila yang terkejut dengan perlakuan Gara. Birawa, Kenzi dan Daud juga terbengong melihatnya. Mereka ternganga tak percaya.


Gara memegang tangan Nabila dan membawanya berjalan meninggalkan kantin.


Di luar kantin rupanya sudah banyak murid-murid yang datang ke sekolah. Mereka terheran-heran melihat Gara sedang menggandeng murid baru yang belum mereka ketahui namanya.


Nabila sedikit terpengaruh dengan suara murid-murid yang sedang menggunjingkannya. Namun, Gara terus membawanya berjalan dengan tangan yang tidak terlepas. Sepertinya dia memang sengaja melakukannya agar semua orang tahu jika mereka memiliki hubungan spesial.


"Nganternya sampai sini aja. Kelasku sudah dekat," ucap Nabila berharap Gara akan melepaskan tangannya.


Di kejauhan terlihat Leny sedang berjalan memunggunginya. Nabila berharap dia tidak menoleh ke belakang dan melihatnya sedang bersama Gara. Akan tetapi, harapannya itu sepertinya akan sia-sia mengingat sifat keras kepala Gara.


"Apakah lo masih mau tebar pesona ke cowok lain?"


Nabila buru-buru menggeleng.


'Ya Tuhan, dosa apa yang telah aku lakukan di masa lalu hingga aku Engkau pertemukan dengan makhluk nyebelin ini.'


"Ya, sudah. Gue anter sampai kelas."


'Mati aku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.' Nabila terlihat gugup ketika keduanya semakin dekat dengan kelasnya.


Leny terlihat sudah masuk ke kelas lebih dulu dan tidak melihat kedatangannya.

__ADS_1


***


__ADS_2