
Nabila segera beranjak dari duduknya dan pergi keluar kelas saat melihat Gara datang. Jam pelajaran akan dimulai beberapa menit lagi. Walaupun tidak lama, dia bisa mengobrol dengan Gara beberapa saat.
"Kamu tidak masuk ke kelasmu?" tanya Nabila setelah keduanya saling berhadapan.
Gara menggeleng lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Nabila. "Gue kangen sama lo. Tanpa melihat senyummu gue nggak ada semangat."
"Gombal," balas Nabila.
Wajahnya bersemu merah. Meskipun tidak terbiasa mendengarnya tetapi dia sangat tersipu. Gara pasti bersusah payah untuk merangkai kata-kata itu untuk menyenangkannya.
Walaupun tidak terlihat jelas, Gara tersenyum mendengar jawaban Nabila. Seperti apa pun sikapnya, baginya sangat menarik.
Gara mendekatkan tangan kirinya dan melihat jam tangannya.
"Gue tunggu di kantin jam istirahat. Sampai nanti." Gara berbalik setelah mengatakan itu.
"Sampai nanti." Nabila pun kembali ke kelasnya.
Hatinya begitu senang setelah bertemu dengan Gara.
'Aku heran pada diriku sendiri. Bisa-bisanya aku jatuh cinta pada cowok aneh sepertinya. Sikapnya jauh dari kata romantis, bicaranya sedikit dan terkadang apa yang dilakukannya membuatku syok.' Nabila tidak berhenti memikirkan Gara.
"Ehemm! Ada yang berbunga-bunga, nih?" ledek Leny.
Nabila terkejut karena sebelumnya dia melamun. Kata-kata Leny membuatnya kembali tersipu. Dia tidak menyangkal apa yang dikatakannya karena saat ini dia memang sedang bahagia.
"Kamu bisa aja, Len."
"Bisa lah. Gini-gini gue juga pernah jatuh cinta kali. Yah, walaupun sekarang gue jomblo." Leny memperlihatkan wajah memelasnya.
"Sabar, kamu pasti akan segera menemukan cowok yang lebih baik darinya," hibur Nabila.
"Semoga saja," jawab Leny sembari tersenyum kecut.
Mereka tidak melanjutkan obrolannya karena guru yang mengajar pagi itu telah memasuki kelas. Mereka ada beberapa ulangan dan pengumpulan tugas hari ini.
Sebenarnya Nabila tidak ingin pergi ke kantin tetapi dia tidak bisa mengecewakan Gara. Untungnya semalam dia sudah menyiapkan segalanya.
"Nab, besok kan hari libur. Bisa nggak hari ini lo ikut gue pergi ke kantor. Dokter bilang nyokap gue dah sadar. Sebentar aja kog, habis itu kita pergi ke rumah sakit." Gara membujuk Nabila untuk menemaninya hari ini.
Nabila terlihat menimbang-nimbang. Rencananya dia akan pulang ke rumahnya hari ini. Lagi-lagi dia merasa dilema karena tidak ingin mengecewakan Gara.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa menemanimu sampai malam. Aku ada janji sama mama untuk pulang ke rumah."
Gara terlihat menghela nafas. Dia tidak suka penolakan tetapi sesekali dia harus mengalah pada Nabila.
"Baiklah, kita akan pergi lain kali saja. Lo sudah lama nggak pulang ke rumah. Ortu lo pasti sangat rindu."
Nabila sedikit merasa heran tetapi dia senang. Sedikit banyak keegoisan Gara telah terkikis. Dia tidak lagi memaksakan keinginannya seperti yang sudah-sudah.
"Terimakasih, Sayang. Lain kali aku pasti akan menemanimu." Ini pertama kalinya Nabila memanggil Gara dengan kata 'Sayang'.
"Apa lo bilang tadi?" Gara terkejut tetapi sejujurnya dia merasa sangat senang.
"Kata yang mana? Aku akan menemanimu lain kali," ulang Nabila sengaja menggoda Gara.
"Sayang."
Gara tersenyum. Udara yang berhembus siang itu terasa begitu lembut dan membuat tubuhnya terasa ringan. Salah sedikit dia akan terbang dan merasa berada di atas angin.
"Bolehkah kalau mulai hari ini lo panggil gue seperti itu sampai seterusnya. Gue juga akan melakukan hal yang sama." Gara ingin selalu mendengarkan panggilan itu untuknya.
"Aku akan melakukannya pada saat-saat tertentu saja. Malu tauk!" Nabila menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Gara tersenyum lebih jelas dari sebelumnya. Sesekali saja dia mendengar panggilan itu tidak masalah. Ini sudah membuktikan jika perasaannya pada Nabila tidak bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Melihat Nabila menyembunyikan wajahnya, dia merasa gemas dan mencoba melepaskannya. Dia semakin gemas saat melihat wajah Nabila yang memerah menahan malu.
Di taman itu begitu ramai tetapi keduanya tidak peduli. Dunia terasa milik berdua ketika seseorang sedang dimabuk cinta.
Gara terbawa perasaannya dan mulai hilang kendali. Dia menggeser duduknya hingga begitu dekat dengan Nabila. Tangannya melingkar di bahu Nabila dan menariknya begitu erat.
Perlahan dia menggerakkan wajahnya mendekat ke wajah Nabila untuk mengambil sebuah ciuman.
"Uhuk! Uhukk!" Suara orang terbatuk membuyarkan konsentrasi Gara.
Dengan cepat mereka mengatur posisi dengan sedikit berjarak satu sama lain. Keduanya terlihat canggung.
'Dasar Nyamuk! Sukanya menggangu orang saja,' omel Gara dalam hati.
Kekecewaan terlihat jelas di wajah Gara tetapi dia juga sadar jika tidak sepantasnya dia berciuman di tempat umum.
"Sorry! Gue ganggu kalian sebentar. Ada sesuatu yang mau gue tanyain sama kalian," ucap Kenzi.
Sebenarnya sejak tadi dia memata-matai Gara dan Nabila. Dia tidak rela jika Gara mengambil ciuman pertama yang ingin dia dapatkan dari Nabila. Kenzi tidak tahu jika keduanya telah beberapa kali melakukannya.
"Katakan saja!" Gara tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang tidak senang pada Kenzi.
Kenzi tahu jika seperti apa kesalnya Gara saat ini tetapi dia merasa menang karena berhasil membuat keduanya berhenti bermesraan. Perasaan cemburu mendorongnya untuk muncul di tengah kebersamaan mereka.
\*\*\*
__ADS_1