I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 31. Iseng


__ADS_3

Hera menggeleng gemas dan melanjutkan makannya. Percuma saja dia berdehem puluhan kali karena Kenzi sedang tidak memperhatikannya. Dia memilih untuk membiarkannya setidaknya sampai dirinya selesai makan.


Makanan di piring Hera telah berpindah ke perutnya. Timbul sebuah ide jahil di kepalanya. Dia ingin membuat putranya benar-benar tersadar dari lamunannya.


Sebelum melakukan aksinya, Hera memberi isyarat pada asisten rumah tangga yang berdiri di belakangnya agar tidak terkejut. Di usianya yang sudah berkepala empat terkadang Hera masih suka bertingkah konyol. Contohnya adalah hari ini.


'Aku harus memberi pelajaran buat Kenzi. Diajak makan malam malah melamun. Mamanya sejak tadi dicuekin terus memangnya siapa cewek itu. Sebelum benar-benar berpacaran, dia harus lolos seleksi dariku lebih dulu.' Hera menggerutu kesal dalam hati.


Kenzi masih saja tidak menyadari pergerakan Hera dan terus mengaduk makanannya. Sesekali dia menyuapkan sendoknya tetapi seringkali kosong. Tampaknya dia benar-benar telah kehilangan akal sehatnya.


Hera berjalan mengendap-endap dan berdiri tepat di belakang Kenzi. Sebenarnya dia tidak tega mengerjai putranya tetapi rasanya dia begitu gemas melihat tingkahnya hari ini. Kenzi bahkan tidak menyadari jika ibunya telah selesai makan dan berdiri di belakangnya.


"Tikus! Tikus!" seru Hera dengan suara keras yang sengaja di dekatkan ke telinga Kenzi.


Mendengar kata tikus Kenzi secara reflek langsung beranjak dan melompat ke atas kursi. Pada masa kecilnya dia memiliki pengalaman buruk tentang tikus. Jari kakinya terluka dan harus diperban hingga beberapa hari karena digigit tikus yang dimainkannya.


Sejak saat itu Kenzi memiliki phobia dengan tikus dan merasa takut saat melihatnya. Melihat gambarnya saja ekspresi wajahnya akan langsung berubah.


"Mana tikusnya, Ma? Bik, bibik! Tolong singkirkan tikus itu!" seru Kenzi sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Asisten rumah tangganya berjalan mendekati Kenzi sambil menahan tawa.


Sama halnya dengan mereka, Hera tidak kuat lagi menahan tawanya. Setelah ditahan cukup lama akhirnya tawanya pun pecah. Suara ledakan tawa Hera menggema paling kencang.


Kini Kenzi baru tersadar jika dia sedang dikerjai oleh mamanya. Ini bukan kali pertamanya Hera mengerjainya tetapi karena dia sedang melamun membuat drama ini terasa nyata. Kedua bola mata Kenzi mendelik kesal dan selera makannya tiba-tiba menghilang.


"Mama mengganggu orang makan aja!" Kenzi berseru kesal pada Hera.


"Dih, makan apaan? Orang nasi sama lauk kamu masih utuh sedangkan mama sudah habis dua piring." Hera menunjuk ke arah piring kotor dan piring Kenzi di atas meja.


Kepala Kenzi menoleh mengikuti lengan Hera, ternyata memang benar apa yang dikatakannya. Bayangan wajah Hera yang tertawa geli saat memerhatikannya tiba-tiba membuatnya malu. Wajah Kenzi tampak tersipu.


Ancaman Hera hanya sebuah gertakan saja. Dia ingin Kenzi jujur dan lebih terbuka kepadanya.


"Mama kurang kerjaan banget, sih! Oke, oke, Ken bakalan jujur sama mama tapi mama harus janji nggak ngetawain?" Kenzi mengajak Hera tawar menawar.


"Boleh juga." Hera mengangguk tanpa membantah.


Kini Kenzi yang terlihat bingung, dia tidak tahu harus memulai cerita dari mana. Seperti yang diketahui, gadis yang dia suka merupakan kekasih sahabatnya. Mamanya pasti akan menganggapnya beneran gila jika tahu hal ini.

__ADS_1


"Ken suka sama cewek yang pendiam, Ma. Sulit buat menaklukkannya. Ken janji kalau hubungan kami sudah dekat pasti Ken kenalin sama mama." Kenzi berharap jika jawabannya ini bisa membuat mamanya puas dan berhenti mengolok-oloknya.


Hera tampak manggut-manggut setelah mendengar penjelasan Kenzi. "Ya, sudah kamu teruskan makannya. Jangan melamun lagi! Mama mau mandi dulu."


Kenzi mengangguk cepat. Akhirnya dia bisa bernafas lega. Keberadaan mamanya membuatnya mati kutu.


Tanpa pikir panjang, Kenzi menghabiskan makanannya dengan cepat. Sebenarnya dia sudah tidak berselera, hanya saja dia takut Hera mengintipnya dari CCTV untuk memastikan apa yang dilakukannya.


"Apa kalian lihat-lihat?!" bentak Kenzi pada dua asisten rumah tangga yang masih berdiri di sana.


"Maaf, Tuan. Kami tidak berani." Kedua asisten itu berbalik melihat ke arah lain.


"Telat! Aku sudah selesai." Kenzi beranjak dari duduknya menghasilkan suara derit panjang ujung kaki kursi yang bergesekan dengan lantai.


Dengan setengah berlari dia menaiki tangga. Sikap mamanya membuat Kenzi kembali bersemu.


'Dari mana mama tahu kalau gue sedang jatuh cinta? Jangan-jangan mama sudah tahu jika gue naksir anak temennya. Ah, bodo mamat. Waktu taruhan berakhir sebentar lagi. Gue sangat yakin bisa dapetin Nabil.'


Kenzi merasa jika dirinya akan lebih mudah untuk mendekati wanita pujaannya itu setelah taruhan berakhir. Dia tidak tahu jika Gara sudah jatuh cinta pada Nabila lebih dulu. Rasanya akan sulit dan membuat hubungan rumit di antara mereka menjadi semakin menarik.

__ADS_1


***


__ADS_2