I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 19. Di Kantor


__ADS_3

'Gue yakin akan muncul para penjilat dan orang-orang yang suka mencari muka untuk menyambutku. Sama sekali gue nggak tertarik untuk meladeni mereka tetapi gue masih membutuhkan informasi dari mereka.' Gara melihat ke sekeliling dengan mata elangnya.


Pak Iman memarkirkan mobilnya setelah membukakan pintu untuk Gara. Dalam hati dia berdoa agar majikannya itu bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.


Ketika memasuki lobi, Gara disambut oleh seorang karyawati. Dengan sopan dia menawarkan diri untuk membawakan tasnya tetapi Gara menolaknya. Tidak lama kemudian datang seorang yang dikenalnya, Pak Theo, asisten pribadi ayahnya.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa Theo.


Wajahnya terlihat sangat senang ketika melihat kehadiran Gara. Berkas-berkas penting untuk hari ini berada di tangan Gerald. Theo sangat senang ketika melihat map yang berisikan berkas itu dibawa oleh Gara.


"Selamat pagi, Pak Theo! Bisa tolong bawakan ini!" Gara mengangkat map dan tas milik ayahnya.


"Dengan senang hati, Tuan. Mari!"


Setelah mengambil barang bawaan Gara, Theo mempersilakannya untuk berjalan di depan. Walaupun tidak sering, Gara pernah pergi ke kantor ayahnya dan tahu di mana ruangannya. Dia juga tahu di mana ruangan ibunya.


Seperti yang dia perkirakan sebelumnya, banyak sekali karyawan yang mencari perhatiannya. Mereka menyapanya dengan sopan dan terlihat sedang membawa pekerjaan. Kelihatannya sangat rajin tetapi Gara merasa jika apa yang mereka lakukan justru malah terlihat konyol.


Setelah memasuki lift, Gara menekan tombol angka menuju ke lantai yang akan mereka tuju. Di jam kerja, mereka tidak perlu mengantri karena karyawan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


"Pak Theo, apakah jadwal ayah dan ibu hari ini?" tanya Gara.

__ADS_1


Theo terlihat kebingungan untuk menjawab. Sebelum kedatangan Gara, Laeli telah mengatur semuanya. Sebagai sekretaris pribadi Gerald dia merasa tahu segalanya.


"Em, itu ... em ...."


Gara menoleh ke arah Theo dan menatapnya tajam. Gelagatnya yang tidak biasa itu mengundang rasa penasarannya.


"Katakan saja! Nggak perlu sungkan sama saya."


Theo mengangguk dengan cepat. Sejujurnya dia mengakui jika dirinya tidak bernyali di hadapan boss mudanya. Menurutnya ketegasan dan kharismanya melebihi Gerald.


"Maaf, Tuan. Nona Laeli sudah mengatur semuanya. Dia yang akan menggantikan Tuan Gerald dalam beberapa urusan untuk hari ini."


Penjelasan Theo membuat Gara terlihat marah. Tangannya mengepal dan menggenggam dengan kuat. Namun, dia berusaha untuk menahan diri dan tetap terlihat tenang.


Tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Theo tidak memahami sikap diam Gara yang nyaris tak berekspresi. Sebagai bawahan, dia hanya bisa menerima perintah saja tanpa berani mengambil sikap.


Lift telah terbuka. Gara dan Pak Theo melangkah cepat menujunya ke ruangan direktur utama. Beberapa pegawai melihat kedatangan mereka dan merasa heran dengan kedatangan boss mudanya.


Wajah Gara tidak asing bagi seluruh karyawan perusahaan karena beberapa kali dia hadir dalam berbagai acara penting perusahaan. Ketampanannya juga cukup menarik perhatian. Dengan balutan jas rapi dia tampak lebih dewasa dari usianya yang sebenarnya.


Sesampainya di ruangan Gerald, dia melihat Laeli tengah sibuk dengan berkas-berkas di atas meja. Dia duduk di depan meja direktur dengan posisi tubuh membelakangi pintu. Tampaknya dia tidak peduli dengan siapa yang datang dan merasa enggan untuk menoleh. Mungkin dia berpikir jika Theo saja yang datang.

__ADS_1


Gara berjalan dengan santai menuju ke kursi ayahnya sedangkan Theo masih berdiri di depan pintu dengan wajah yang memucat. Dia merasakan hawa dingin dari sikap Gara dan membuat kakinya gemetar.


'Gawat, nih! Sepertinya Tuan Gara tidak menyukai Laeli. Semoga saja dia tidak tahu mengenai rumor kedekatan antara Laeli dengan papanya.' Theo tampak was-was dan serba salah.


Laeli masih tetap dengan kesombongannya meskipun tahu seseorang tengah berdiri di sampingnya. Hingga saat ini dia masih berpikir jika orang yang ada di sampingnya itu adalah Theo. Perhatiannya mulai terpancing ketika bayangan orang yang semula berdiri di hadapannya itu bergerak dan duduk di kursi direktur.


Betapa terkejutnya Laeli setelah dia mengangkat kepalanya dan melihat orang yang duduk di hadapannya. Masih segar dalam ingatannya di mana Gara hampir saja membunuhnya di rumah sakit. Wajahnya memucat didera oleh rasa takut yang menyelmuti hatinya.


"Ka-kamu!" seru Laeli dengan terbata.


"Hmmh!" Gara mendengus sambil menatap sinis ke arah Laeli.


"Aku ... aku ... aku hanya membantu pekerjaan papamu," jelas Laeli dengan gugup.


Theo berjalan mendekat ke arah mereka dengan berkas di tangannya.


"Ini berkas yang Anda minta, Nona." Theo menyerahkan beberapa map di tangannya tetapi sebelum Laeli berhasil menyentuhnya, Gara mengambilnya dengan cepat.


"Siapa yang memberimu hak untuk mengambil alih pekerjaan papa. Keluarlah wanita busuk!" seru Gara sambil menatap tajam ke arah Laeli.


Pengalaman buruk yang dialaminya kemarin masih membekas dalam ingatan Laeli. Rasa sakit di kepala dan bahunya pun masih terasa hingga saat ini. Terpaksa dia harus mengalah dan mundur untuk mengatur strategi.

__ADS_1


***


__ADS_2