I'M Not A Game

I'M Not A Game
Bab 25. Penyelamat


__ADS_3

Gara mempercepat langkahnya menuju ke ruang pembimbing. Lagi-lagi dia tidak menemukan Nabila di sana. Dalam kebingungannya dia pun berhenti untuk memikirkan ke mana akan pergi mencari keberadaan Nabila.


Sekolah mulai sepi karena sebagian besar penghuninya sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Perpustakaan, ruang guru, dan sederetan gedung serbaguna masih menunjukkan aktivitas tetapi Nabila tidak terlihat di sana.


Saat hampir putus asa, Gara teringat akan cerita Leny. Sebelum berpisah, Nabila berpamitan pada Leny untuk pergi ke kamar mandi. Gara berlari dengan sangat kencang menuju ke toilet yang ada di dekat kelas Nabila.


Beberapa murid yang sedang melakukan kegiatan ekstrakurikuler melihatnya dengan aneh. Mereka tampak heran tetapi tidak berani bertanya atau berkomentar apa pun. Tidak mungkin juga bagi mereka untuk meninggalkan tempat untuk memenuhi rasa ingin tahunya.


Sesampainya di area toilet, Gara terlihat celingukan mencari Nabila. Pergi ke toilet wanita adalah tindakan yang memalukan. Akan tetapi dia terpaksa melakukan ini demi mencari keberadaan kekasihnya.


"Toilet ini terlihat sepi. Sepertinya tidak ada orang yang menggunakannya."


Gara berjalan sambil memeriksa kalau saja ada petunjuk hingga dia mendapati sebuah toilet yang dikunci dari luar. Sebuah kertas yang menyatakan bahwa toilet itu rusak juga menempel di sana.


'Sebuah tulisan tangan? Rasanya sangat aneh. Biasanya pihak sekolah akan langsung memperbaiki kerusakan fasilitas umum. Kalau pun belum selesai, mereka pasti menempel pengumuman dengan tulisan yang diprint.'


"Uhukk! Uhukk!"


Terdengar suara orang yang sedang terbatuk dari dalam toilet. Suara yang tidak asing bagi Gara dan sangat di kenalnya. Matanya melebar dengan pendengaran yang mencoba dia pertajam.


"Nab! Nabil! Apakah lo di dalam?" tanya Gara dengan perasaan campur aduk.


Tidak ada suara lagi yang terdengar. Namun, Gara sangat yakin jika suara yang dia dengar sebelumnya berada dari sana.


Dia memberanikan diri untuk melepaskan rantai dan merusak gembok yang terpasang di sana. Setelah ini, dia akan bertanggung jawab pada pihak sekolah dan melapor.


Setelah berusaha cukup keras, akhirnya Gara berhasil membuka paksa pintu meskipun kondisinya menjadi rusak. Dengan cepat dia mendorong pintu dan melihat apakah ada orang di dalamnya.


Mata Gara terbelalak saat melihat Nabila sedang terduduk lemas tak sadarkan diri di pojok kamar mandi. Tidak banyak berpikir lagi, dia segera menggendongnya dan membawanya keluar dengan panik. Terlebih lagi saat merasakan tubuh Nabila sangat dingin.


Tidak ada orang yang melihatnya. Semuanya akan terbongkar jika pihak sekolah membuka rekaman CCTV yang terpasang di tempat-tempat yang dilaluinya.


"Nab! Kumohon sadarlah! Bertahanlah, gue akan membawa lo ke rumah sakit." Gara berjalan tergesa-gesa menuju ke mobil.

__ADS_1


Hari ini dia tidak membawa sopir sehingga sedikit kesulitan saat akan membuka pintunya. Di tengah kepanikannya, kesulitannya kian bertambah karena tangannya yang gemetar.


Gara segera berpindah ke belakang kemudi setelah meletakkan Nabila di sampingnya dan duduk dengan benar. Segera dia menyalakan mesin mobil dan membawa Nabila pergi ke rumah sakit terdekat.


"Uhukk! Uhukk!" Nabila kembali terbatuk dan mulai melakukan gerakan.


"Nab! Lo denger gue! Nab!" seru Gara di sela-sela menyetir mobilnya.


Beberapa meter di depannya ada sebuah pom bensin. Gara membelokkan mobilnya menuju ke sana untuk memeriksa keadaan Nabila.


Perlahan Nabila membuka matanya dan bayangan wajah Gara mulai terlihat samar. Masih jelas dalam ingatannya jika sebelum ini dia sedang terkunci di dalam kamar mandi. Walaupun tampak bingung tetapi bibirnya masih terlalu lemah untuk bertanya.


Gara melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya lalu memutar menghadap ke arah Nabila. Tangannya meraih tangan Nabila dan menggenggamnya.


"Apa yang terjadi padamu, Nab? Siapa yang tega mengurungmu di dalam kamar mandi?"


Nabila menggeleng lemah.


Jawaban Nabila membuat Gara tidak habis pikir dengan orang yang melakukannya. Ini sudah termasuk dalam sebuah tidak kejahatan. Setelah ini dia tidak akan tinggal diam dan akan mengusutnya sampai ketemu siapa pelakunya.


"Minumlah! Jangan takut! Kamu sudah aman."


Nabila mengangguk. Dengan tangan yang gemetar dia menerima botol minum dari Gara.


Semua ini tidak luput dari penglihatan Gara. Dia kembali meraih botol itu dan membantu Nabila untuk meminumnya.


"Lo membuat gue takut, Nab."


Gara menyimpan botol air mineral dan kembali memegang tangan Nabila. Tubuhnya bergeser mendekat lalu meraih tubuh Nabila ke dalam pelukannya.


"Terimakasih sudah datang menyelamatkanku, Ra. Jika tidak ...."


Ucapan Nabila terhenti karena Gara memberi isyarat untuk diam.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara dulu! Kita pergi ke rumah sakit sekarang."


"Tidak! Aku ingin pulang ke kos saja dan beristirahat. Aku sudah baik-baik saja," tolak Nabila.


Ucapan Nabila membuat Gara tidak habis pikir dengan Nabila. Keadaannya beberapa saat lalu membuatnya ketakutan setengah mati dan dia justru mengatakan jika dirinya baik-baik saja.


"Lo tadi pingsan, Nab. Bagaimana bisa bilang kalau lo baik-baik saja?" Ucapan Gara bernada kesal bercampur khawatir.


Nabila merenggangkan pelukan Gara dan menatapnya penuh arti. Tangan kanannya mengulur ke depan dan memegang pipi Gara. Pria sangar itu terlihat sangat khawatir.


"Aku pingsan bukan karena dianiaya oleh orang yang mengunci pintu kamar mandi tapi aku pingsan karena perutku mulas dan udara sangat pengap," jelas Nabila.


"Elo diare? Makanya itu kita harus pergi ke dokter. Bagaimana kalau lo dehidrasi dan mengalami keadaan yang lebih buruk lagi?"


Nabila bingung untuk menjelaskan kepada Gara. Sejak tadi dia menahan diri untuk tidak mengatakannya karena malu. Terpaksa dia akan jujur agar Gara tidak lagi mengkhawatirkannya.


"Aku lagi datang bulan, Ra. Akan sembuh sendiri setelah beristirahat. Aku ingin pulang ke kos saja."


Penjelasan Nabila akhirnya membuat Gara mengerti. Wajahnya tampak malu-malu dan gengsi. Lagi-lagi imagenya sebagai bad boy kembali menguap di hadapan Nabila.


Keduanya akhirnya putar balik dan pergi ke kos Nabila. Gara mengambil jalan yang berbeda dengan yang biasa dilalui oleh Nabila agar bisa memarkirkan mobilnya di belakang kos. Dengan begitu mereka tidak perlu berjalan cukup jauh.


"Kita akan ke mana?" tanya Nabila terlihat bingung.


"Ke kos," jawab Gara singkat.


Ekspresi wajah Nabila masih tampak bingung. Walaupun begitu, dia tidak banyak bertanya lagi. Gara yang merupakan penduduk asli kota ini tentu lebih tahu setiap sudut wilayah itu.


Mobil Gara berhenti di sebuah tempat yang menurut Nabila cukup asing. Setelah memarkirkan mobil di sebuah tanah kosong, mereka turun dan berjalan menuju ke kos Nabila.


Tubuh Nabila masih sempoyongan dan tidak bisa berjalan dengan normal. Tanpa meminta pendapatnya, Gara langsung mengangkatnya dan membawanya berjalan.


"Ra, aku malu. Orang-orang pasti berpikir yang tidak-tidak tentang kita." Nabila menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Abaikan saja!" Gara terlihat acuh.


***


__ADS_2