
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Nabila selain menunggu dan menunggu. Rasa lelah dan lapar membuatnya merasa sangat mengantuk.
Dia lalu menoleh ke arah tempat tidur tambahan yang ada di pojok ruangan. Nabila berjalan menuju ke sana dan menunggu Gara datang. Untuk mengusir kebosanannya, dia membuka-buka buku yang ada di dalam tasnya.
Sebisa mungkin dia mencoba agar tetap terjaga. Akan tetapi, rasa kantuk lebih berkuasa dan membuatnya tertidur sambil memegang buku.
Kira-kira pukul 9 malam Gara baru datang. Matanya mengedar ke sekeliling untuk mencari di mana keberadaan Nabila. Dia menghembuskan nafas lega ketika mendapati kekasihnya itu sedang terlelap.
Posisi tidurnya terlihat tidak nyaman. Jika dibiarkan terlalu lama maka sakit-sakit di badannya.
"Astaga. Posisi tidur macam apa ini? Kira-kira dia bangun nggak, ya, kalau aku benerin?" Gara berbicara pada dirinya sendiri.
Setelah berpikir untuk beberapa saat, dia memutuskan untuk membetulkan posisi tidur Nabila. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati dan berharap agar Nabila tidak terbangun. Namun, baru saja dia menyentuhnya, Nabila sudah membuka matanya.
Secara reflek Nabila mendorong tubuh Gara dan membuatnya terjengkang.
"Aww ... aduh!" Gara meringis kesakitan ketika pantatnya menghantam lantai dengan begitu keras.
Sebenarnya Nabila ingin menertawakannya tetapi melihatnya benar-benar kesakitan semua itu urung dia lakukan.
"Udah, jangan manja! Lagian siapa suruh ngagetin orang tidur," omel Nabila.
Tidak ingin terlihat cengeng, Gara pun segera bangkit dan menyembunyikan rasa sakitnya. Kemudian, dia duduk di samping Nabila masih dengan ekspresi wajah yang kesakitan.
"Terima kasih sudah menjaga mama. Aku merasa sangat lapar, bagaimana kalau kita pergi keluar untuk mencari makan di dekat-dekat sini?" ajak Gara.
"Aku sih tidak masalah tetapi siapa yang akan menjaga nama kamu?" tanya Nabila.
Gara memperlihatkan sebuah lengkungan manis di wajah tampannya. "Pelayan yang biasa menjaga mama sudah siap di ruangan sebelah."
Ternyata Gara juga menyediakan ruangan khusus untuk beristirahat bagi pelayan yang bergantian menjaga ayah dan ibunya.
'Dasar orang kaya! Jadi selama ini dia membayar satu ruangan lagi untuk para pelayan. Ini adalah kamar VVIP, pasti sangat mahal. Sudah cukup lama orang tua Gara mengalami koma. Biayanya tinggal dikalikan saja.' Nabila tidak habis pikir dengan gaya hidup para orang kaya.
Tidak ada gunanya untuk berdebat. Perutnya yang lapar tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Nabila pun setuju untuk pergi makan bersama Gara.
Tas sekolahnya dia bawa serta karena setelah ini dia ingin langsung pulang ke kosan. Bukan karena tidak peduli atau masih marah pada Gara tetapi memang karena Nabila tidak nyaman jika tidak beristirahat di tempatnya sendiri.
Di depan rumah sakit banyak sekali pedagang kaki lima dan warung tenda yang berjualan di malam hari. Berbagai jenis makanan pun tersedia di sana. Anehnya, pengunjung yang datang bukan hanya orang-orang yang berasal dari rumah sakit.
Gara terlihat bingung untuk memilih makanan yang akan mereka beli. Sebenarnya dia tidak memiliki selera khusus tetapi terkadang memiliki keinginan untuk memakan sesuatu.
"Dari tadi kita muter-muter terus, jadi makan enggak, sih?" tanya Nabila dengan wajah yang terlihat kesal.
"Ah, iya, maaf. Gue bingung aja mau makan apa. Lo mungkin ada ide?" tanya Gara sambil melirik ke arah Nabila.
__ADS_1
Nabila melihat ke sekeliling dan mencari tempat yang paling ramai. Biasanya tempat makan yang enak tidak akan pernah sepi pengunjung. Dia memutar tubuhnya hingga menemukan tempat yang dia cari.
Sebuah tenda bertuliskan "Nasi Goreng Pak Udin" cukup menarik perhatiannya.
"Bagaimana kalau kita makan di sana!" tunjuk Nabila.
"Boleh." Gara mengangguk setuju.
Sudah lama dia tidak makan nasi goreng.
Gara mencoba meraih tangan Nabila untuk digandeng tetapi Nabila menolaknya secara halus dengan berpura-pura membetulkan rambutnya yang berantakan. Sebenarnya Gara tahu jika Nabila sengaja melakukannya tetapi dia tidak ingin memaksa.
'Gue harus bersabar. Mungkin saat ini Nabil belum bisa memaafkan gue sepenuhnya. Sepertinya dia sudah tidak semarah tadi dan gue harusnya bersyukur.' Gara berjalan sambil terus menatap ke arah Nabila.
Makan malam mereka diakhiri dengan perpisahan. Nabila pulang ke kosan dengan diantar oleh Pak Iman sedangkan Gara kembali ke rumah sakit untuk menjaga orang tuanya. Selain itu, ada juga hal lain yang sedang dia tunggu di sana.
Pagi-pagi di rumah sakit,
'Aku nggak akan menyerah. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bagian harta Gerald. Bajingan kecil itu sudah membunuh bayiku. Tunggu saja pembalasanku! Aku bersumpah akan menghancurkan keluarga kalian!' Laeli mencengkeram selimutnya dengan begitu kuat.
Penampilannya sangat berantakan. Rambutnya acak-acakan dengan riasan yang mulai memudar. Ingin rasanya dia keluar dari ruang perawatannya saat ini juga tetapi kondisi tubuhnya belum memungkinkan.
Setelah dikuret dia harus beristirahat setidaknya sehari semalam. Sempat terpikir olehnya untuk menghubungi Jasson tetapi rasanya tidak mungkin. Di rumah sakit ini banyak sekali orang-orang Gara yang tentunya selalu mengawasi gerak-geriknya.
Di balik sifat jahatnya, Laeli juga memiliki sisi keibuan dalam dirinya. Air matanya mengalir tanpa permisi setiap kali dia mengingat bahwa dia telah kehilangan bayinya. Salahnya, dia tidak mengetahui lebih awal tentang kehamilannya.
"Jasson, maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga anak kita dengan baik." Laeli kembali menangis.
__ADS_1
Bayang-bayang kebahagiaan yang melintas dalam ingatannya memupuk rasa dendam yang mendalam pada Gara. Dia ingin segera sembuh dan membuat perhitungan dengannya.
Di ruangan lain,
Keadaan Sarah terus membaik. Tidak ada cacat fatal yang dialaminya setelah kecelakaan. Berbeda dengan kondisi Gerald yang cukup parah.
Kaki dan tangannya belum bisa digerakkan. Dokter yang menanganinya belum bisa memastikan apakah patah tulang itu berakibat struk permanen atau hanya sementara. Meskipun sudah sadar dari komanya, Gerald harus mendapatkan suntikan penenang agar dia bisa beristirahat lebih banyak.
Sarah duduk dengan bersandar ketika Gara baru kembali dari kantin rumah sakit untuk sarapan. Selama ada Laeli di sana, dia ingin benar-benar menjaga ibunya.
"Apakah kamu tidak pergi ke sekolah hari ini?" tanya Sarah.
"Tidak." Seperti biasa, Gara hanya menjawab dengan singkat.
"Hmm ... mama sudah baik-baik saja. Tidak masalah jika kamu pergi ke sekolah. Lagi pula ada banyak orang yang menjaga mama di sini," bujuk Sarah.
Lagi-lagi Gara menggeleng.
"Ya, sudah. Duduklah di sini temani mama!" Sarah menunjuk tempat duduk kosong yang berada di sisi ranjangnya.
Gara melakukan apa yang diminta mamanya. Sejujurnya, saat ini dia sedang gelisah untuk menantikan hasil laporan dari dokter tentang hasil test DNA anak kandung Laeli. Diam-diam dia melakukan penyelidikan untuk memastikan jika anak yang pernah dikandung sekretaris ayahnya itu bukan saudara kandungnya.
\*\*\*
__ADS_1