
Nayla tidak tahu harus menjawab apa karena memang bukan dia yang melakukannya. Dia tidak menyangkal terlalu iri pada Nabila dan menyekapnya di kamar mandi tetapi untuk masalah penculikan ini dia tidak tahu siapa yang melakukan.
"Gue nggak tahu soal penculikan Nabila. Emang gue akui kalau yang mengunci dia di kamar mandi beberapa waktu lalu itu adalah gue tapi gue hanya sekedar mengerjai saja. Lo bisa bunuh gue kalau terbukti gue terlibat dalam penculikan ini. Sumpah gue nggak mungkin segila itu." Nayla mengatakan apa yang sebenarnya.
Gara yakin jika Nayla tidak berbohong kali ini. Meskipun dia sangat membenci Nabila, dia tidak akan seberani ini.
Gading dan beberapa polisi yang ikut mendengarkan ini pun merasa jika Nayla tidak berbohong tetapi mereka tidak ingin melepaskannya dari kejahatan yang dilakukannya sebelumnya.
"Ok! Sebelum Nabila ditemukan, elo tetap akan menjadi tersangka juga. Gue sudah mengantongi bukti tentang kejahatan lo sebelumnya," ancam Gara sebelum memutuskan panggilan telepon secara sepihak.
Sebelum menemukan titik terang, Gading dan yang lainnya akan terus melakukan pencarian. Dia kembali meminta Gara untuk memikirkan kemungkinan siapa orang yang tega menculik Nabila.
Meskipun kecil sekali kemungkinannya, dia berpikir untuk menyelidiki Grup Dragon. Saat ini dia sudah bukan lagi anggota mereka dan keluar dengan cara yang tidak baik.
__ADS_1
'Gue nggak mungkin menanyakan tentang Nabila secara langsung kepada mereka. Oh, iya, gue kan punya nomor rumah mereka. Gue bisa berpura-pura jadi orang lain dan menanyakan apakah mereka ada di rumah atau tidak.' Muncul ide baru di kepala Gara.
Gara menelepon rumah Daud, Kenzi dan Birawa secara bergantian. Asisten rumah tangga mereka mengatakan jika mereka sedang berada di rumah. Ini artinya mereka tidak mungkin melakukan penculikan terhadap Nabila.
Pencarian menemui jalan buntu. Gara tidak lagi memiliki pandangan yang mengarah pada orang yang menculik Nabila. Untuk mengisi tenaga, Gading membawanya dan rekan-rekannya untuk makan di sebuah rumah makan kecil yang paling dekat dengan tempat mereka saat ini.
Gara terlihat sangat sedih dan hanya mengaduk-aduk saja makanannya. Otaknya tidak bisa berhenti untuk memikirkan keberadaan Nabila.
"Maafkan saya, Pak. Saya tidak bisa menjaga Nabila dengan baik." Gara berbicara dengan suara tercekat.
Gading menyentuh tangan Gara untuk memberinya semangat. "Kamu tidak perlu merasa bersalah. Makanlah, kita akan kembali melakukan pencarian. Nabila anak yang baik, Allah pasti akan selalu melindunginya."
Ucapan Gading membuat Gara tersadar jika dirinya masih memiliki Tuhan. Selama ini dia terlalu arogan dan tidak pernah berdoa. Ini kali pertamanya dia berdoa dan memohon untuk segera ditunjukkan jalan keluar bagi mereka.
__ADS_1
Mereka sudah selesai makan tetapi masih beristirahat di sana sambil mengatur rencana. Pelacakan yang dilakukan oleh ahli IT di kantornya mulai menunjukkan hasil. Meskipun belum pasti, mereka memperkirakan titik lokasi yang didapat dari ponsel Nabila.
"Apakah kamu tahu tentang tempat ini?" tanya Galih pada Gara.
Dia menunjukkan peta lokasi yang dikirimkan oleh rekannya. Meskipun belum jelas tempatnya tetapi Gara tahu tentang jalan itu.
"Sepertinya ini adalah jalan menuju ke sebuah klub malam. Apakah seseorang yang menculiknya tinggal di sekitar tempat itu?" tanya Gara belum mengerti maksud dari pertanyaan Gading.
"Bisa jadi."
Mereka pun berangkat ke jalan itu atas petunjuk Gara. Penculik yang begitu licik itu telah mematikan ponsel Nabila sehingga pelacakan yang dilakukan oleh ahli IT tidak akurat. Namun, mereka tidak menyerah dan terus melakukan pencarian.
***
__ADS_1