Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 10


__ADS_3

Sudah seharusnya seorang Dokter bersikap ramah pada pasiennya. Itulah yang dilakukan Aqmal saat ini. Bahkan tak satupun pasiennya duduk diam saat memeriksa kesehatan mereka. Pertanyaan pertanyaan konyol keluar begitu saja dari mulut mereka. Mau heran, tapi itu nyata terjadi. Apa salah, seorang dokter yang dibilang tampan dan cool menjadi Duda? Salah ya? Ya tidak. Lalu dimana letak kesalahan itu? Entahlah, hanya Lisnawati dan sang pencipta yang tahu.


"Mal, bisa saya duduk di sini?" Diana. Pengelolah Apotek sekaligus teman SD nya, meminta izin lebih dulu sebelum duduk di kursi khusus pasien.


"Silahkan, Diana" balas Aqmal.


Diana pun duduk, ia melihat pintu sejenak. Takutnya Savana dan Farul ada di depan klinik. Merasa tidak ada orang selain dia dan Aqmal, wanita itu memulai percakapan.


"Kau jatuh cinta kan pada adik mu itu kan?" Diana langsung ke intinya.


"Maksud kamu?" Aqmal berpura pura tak paham walau sebenarnya dia tahu apa maksudnya.


"Sudahlah Aqmal. Aku rasa kau paham maksudku. Kenapa. Kenapa kau belum melamarnya? Apa kau tunggu orang lain melamarnya lebih dulu? Hei, sekarang ini banyak pernikahan yang terjadi karena perjodohan. Kau mau dia dilamar orang lain?"


"Kalau kamu masih ragu, biar aku yang datang melamarnya untuk adikku" kata Diana lagi.


Aqmal yang tadinya duduk bersandar di kursi, pria ia membenarkan sandarannya. Menatap lekat-lekat wanita yang bernama Diana.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapan ku?" ketus Diana. Walau pada dasarnya dia hanya menguji Aqmal.


"Diana, kau tahu betul kan bagaimana aku akhir-akhir ini. Aku seperti bocah ingusan yang baru mengenal cinta. Dia membalas pesanku saja aku bahagia, apalagi bertemu dan bercengkrama dengannya. Aku mencintainya dan ingin menjadikannya istriku. Tapi sekarang aku bingung. Lis kembali lagi dan dia seperti amnesia. Dia hadir kembali bersama seorang bayi. Dan aku tidak diperbolehkan melihat anak itu. Bagaimana jika itu anakku? Apa Fauziah bisa menerimanya?"


Aqmal mengusap wajahnya dengan kasar. Dia ingin memastikan kebenaran tentang bayi laki-laki yang bernama Fitra. Setelah itu baru dia memikirkan cara untuk mengungkapkan perasaannya pada gadis kecilnya.


"Terserah kau saja. Yang pasti, bulan depan adikku mengambil cuti. Dia mau lihat Fauziah secara langsung" ucap Diana. Dia berdiri dan keluar meninggalkan Aqmal. Wanita cantik itu tersenyum kecil.


Diana menemui tiga adik kecilnya, siapa lagi kalau bukan Fauziah, Savana dan Farul. Fauziah baru saja pulang dari Warung Mas Juki, penjual martabak dan terang bulan.


"Savana, Farul, kalian kerja sampai jam 9 ya. Nanti kalau masa magangnya udah berakhir kalian kembali ke jadwal awal" ujar Diana.


"Apa hanya kami berdua, Bu. Fauziah?" tanya Savana.


"Fauziah tetap jam 10. Karena dia pulangnya sama Dokter Aqmal" jelas Diana. Farul dan Savana mengangguk paham, begitu juga dengan Fauziah. Sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada Fauziah.

__ADS_1


Savana dan Farul pamit pulang, sementara Fauziah mengisi buku stok sebelum jam sepuluh tiba. Di Apotek 24 jam, tinggal Fauziah, Diana dan Dokter Aqmal. Yang namanya Apotek 24 jam, maka bukanya juga 24 jam. Ada pegawai yang memang dinas malam mulai jam 10 malam sampai pagi.


Tiba saatnya Fauziah dan Dokter Aqmal pulang. Fauziah mengambil tasnya, lalu mengeluarkan kunci mobil, berhubung pemilik mobil masih berada di dalam klinik dan hendak keluar.


"Kak Diana, Kak Ojan, Kak Gun, aku pamit pulang ya. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Aqmal pamit pulang setelah Fauziah. Duda keren itu menghampiri Fauziah yang menunggu di tempat parkir.


"Kita pulang naik mobil" kata Aqmal.


"Lalu bagaimana dengan motor ku? Besok mau ke Puskesmas bagaimana?" tanya Fauziah memelas.


Aqmal geram, ingin memeluk gadis kecil yang sepertinya lelah.


"Naik mobil, Ziah. Kan kita satu tempat kerja" kata Aqmal mengingatkan.


Fauziah masuk ke mobil duduk di kursi belakang. Aqmal pun tak protes, dia membiarkan gadis itu memilih tempat ternyaman nya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membiarkan Fauziah yang sebentar lagi akan terlelap.


"Kakak, bangunin aku ya kalau udah sampai" pinta Fauziah. Ia menyandarkan kepalanya di kursi.


"Iya"


Dalam perjalanan, ponsel Aqmal berdering. Aqmal menjawab panggilan dari mantan istrinya. Fauziah yang belum hanyut dalam mimpi, tak sengaja mendengar percakapan antara Aqmal dan mantan istrinya. Jujur, Fauziah cemburu. Namun dia bisa apa. Dia harus menerima kenyataan, kenyataan bahwa Aqmal adalah pria yang pernah memiliki istri. Terlebih lagi dia mendengar Aqmal menanyakan keadaan Fitra. Fauziah menebak, Fitra adalah anak Aqmal dan Lisnawati.


"Lis, nanti baru dilanjut ya. Aku udah sampai di rumah" ucap Aqmal.


"Iya, Bee"


Aqmal menoleh kebelakang, melihat Fauziah yang ketiduran. Tanpa Aqmal sadari, Fauziah mendengar semua obrolannya dengan Lis.


"Kakak, udah sampai ya?" tanya Fauziah berpura-pura.

__ADS_1


"Iya, sudah" balas Aqmal. Aqmal keluar dari mobil, begitu juga dengan Fauziah.


"Kakak, makasih untuk tumpangannya" ucap Fauziah lagi. Segera ia masuk ke rumah. Di dalam, Bunda Santi sedang nonton.


"Assalamulaikum, Bunda" Fauziah mengucap salam. Ia menghampiri Ibunya yang menunggunya pulang kerja.


"Waalaikumsalam. Ziah, temani Bunda makan ya. Tapi ganti pakaian mu dulu"


"Loh, Kok Bunda belum makan sih. Jangan tahan lapar, Bunda. Kalau Bunda sakit gimana" protes Fauziah.


"Bunda udah makan, tapi sedikit. Kebetulan kamu udah pulang jadi Bunda ajak kamu" ujar Bunda Santi berbohong. Sebenarnya wanita itu belum makan. Dia sengaja menunggu putrinya pulang kerja.


"Ya sudah, aku ke kamar sebentar"


Fauziah naik ke kamarnya, ia melihat Aqmal berdiri di balkon sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Tak ingin menyakiti perasaannya, Fauziah langsung mengganti pakaiannya. Kemudian menghampiri Bunda nya di lantai satu.


"Bunda, ayo kita makan"


"Ayo, Sayang"


Bunda Santi dan Fauziah memulai makan malam. Sementara makan, Bunda Santi membuka percakapan.


"Ziah, tadi orang tuanya David menelepon Bunda. Katanya sih mereka mau datang. Mau lamar kamu. Bunda sih setuju kamu menikah muda. Dengan begitu, kamu tidak perlu bekerja sampai tak mengenal lelah" jelas Bunda Santi.


Fauziah terdiam sesaat sebelum kembali mengunyah makanan yang sudah terlanjur ia kunyah sebelumnya.


"Bunda serahin semuanya ke kamu. Maaf, Bunda membahas ini sekarang"


"Ngak Papa, Bunda ngak salah" balas Fauziah.


Usai makan, Fauziah mengangkat piring kotor dan meletakkannya di wastafel. Kemudian naik ke kamarnya. Ia berdiri di depan jendela, menatap jauh Aqmal yang masih bercengkrama dengan lawan bicaranya di telepon.


"Mungkin inilah jawaban atas doaku. Allah mendatangkan seseorang yang benar-benar menginginkan aku. Dan menjauhkan ku dengan Kak Aqmal lewat mantan istrinya" batin Fauziah.

__ADS_1


__ADS_2