Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 35


__ADS_3

Aqmal menunda malam pertamanya tetapi tidak dengan ciuman panasnya. Ciuman mesra serta permainan nakal itu tetap terjadi. Meninggalkan bekas merah di sebagian tubuh istrinya.


Tak memberi ruang untuk Ziah bernafas, Aqmal didorong oleh Ziah. Pria itu terkekeh pelan, dia menyadari tindakannya yang brutal.


"Aku masih mau hidup!" protes Ziah. Ia menyeka bibirnya yang basa. Merasa kesal, ia tidur membelakangi Aqmal, suaminya. Aqmal terkekeh. Pria itu memeluk istrinya dari belakang.


"Maaf" lirihnya pelan. Belum juga dimaafkan, Aqmal kembali berulah.


"Hahahahahaha" tawa Fauziah pecah. Tangan nakal Aqmal tak henti-hentinya menjelajah. "Abang .. geli tahu .."


Aqmal menghentikan kegiatannya.


"Berbalik menghadap ke sini" titahnya tersenyum.


Fauziah menurut. Pipinya memerah melihat Aqmal yang menatapnya. Merasa malu, wanita itu memeluk erat suaminya, menenggelamkan wajah bulatnya di dada bidang sang suami.

__ADS_1


Melihat istrinya malu, Aqmal terus menggodanya. Gesekan nakal Ziah membuat benda tumpul Aqmal mengeras.


"Sial!!" Aqmal mengumpat. Dia mengibas selimut putih yang menutupi tubuhnya, bergegas turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Melihat Aqmal, Fauziah mengerutkan keningnya penuh tanya.


Cukup lama di dalam kamar mandi, akhirnya Aqmal keluar mengenakan handuk putih yang dililit di pinggangnya.


"Bukannya tadi Abang sudah mandi?" Fauziah menaik turunkan alisnya penuh tanya.


Aqmal terkekeh. "Kau ini, seperti anak kecil saja"


Kening Fauziah kembali menukik naik. Tak ingin bertanya lagi, dia menarik bed cover menutupi sebagian tubuhnya. Lupa membaca doa tidur, dia kembali duduk dan mulai membaca doa tidur. Setelahnya, ia mulai mengistrahatkan tubuhnya. Saat Aqmal kembali, dia melihat Fauziah sudah terlelap.


Tak ingin mengganggu tidur nyenyak istrinya, Aqmal duduk di tepi ranjang, membenarkan baby hair sang istri, dan tak lupa mendaratkan ciuman singkat di sana. Merasa mulai mengantuk, ia kembali merebahkan dirinya di samping sang istri.


Pagi setelah sarapan pagi, tangis pecah terdengar di ruang keluarga. Fauziah memeluk Ibunya, Mufidah, yang akan melakukan penerbangan di siang hari nanti. Lama tak bertemu, dan sekali bertemu, hanya beberapa hari saja. Sungguh rindu itu akan kembali menyiksanya.

__ADS_1


"Ibu ... tolong jaga kesehatan Ibu dengan baik" ucap Fauziah terisak. Ia memeluk erat Ibunya.


Melerai pelukannya, berusaha mengukir senyum, berusaha tegar dihadapan keluarga, Mufidah melawan genangan air mata yang siap untuk jatuh. Sekuat apapun dia berusaha, genangan itu tetap saja tumpah saat manik matanya menangkap kesedihan di bola mata sang putri.


Fauziah tak kuasa menatap sang Ibu, dia memejamkan mata dan membiarkan bulir bening itu mengalir semaunya.


Mufidah menyeka air mata putrinya, mencium pipi kiri dan kanan sang putri, dan tak lupa mencium puncak kepalanya. Harusnya perlakuan itu dilakukannya sejak dulu, tapi mau diapa, garis tangan anak dan Ibu itu bertolak jauh. Keduanya harus menjalani hari-hari tanpa komunikasi lagi.


"Maafkan Ibu, Ziah ..." tangis Mufidah kembali pecah. Dia masih ingin bersama putrinya tetapi panggilan mendadak di waktu subuh tadi membuatnya harus mengambil penerbangan di siang hari.


"Bila Ibu ingin mendapat maaf dariku, maka jagalah kesehatan Ibu dengan baik. Dan hiduplah dengan bahagia bersama mereka. Jangan membebani diri Ibu dengan rasa bersalah" ucap Fauziah terisak.


Mufidah mengangguk. Dia kembali memeluk putrinya. Lalu memeluk Nenek, Bibi Nova dan terakhir Bunda Santi.


Dalam pelukan Mufidah, Bunda Santi membisikan sesuatu. Sepertinya ada hal serius yang hanya mereka berdua yang tahu.

__ADS_1


Nenek Ziah, Bibi Nova dan Fauziah terus terisak. Sementara Paman Zaki dan Aqmal hanya duduk diam menyaksikan drama wanita.


Setelah melewati banyak drama, Mufidah ke tetangga untuk pamit pulang. Pesan yang sama dari tetangga untuk Mufidah. Apa lagi kalau bukan menjaga kesehatan dan berbahagialah bersama keluarga barunya.


__ADS_2