
Seperti dugaan Aqmal. Dua wanita super heboh itu pasti akan menceritakan kisah mereka selama berada di Makassar. Dan benar saja, keduanya heboh berdua. Fauziah dan Muli saling tatap, mereka terkekeh melihat tingkah wanita tua itu.
"Apa kau tahu, aku hampir saja jatuh di Mall" ujar Bunda Santi tertawa. Dia menertawai dirinya yang kampungan. Biasa, di Bacan tidak ada Mall. Jadi tidak ada yang namanya eskalator
"Hahahahaha. Aku tahu, San. Tapi aku ngak mau tertawa, takut kamu malu" jelas Bunda Sakila.
"Kau masih ingat pria yang ngak sengaja nabrak aku? Masa iya dia kedipin matanya. Dikiranya aku janda kali ya" Sambung Bunda Sakila tertawa.
"Andai Fikram ikut, bisa aku pastikan, pria itu pasti babak belur" timpal Bunda Santi.
"Ziah, kamu kenal David kan, teman masa kecil kamu yang sekarang tinggal di Semarang. Kemarin Ibunya nanyain kamu. Dengar-dengar sih mereka mau jodohkan kamu sama David" jelas Bunda Sakila mengganti topik pembicaraan.
Aqmal yang sementara menyetir, mengerem mobil secara tiba-tiba, membuat keempat wanita yang ada di dalam mobil berteriak.
"Aqmal!! apa kau sudah bosan hidup?!" teriak Bunda Sakila.
"Bunda sih! Ngapain bahas itu di mobil. Jadinya kepalaku bersalaman sama kursi" ucap Muli kesal.
"Aqmal, hati-hati, Nak. Tante masih ingin hidup!!" timpal Bunda Santi memegang kepalanya. Hanya Fauziah yang duduk diam tanpa bersuara. Gadis itu mencoba mengingat pria yang bernama David.
"Maaf, Bunda, Tante. Tadi tuh ada kucing yang tiba-tiba lewat" ujar Aqmal. "Maafkan aku kucing, aku melibatkan mu dalam kebodohan ku" batinnya.
Setelah hampir stenga jam berada dalam perjalanan pulang, akhirnya mereka tiba di rumah. Fauziah dan Muli turun dari mobil, begitu juga dengan Bunda Santi dan Bunda Sakila. Bunda Santi mengambil koper kecilnya dan tak lupa tas renjani kecil yang didalamnya ada oleh-oleh dari Makassar.
"Sakila, besok pagi baru aku ke rumah mu. Sekarang aku mau istirahat dulu" kata Bunda Santi. Dia mengajak putrinya pulang ke rumah bersamanya. Berhubung orang tua Fauziah sudah kembali, maka tak ada alasan bagi Muli untuk bermalam di rumah Fauziah.
Bunda Santi dan Fauziah kembali ke rumah mereka. Begitu juga dengan Bunda Sakila dan Muli yang memilih masuk ke dalam rumah tanpa menurunkan koper yang berisi oleh-oleh. Terkecuali Aqmal, pria itu masih di dalam mobil. Dan ingin kembali ke kota bertemu mantan kekasihnya. Merasa apa yang dikatakan Ibunya tadi tak bisa dibiarkan, ia pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Sekali lagi, Aqmal tak bisa tenang. Fauziah akan dijodohkan dengan David? Oooh, tidak bisa dibiarkan. Selama Aqmal masih menduda, maka Fauziah tak boleh menikah. Apalagi pria itu adalah David. Pria play boy kelas kakap. Aqmal menghampiri Ibunya di dapur. Muli yang melihat Kakaknya tak kunjung ke Kota, wanita itu mengulas senyum. Dia tahu, kalimat yang tadi hampir mencelakai mereka, sukses membuat Aqmal tidak tenang.
__ADS_1
"Terlalu plin plan sih" Muli menyindir kakaknya.
"Siapa?" tanya Bunda Sakila tak paham.
"Tuh, anak Bunda. Katanya mau kenalkan Kak Ziah pada Mba Lis. Mau bilang, Lis, ini calon istri aku. Tahu-tahunya diperkenalkan sebagai saudara. Kan lembek, Bun" jelas Muli dengan gayanya yang suka menyindir kakaknya.
"Dasar bocil suka mengadu" gumam Aqmal pelan, ia duduk di samping sang Bunda. Bunda Sakila tahu, ucapannya yang tadi cukup membuat Aqmal tak tenang. Memang itu yang Bunda Sakila inginkan, ingin melihat respon Aqmal saat tahu Fauziah akan dilamar pria lain.
"Gimana? Masih mau sok jual mahal? Udah duda kali, Mal. Ngak perlu plin plan. Kalau suka ya tinggal bilang sama Bunda dan Ayah, nanti kami lamar Fauziah untuk kamu" jelas Bunda Sakila.
"Iya, aku tahu aku memang duda. Tapi kan Fauziah masih Sekolah. Lagian, Fauziah ngak mungkin mau sama duda kek aku" ucap Aqmal menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
"Nah, itu kamu tahu. Kalau memang kamu suka Fauziah, ya jadi lah duda yang apabila dinikahi, tidak mengecewakan. Udah bekas, sok jual mahal. Laki-laki lagi" cecar Bunda Sakila.
"Istighfar, Bun" Aqmal mengingatkan.
Perdebatan tak berujung itu sengaja di akhiri oleh Aqmal. Berdebat sama Ibunya sama halnya mengajak perang. Aqmal naik ke kamarnya, berdiri di balkon sambil memainkan ponselnya. Pandangan pria itu teralihkan saat mendengar seseorang memanggilnya. Dan ternyata itu Fauziah yang kebetulan di balkon sedang mengerjakan tugas-tugasnya.
"Masih kerjakan tugas"
"Jangan tidur larut malam, nanti kamu tambah kurus"
"Iya, Kak. Tenang aja, BB ku ngak akan turun sekalipun aku ngak tidur semalaman. Dan ngak akan naik sekalipun aku makan banyak"
Aqmal terkekeh membacanya. "Ya sudah. Semangat!!"
Aqmal masuk ke kamar. Melepas jaketnya lalu ke kamar mandi untuk menggosok gigi sebelum tidur. Belum juga selesai menggosok gigi, ponsel pria itu terdengar berdering. Aqmal mengabaikan sejenak, ia masih menyikat giginya hingga bersih.
"Nggak Papa, Duda. Asal penting masih tampan" gumam Aqmal penuh percaya diri. Ia menyisir rambutnya menggunakan jari-jari tangannya. Ponsel Aqmal kembali berdering, Aqmal keluar dari kamar mandi meraih gawai nya, lagi-lagi Lisnawati yang menghubunginya.
__ADS_1
"Aqmal, bisa kau pinjamkan aku uang?"
"Kirim nomor rekening mu"
"Iya"
Tut tut tut...
Panggilan telepon diakhiri oleh Lis, beberapa puluh detik kemudian, pesan Whatsapp masuk, nomor rekening atas nama Aqmal Malik ada di isi pesan. Aqmal terdiam, kenangan dulu kembali hadir. Dimana dia dan Lisna ke Bank membuat tabungan untuk Lisna yang kala itu KTPnya hilang. Sementara wanita itu merajuk dibuatkan buku tabungan. Aqmal yang begitu mencintai istrinya, dia membujuknya dengan berkata.
"Ayo kita ke Bank, nanti pakai KTP ku saja, kamu yang pegang buku dan ATMnya"
"Kukira Norek ini ngak digunakan lagi" gumam Aqmal. Aqmal menyalin nomor rekening lalu mengcopy pastenya di App BRImo bagian transfer. 500 ribu, angka yang cukup untuk uang belanja.
"Maaf, aku hanya bisa kirim 500 ribu"
"Ngak Papa, harga susu dan popok nggak sampai 500 ribu"
Aqmal terdiam setelah membaca balasan pesan dari Lis. Susu dan popok? Apa maksudnya itu? Apa iya Lis punya anak. Anak siapa? Anak Aqmal atau?
"Kamu sudah punya anak?"
"Iya, namanya Fitra"
"Kamu sudah menikah?"
Lis tak membalas pesan dari Aqmal. Dia hanya membaca dan membiarkan pesan itu berlalu. Sementara Aqmal semakin penasaran.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya, Kak. Katakan padaku bila ada typo. Dan kataku padaku bila kalimatnya tak dapat dimengerti 🤗