Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 22


__ADS_3

Di luar hujan deras, Aqmal tetap gigih ingin menemui mantan istrinya. Menanyakan kebenaran tentang rekaman tadi. Aqmal masih belum bisa mempercayai kenyataan yang ada. Lisna tidak mungkin mengkhianatinya. Tidak mungkin, Lisna tidak mungkin melakukan itu. Aqmal masih ingat, bagaimana dia memperlakukan Lisna di kala itu. Dia memperlakukan wanita itu seperti ratu. Tidak membiarkannya bekerja, uang bulanan selalu lebih, pakaian dan alat meka up selalu Aqmal belikan. Bahkan Aqmal tak membiarkannya terjun ke dapur. Apa lagi? Apa yang kurang dari pria itu. Atau kah, karena Aqmal jarang di rumah? Bukankah Aqmal pernah resign hanya untuk membuat istrinya bahagia? Jika benar perceraian itu karena orang ketiga, maka Lisna tergolong orang-orang yang tidak pandai bersyukur.


Mobil yang dikendarai akhirnya sampai di kontrakan. Aqmal segera turun untuk menemui Lisna. Kontrakan itu nampak gelap, seperti rumah yang tidak berpenghuni. Aqmal mengetuk pintu namun tak ada sahutan dari dalam. Berulang kali dia mengetuk pintu tapi lagi-lagi tak ada sahutan.


"Mas, nyari siapa?" Salah seorang tentangga menghampiri.


"Wanita yang ngontrak di sini pergi ke mana ya, Bu?" tanya Aqmal.


"Wanita gila itu yang Mas nyari. Dia udah pindah, ngak tahu kemana" jelas si tetangga.

__ADS_1


"Wanita gila" batin Aqmal. "Makasih ya, Bu" ucapnya. Aqmal berdiri cukup lama sambil menghubungi Lisna. Berulang kali dia mencoba namun hasilnya nihil. Aqmal kembali ke mobil.


"Lis, sepuluh bulan aku bertanya pada diriku sendiri. Apa salahku. Apa yang kurang dariku. Aku bekerja untukmu, memenuhi semua kebutuhanmu. Memberimu kebebasan kemanapun kamu mau, dan hanya satu laranganku waktu itu, melarangmu bekerja" Ucap Aqmal. Ia menangis sesegukan di mobil.


"Lis, aku yakin, kau bukan wanita yang seperti itu. Apapun alasanmu, hatiku telah berlabu pada orang lain. Semoga kau dipertemukan dengan laki-laki yang bisa membuatmu betah dalam berumah tangga" gumam Aqmal.


Tanpa Aqmal sadari, ada Lis dan Baby Fitra di dalam kontrakan. Wanita itu meminta bantuan tetangga untuk memberi jawaban palsu pada Aqmal. Bukan karena Lis takut pada pria itu, tapi dia sadar, keputusan yang dia ambil kemarin adalah keputusan yang salah. Jujur, Lis tidak tahu Aqmal akan menikah. Karena malam itu, saat Aqmal membawa Lis ke rumah, Aqmal berkata bahwa Fauziah adalah adiknya. Lantas, siapa yang harus disalahkan?


Tahun dimana Lis mengugat cerai Aqmal, hati wanita itu juga teramat sakit. Dia benci dirinya yang tidak pandai dalam menjaga diri. Kala itu Aqmal menjadi relawan di pedesaan selama 6 bulan, di rumah, hanya ada Lis dan ART. Lis diundang oleh salah satu kerabatnya yang kebetulan merayakan acara ulang tahunnya yang ke 27. Dia pun menghadirinya dan tentunya telah mendapatkan izin dari suaminya, Aqmal. Namun sayang, kedatangannya di pesta malam itu menjadi awal kehancuran rumah tangganya.

__ADS_1


Wanita itu, dia diperkosa oleh pria yang tidak dikenalnya. Pagi saat dia terbangun, dia melihat nomor telepon dan ada catatan yang ditinggalkan oleh pria itu.


"Jika kau mencintai suamimu, maka tinggalkan dia. Aku akan membayar perbuatanku dengan menikahimu. Hubungi aku jika kau ingin menikah denganku"


Lis menangis. Dia telah gagal menjaga hak milik suaminya. Harusnya dia tidak datang diacara itu. Namun dia bisa apa, nasi telah menjadi bubur. Saat dia tahu dia hamil, dia dengan terpaksa mengugat cerai suaminya.


Seminggu setelah percaraian, Lis menghubungi pria yang tak lain adalah Ayah dari anaknya. Keduanya menikah secara sederhana. Bukan karena suaminya orang miskin, tetapi Ibu dari suaminya bukanlah wanita yang baik. Wanita paruh baya itu begitu pelit dan perhitungan.


Perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh suami keduanya, ampuh mengobati luka Lis dikala itu. Dia mulai membuka hati untuk suaminya. Sayangnya, suaminya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Meninggalkan Lis dan putra mereka yang butuh sosok Ayah.

__ADS_1


Lis keluar dari rumah. Bukan karena punya laki-laki simpanan, melainkan dia diusir oleh Ibu mertuanya. Aqmal, nama itu yang ada dibenaknya saat itu. Dia membeli tiket pesawat untuk dia dan anaknya. Lewat bantuan teman onlinenya, dia bisa mengontrak rumah di Bacan, tepatnya di Hidayat–Kota dimana Aqmal dilahirkan.


"Maafkan aku" ucap Lis pelan. Air matanya menetes tanpa jedah.


__ADS_2