
Tak ingin melewatkan pernikahan mantan suaminya, Lisnawati membeli kado untuk diberikan pada pria itu. Kini, janda anak satu itu tengah berada di Toko Bandung. Jika ada yang bertanya kenapa hanya di Toko Bandung? Ya karena hanya toko Bandung yang menjual pakaian bermerek di Kota besar minim penduduk.
Kini, Fitra juga sudah besar. Dia mulai belajar jalan dan mulai aktif menyebut kata Mama. Gigi bagian atas ada 3 dan bagian bawah ada 4. Begitu cepat pertumbuhan anak itu. Fitra dan Lis tidak tinggal di kontrakan dulu lagi. Dan Lis, sejak memiliki tekad untuk bekerja, keberuntungan mulai berpihak padanya. Wanita itu mendapatkan pekerjaan di hari saat dia pergi mencari pekerjaan. Berawal dari kerja di toko sembako, hingga beberapa bulan kemudian keluarga Aqmal membantunya. Mereka membangun sebuah toko sembako dan mempercayakan Lisna untuk mengelolanya.
Lis tersenyum kecil melihat baju kimono lingerie seksi yang digantung oleh penjual. Baju yang pantas dikenakan oleh mereka yang berumah tangga.
"Mba, yang itu harganya berapa ya?" tanya Lis sambil menunjuk baju kimono lingerie merah.
"250 ribu Mba"
"Bungkus yang itu yang mba, warna putih" jelas Lis.
Fitra begitu anteng di gendongan Bundanya. Hingga dalam perjalan pulang pun, anak itu masih terlelap. Hanya 7 menit mengendarai motor matic, Lis tiba di Ruko Semangat.
Rasa lelah dan letih membuatnya mempercepat langkah untuk segera istirahat. Hari ini dia sengaja menutup toko karena niatnya nanti malam ke rumah Aqmal. Dia dan Fitra akan bermalam di sana.
.
.
.
__ADS_1
Aqmal dan Bunda Sakila kembali ke rumah. Sementara David dan Muli menemani Fauziah. Bunda Santi, wanita itu kembali ke rumah Nenek. Sekalipun Bunda Santi dan Fauziah tinggal terpisah dengan Nenek, tetapi rumah utama tetaplah rumah utama. Dimana pesta pernikahan akan dilaksanakan di sana. Seperti itulah keputusan yang telah disepakati.
"Zah, sejak kapan kamu suka Kak Aqmal?" tanya David penasaran. Bantal yang seharusnya untuk Ziah, justru diambil olehnya dijadikan boneka peluk.
"Iss ... apaan sih" Fauziah malu. Merah merona wajahnya kembali tergambar.
Muli yang juga penasaran bergelayut di lengan Ziah. "Aku juga pengen tahu" ucapnya manja.
Fauziah menghela napas panjang. Dia mulai mencerikan cerita cinta yang kata orang cinta monyet, yang Alhamdulilah kini menjadi cinta yang terbalas. Begitu lama gadis itu mencintai dalam diam. Akhirnya, keberuntungan berpihak padanya.
"Masya Allah Zah. Kalau aku, udah aku lamar orangnya" ucap Muli dengan entengnya.
"Idih! Apa kamu nggak malu" timpal David terkesan menyindir.
"Bagaiman menurut Kakak?" Muli meminta pendapat pada Ziah.
"Hah?" Fauziah bingung harus jawab apa.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Di rumah Nenek Fauziah. Nenek menangis seraya memukul pelan dada seorang wanita. Dialah Mufida, orang tua kandung Fauziah. Bukan hanya Nenek, Bunda Santi dan Bibi Nova serta para tetangga juga ikut menangis. 15 tahun bukan waktu yang singkat. Pergi meninggalkan Fauziah yang masih kecil.
"Fidaaaa. Sampai hati kamu, Naaaak. Apa karena anak Ibu sudah meninggal jadi kamu lupain Ibu" ucap Nenek menangis histeris dalam pelukan hangat Ibu Mufida.
"Buuu ... M-ma-maafkan aku" ucap Bu Mufida. Tangis histeris membuat wanita paruh baya itu terbata-bata.
"Kau tahu, putrimu selalu menangis saat terbangun di larut malam. Dia menangis, mencarimu di setiap kamar" Ungkap Nene.
Bu Mufida semakin terisak. Dia siap diusir atau dibenci oleh putrinya. "Santi, dimana putriku?" tanya Ibu Mufida disela sela tangisnya.
"Ibu" panggil Ziah. Matanya sebam, sebab, sejak dari rumah dia sudah menangis. Awalny dia enggan untuk bertemu. Dia marah, tapi dia juga sangat merindukan wanita yang melahirkannya.
Tangis terdengar menggema di dalam rumah juga di luar rumah. Banyak Ibu-Ibu yang menangis menyaksikan pemandangan yang langkah. Dua wanita yang lama tak bertemu, kini dipertemukan kembali.
Beberapa puluh menit yang lalu, Fauziah yang mendapatkan info dari Andri dan Ridwan serta Kiki, gadis itu berlari ke rumah neneknya. 15 tahun lamanya dia ditinggalkan. Hampir tiap malam sebelum tidur atau sebelum ke sekolah dia menatap foto Ibu dan Ayahnya. Hampir tiap waktu dia berdoa, kelak, saat dia menikah nanti, Allah membuka mata hati Ibu Mufidah untuk menghadiri dan menyaksikan putri yang dia lahirkan telah membut keputusan dalam hidupnya.
__ADS_1
"B-bu-bunda.. boleh?" Ziah meminta izin pada Bunda Santi sebelum dia memeluk Ibu Mufida.