Inginku Samawa Bersamamu

Inginku Samawa Bersamamu
Episode 41


__ADS_3

Tak ingin menyakiti perasaannya, Lis mengajak putranya jalan-jalan. Biar bagaimanapun, Aqmal tetaplah cinta pertamanya, dan kepergiannya juga karena tak ingin melukai hati pria itu dengan kebenaran.


Mendengar Baby F berceloteh, Lis merasa amat bahagia. Baby F satu-satunya keluarga yang dia miliki, juga salah satu penyemangat hidupnya. Tanpa Baby F, hidup yang Lis jalani akan terasa hampa.


"Ma ... Ma .. Ma ... Ma ..." Baby F terus berceloteh memanggil Mama.


Ibu mana yang tidak bahagia saat buah hatinya sehat dan begitu aktif? Ibu mana yang tidak bahagia saat seorang bayi memanggilnya Mama, Bunda atau Ibu? Tidak ada yang tidak bahagia, semuanya pasti bahagia.


"Fitra mau main sama Bunda ya. Mau ya ..." Lis menggelitik pelan putranya.


Tawa baby F mengalihkan pandangan orang-orang di sekeliling mereka. Bahkan ada yang ingin menggendong Baby F yang begitu gendut hingga gemes dilihat.


"Masya Allah .. Baby F senang ya main sama Bunda? Senang ya ..." Lis kembali merayu putranya.


Baby F memainkan tangannya, perlahan jari jemarinya terulur menyentuh wajah Ibunya, Lis. "Ma–ma–ma–ma ..."

__ADS_1


.


.


Di gardu pandang, Aqmal mengambil gambar istrinya yang menurutnya sayang bila tidak diabadikan. Menatap gambar hasil jepretannya, Aqmal tersenyum lebar. Wanita yang dinikahinya itu benar-benar cantik.


"Abang, kek mana? Cantik nggak?" tanya Fauziah menghampiri. Aqmal memperlihatkan hasilnya.


"Berpose kek manapun, kau tetap cantik" ungkap Aqmal membicarakan kenyataan.


Walau yang memujinya itu sang suami, tetap saja, Fauziah malu dibuatnya. Lagian, Aqmal menjawab sesuai pertanyaan. Bukan menggombal lebay. Lantas, kenapa harus malu?? Tapi ... Fauziah tetaplah Fauziah, rasa malunya suka timbul tenggelam.


.


.

__ADS_1


Mengetahui apa yang membuat Muli merasa malu, Farul melepas jaket hoodie yang dikenakannya. Memberikannya pada Muli.


"Untuk apa?" tanya Muli pelan.


"Untuk kau pakai" jawab Farul.


Muli menyunggingkan senyum. "Nggak perlu, Kak" kata Muli malu-malu.


Farul tetaplah Farul. Pria tak romantis yang kadang suka bersikap acuh tak acuh. Sesuai penolakan Muli, Farul kembali mengenakan jaket hoodie nya.


"Kok dipake lagi!" umpat Muli dalam hati. Maunya dia, Farul membujuknya untuk menerimanya. Tapi mau diapa, Farul hanyalah manusia biasa. Yang kadang bisa menebak sesuatu dengan benar, juga salah.


"Kak Vana, aku ke parkiran dulu" Muli pamit seraya beranjak dari tempatnya duduk. Perjalanannya kali ini tak memiliki kesan bagus. Andai tadi David tidak mendesaknya, maka bisa dipastikan, Muli lah wanita yang paling bahagia bisa ke Pantai Derbi bareng idola.


"Boleh aku ikut?" tanya Farul menatap Muli seriusl.

__ADS_1


Muli bingung harus jawab apa. Kenapa Farul mau ikut ke parkiran. Bukankah karena pria itu Muli mencari tempat duduk baru. Lantas kenapa dia juga mau ikut. Bukankah sama saja di bawah pohon kelapa dan tempat parkir, di tempat parkir juga di bawah pohon kelapa.


"Ya sudah" balas Muli pasrah. Sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak padanya.


__ADS_2